Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Hujjah Aswaja · 19 Sep 2023 00:22 WIB ·

Ngaji Thematik :Unggah Ungguh Kepada Kanjeng Nabi


 Ngaji Thematik :Unggah Ungguh Kepada Kanjeng Nabi Perbesar

Oleh : Kiai Hisyam Zamroni

nujepara.or.id – Lisan adalah salah satu sarana komunikasi sosial yang memunculkan akhlaqul karimah dalam proses berbicara satu sama lain.. al Qur’an menggambarkannya begitu indah;

“Ya ayyuhalladzina amanu la tarfa’u ashwatakum fawqo showtinnabiyyi, wa la tajharu lahu bil qowli kajahri ba’dhikum li ba’dhin an tahbatho a’malukum wa antum la tasy’urun”

Ayat diatas, memberikan pemahaman tentang konsep komunikasi “unggah-ungguh” dimana proses komunikasi ditentukan oleh “komunikator” yaitu pemberi pesan dan “komunikan” yaitu penerima pesan sehingga komunikasi yang diinginkan tidak hanya memiliki relasi dan interaksi akan tetapi lebih dari itu memiliki nilai dan sikap diantara keduanya yaitu berupa empati, rasa memiliki, saling memahami dan saling menghormati.

Sebagaimana komunikasi apik yang dicontohkan pada ayat diatas yaitu: bagaimana komunikasi antara para sahabat dengan Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW yang menampakkan “sifat unggah-ungguh”. Komunikasi sahabat ditempatkan pada posisi “rasa hormat”, — ukuran teringannya adalah tidak boleh bersuara lantang atau keras melebihi suara, — kepada seseorang yang patut dihormati yaitu, — Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW.

Komunikasi model diatas, membentuk sebuah karakter dan budaya yang keukeuh; pertama, bagaimana sebaiknya dan seharusnya berkomunikasi dengan seseorang diatasnya seperti orang tua, pemimpin, orang yang umurnya lebih tua, guru, ulama, kyai dan sejenisnya. Kedua, bagaimana sebaiknya dan seharusnya berkomunikasi dengan teman sebaya, teman sejawat dan seterusnya. Ketiga, bagaimana sebaiknya dan seharusnya berkonunikasi dengan yang lebih muda, anak kecil dan sejenisnya.

Sungguh, apa yang digambarkan ayat diatas, adalah fenomena komunikasi yang menghasilkan interaksi sosial yang terstruktur secara apik, yang justru sekarang ini orang lebih cendrung berbicara “keras-kerasan” bahkan “nggembar-nggemboran” mencaci maki sana sini di jalan jalan dengan menggunakan speaker, membully dan lain lain sehingga terkesan kita tidak mampu “mengendalikan” lisan yang memang dianggap sumber fitnah dan malapetaka.

Semoga Gusti Allah SWT menjaga lisan kita sehingga terhindar dari bahaya fitnah dan malapetaka. Aamiin Aamiin Aamiin.

Artikel ini telah dibaca 23 kali

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini
Trending di Budaya