Menu

Mode Gelap
Majlis “kopi” an-Nahdhoh Balekambang Salurkan Ribuan Paket Daging Kurban untuk Warga Jepara dan Kudus Membumikan Tasawuf, Jatman Idaroh Ghusniyah Kecamatan Tahunan Gelar Ngaji Bareng Kitab Minahus Saniyah UNISNU Jepara Luluskan 425 Wisudawan, Rektor Tekankan Intelektualitas dan Akhlaqul Karimah Lantik IPNU-IPPNU Ranting Banjaragung, Ketua MWC NU Bangsri: Fokus Kaderisasi Sejarah NU dan Klaim Para Habaib

Opini · 5 Jun 2020 12:12 WIB ·

Cahaya Shalawat, Cahaya Penyelamat


 Cahaya Shalawat, Cahaya Penyelamat Perbesar

nujepara.or.id – Shalawat Nuril Abshor, begitu dulu saya pernah menerima dari Mbah Siti, garwo Mbah Zaini bin Abdul Qodir bin Ali, salah satu ulama’ yang nyentrik dari Potroyudan Jepara. Bahkan menurut cerita salah satu santrinya Mbah Zaini sering komunikasi dengan Mbah Raden Syahid Sunan Kalijogo. Padahal saat itu antara tahun 1980 an belum ada alat komunikasi seperti sekarang ini.

Kembali ke shalawat Nuril Abshor, Mbah Siti cerita walau beliau sampai setua ini (umur kurang lebih 90 lebih) tapi penglihatan masih jelas dan kalau ngomong pun masih sangat jelas, ya di antaranya wiridannya Shalawat.

“Mbah e iki seg tuwek ya tetep moco Shalawat Gus, Alhamdulillah ya gak tau pedhot moco shalawat,” dawuh Mbah Siti saat saya sowan ke ndalem beliau.

Jauh sebelum ada hingar bingar “Shalawat Thibbil Qulub” yang populer semenjak dilantunkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf Ahbaabul Musthofa dengan kombinasi Syair “Pepali Ki Ageng Selo” Shalawat tersebut ya dikenal Shalawat Nuril Abshor.

Semenjak merebaknya wabah Corona (Kon Rono, kembali ke sana, menuju ke Allah Rasulullah) maka banyak sekali yang melantunkan Shalawat tersebut. Baik Nuril Abshor dan Thibbil Qulub adalah satu nama Shalawat yang pastinya memiliki khasiat dan juga manfaat serta penyelamat.

Dalam kitab “Al Mafaatihus Sa’aadat” halaman 23, salah satu kitab karya Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Atthos, Sholawat ini merupakan Shalawat yang berasal dari Nabi Muhammad Shalllallahu ‘alaihi wa Aalihi wa Sallam.

Bahkan Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Atthos (penulis) telah memberi ijazah dan kewenangan supaya sholawat tersebut untuk diamalkan. Serta diperintahkan kepada siapapun untuk selalu membacanya setiap selesai sholat maktubah (wajib) 3 kali.”

Masih ragu kalau shalawat itu penyelamat yang redaksinya langsung dari shahibus shalawat Kanjeng Nabi Muhammad sang penyelamat? Shalawat nikmat, Shalawat sehat, Shalawat kuat, Shalawat semangat, Shalawat selamat. (Ditulis dan dirangkum Muhammad Miqdad Sya’roni)

Artikel ini telah dibaca 91 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

The Root of The Peak dalam Konsep Keilmuan

7 Juni 2024 - 11:08 WIB

Akselerasi Khidmah NU dan Keberjamaahan

17 Februari 2023 - 05:47 WIB

Hari Santri Nasional Dan Pembangunan Peradaban

24 Oktober 2022 - 04:21 WIB

Shiddiqiyah : Thoriqoh Yang Mu’tabar (otoritatif) ataukah yang “nrecel” (Keluar Jalur) ?

15 Juli 2022 - 07:58 WIB

Jepara, Investasi Agrobisnis dan Jihad Pertanian NU

30 Mei 2022 - 02:50 WIB

Santri dan Filologi Islam Nusantara

25 April 2022 - 03:21 WIB

Trending di Hujjah Aswaja