Menu

Mode Gelap
Kepala Kemenag Jepara hingga Turis dari Kenya Kagumi Stand Gelar Karya Siswa MTs Sadamiyyah, Ini Alasannya Peneliti dan Akademisi dari Singapura Kunjungi MA NU Al-mustaqim, Beri Pesan Ini untuk Santri dan Pelajar NU – Muhammadiyah Jepara Siap Kawal Pilkada Berkualitas, Ini 6 Komitmen dan Seruan untuk Para Stakeholder MATAN: Oase Pergerakan Tasawuf Milenial Genjot Kualitas SDM, YPMNU Gelar Pembekalan untuk Pengurus, Guru PAUD & TPQ Muslimat NU Kecamatan Jepara

Hujjah Aswaja · 9 Apr 2024 05:48 WIB ·

Filosofi Makna Budaya Kupat dan Lepet dalam Perayaan Idulfitri


 Rebutan kupat lepet saat pesta lomban Perbesar

Rebutan kupat lepet saat pesta lomban

Oleh : DR. H. Ahmad Maghfurin. Dosen UIN Walisongo Semarang, Ketua LPT NU-Jepara dan Pengasuh Pondok Pesantren Sadamiyyah- Guyangan, Bangsri, Jepara

nujepara.or.id – Menggali lebih dalam praktik budaya di sekitar Idulfitri, khususnya tradisi kupat dan lepet, mengungkapkan lebih dari sekadar perayaan yang menandai akhir Ramadan. Tradisi-tradisi ini mewujudkan penguatan ikatan komunitas dan mewakili transisi yang signifikan dari periode yang berfokus pada refleksi diri dan pengekangan ke periode yang menekankan pada kegembiraan kolektif dan saling memaafkan. Tema ini diungkapkan dengan jelas melalui pertemuan komunal, berbagi makanan, dan ungkapan syukur dan kebahagiaan universal yang meresapi perayaan ini.


Nama ‘Lepet,’ dalam Bahasa jawa melambangkan kesalahan, sedangkan ‘kupat (singkat ngaku lepat)’ secara metaforis mewakili pengakuan atas kesalahan seseorang. Pepatah ini menggarisbawahi pemahaman filosofis dan budaya Jawa yang mendalam bahwa setiap manusia cenderung melakukan kesalahan dan dosa. Inti dari kebijaksanaan ini terletak pada keyakinan bahwa yang terbaik di antara kita adalah mereka yang bertobat dan mencari pengampunan atas kesalahan mereka.


Simbolisme mendalam terkait dengan kupat dan lepet menjadi lebih bermakna ketika mempertimbangkan implikasinya yang lebih luas untuk membina hubungan antargenerasi dalam komunitas. Melalui pewarisan resep, cerita, dan makna filosofis di balik kupat dan lepet, simbol-simbol kegembiraan dan saling memaafkan ini tetap hidup dalam ingatan kolektif. Tindakan berbagi tradisi di hari Idulfitri ini, tidak hanya melestarikan warisan budaya yang kaya tetapi juga memelihara rasa identitas dan kontinuitas di kalangan pemuda. Proses ini memastikan bahwa esensi dari perayaan yang menyatu antara agama dan budaya ini tetap relevan untuk generasi mendatang.


Selain itu, tema pengampunan, kebersamaan, dan pembaruan semangat yang diwujudkan oleh kupat dan lepet memiliki resonansi yang jauh melampaui konteks spesifik komunitas Jawa-Muslim. Tema-tema ini memang universal, menyentuh aspek-aspek inti dari kondisi manusia dan pencarian berkelanjutan kita untuk makna, koneksi, dan rekonsiliasi. Kupat dan lepet, dalam perspektif yang lebih luas ini, melampaui pengaturan budaya langsung mereka untuk melambangkan nilai-nilai yang pada dasarnya manusiawi, menggemakan aspirasi kolektif kita untuk pengampunan, pengertian, dan awal yang baru.


Perayaan Idulfitri, dengan tradisi berbagi kupat dan lepet, dengan demikian menjadi momen yang ampuh untuk refleksi. Ini mendorong kita untuk mempertimbangkan peran vital tradisi budaya dalam membangun jalinan antar generasi, menjembatani perpecahan, membina perdamaian dan persatuan berbagai elemen masyarakat yang sempat terganggu karena perbedaan pilihan dalam PEMILU bulan lalu. Ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa terlepas dari berbagai latar belakang dan keyakinan kita, aspirasi untuk pengampunan, dukungan komunitas, dan semangat pembaruan dibagikan secara universal. Momen-momen perayaan ini merangkum tidak hanya istirahat dari rutinitas tetapi menawarkan kesempatan mendalam untuk refleksi komunal dan kebangkitan spiritual.


Merangkul tradisi-tradisi ini, individu terlibat tidak hanya dalam kesenangan rasa tetapi juga dalam pesta spiritual. Setiap gerakan persiapan, setiap makan bersama, dan setiap momen kegembiraan kolektif adalah langkah menuju membangun masyarakat yang lebih harmonis dan welas asih. Pelajaran yang dijiwai dalam tindakan sederhana namun mendalam dalam membuat, berbagi, dan menikmati kupat dan lepet selama Idul Fitri membawa potensi untuk menginspirasi tindakan dan sikap kebaikan, kemurahan hati, dan rasa kemanusiaan bersama yang mendalam. Nilai-nilai ini, yang dirayakan dalam konteks Idul Fitri, memiliki kekuatan untuk memengaruhi interaksi dan sikap kita sepanjang tahun, mempromosikan budaya empati, pengertian, dan saling menghormati.


Singkatnya, narasi kupat dan lepet selama Idulfitri adalah bukti nyata kapasitas tradisi untuk menyampaikan makna yang mendalam dan bertindak sebagai katalis untuk kohesi masyarakat dan pertumbuhan individu. Saat kita mengambil bagian dalam perayaan Idulfitri dan membenamkan diri dalam adat istiadatnya yang kaya, mari kita meneruskan nilai-nilai yang dilambangkan oleh kupat dan lepet — menyebarkan kegembiraan, membina persatuan, dan memperjuangkan penyebab pembaruan di seluruh komunitas kita. Tradisi yang sedang berlangsung ini tidak hanya memperkaya masa kini kita tetapi juga menabur benih untuk masa depan yang lebih inklusif, saling memahami, dan harmonis.

Artikel ini telah dibaca 117 kali

Baca Lainnya

Utawi Syaikh Nawawi Bin Umar Al-Jawi : Tidaklah “Meng-itsbat” Nasab Haba’ib!

14 Mei 2024 - 08:29 WIB

Ilustrasi gambar

Pendidikan Karakter Anak Pada Saat Idulfitri

19 April 2024 - 08:40 WIB

Ilustrasi santri merayakan Idulfitri.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (29)

9 April 2024 - 05:03 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

9 April 2024 - 04:54 WIB

Ruh manusia ilustrasi

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

8 April 2024 - 03:45 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (27)

7 April 2024 - 05:19 WIB

Mbah Soleh Darat
Trending di Hujjah Aswaja