Menu

Mode Gelap
R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya

Kabar · 23 Nov 2017 03:52 WIB ·

Gus Muwafiq: Kenapa “Muludan” Selalu Terkait “Makanan Enak”?


 Gus Muwafiq: Kenapa “Muludan” Selalu Terkait “Makanan Enak”? Perbesar

Jepara – Masyarakat di seluruh dunia ketika sedang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tidak lepas dari makanan yang mengenakkan. Hal itu menjadi salah satu poin mauidlah yang disampaikan Kiai Ahmad Muwafiq dalam Peringatan Maulid Nabi yang di tempatkan di Masjid Jami Al Ikhlas Desa Jambu Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara, Selasa (21/11/2017) malam.
Kenapa kok “Muludan” urusannya dengan “makanan? tanya kiai berambut gondrong asal Yogyakarta kepada jamaah.
Pertanyaan berbahasa Jawa itu jika dibahasakan Indonesia,”kenapa muludan (maulid nabi, red) selalu terkait dengan panganan?”
Perlu diketahui, orang tua zaman dulu sudah mengajarkan saat maulid nabi makanan yang enak-enak dikeluarkan. Tidak hanya alasan itu itu, Nabi, kata kiai muda yang akrab disapa Gus Muwafiq itu menjelaskan bahwa saat peringatan maulid, Nabi Muhammad menunaikan puasa.
Sedangkan para sahabat, urainya ancang-ancang (siap-siap, red) akan memberikan apa kepada Nabi. “Yang punya kurma, gandum dan segala makanan yang dimiliki sahabat akan diberikan kepada Nabi,” urai Gus Muwafiq.
Sehingga pada saat berbuka semua sudah ada di ndalem kanjeng Nabi. Menurut kiai yang kerap menyisipi humor-humor dalam setiap ceramahnya itu makanan-makanan yang awalnya milik sahabat saat sudah didoakan Nabi maka menjadi makanannya Nabi.
“Jika sudah menjadi daharane (makanan, red) nabi. Sudah didoakan akan menjadi makanan yang barakah. Menjadi daging pun akan barakah. Dengan makanan barakah mesti mlebu suwargo (pasti masuk surga, red),” tegasnya.
Hal itulah yang menjadi alasan orang saleh zaman dulu membuat tradisi yang masih dilestarikan hingga zaman sekarang. “Ulama zaman tidak asal bikin tradisi tapi ada dasarnya,” paparnya.
Dalam pengajian yang dihadiri juga pengurus MWCNU Mlonggo, PCNU Jepara dan masyarakat umum serta pembacaan Maulid Simtut Durar bersama Habib Abu Bakar Assegaf itu dia menjelaskan sehingga sampai sekarang makanan yang enak-enak selalu hadir dalam maulid nabi.
Setelah dibacakan maulid makanan yang diperoleh dari maulid pun akan menjadi hal yang berkah. “Barokah neng jero awak (berkah di dalam tubuh, red),” tandasnya.
Dalam memperingati maulid nabi lanjutnya harus ingat bahwa Nabi itu rahmatan lil alamin. Memberikan rahmat untuk semesta.
“Pangkat wakilnya Allah lintas negara dan lintas benua bukan seperti pangkat lurah, bupati, gubernur dan presiden,” tambahnya.
Jika ada yang muludan terus dangdutan dan jathilan baginya tidak masalah. Mbah Zainuddin Mojosari Nganjuk Jawa Timur saat maulidan mengundang jathilan.
Selepas jathilan para pemain oleh Mbah Zen dikasih makanan berkah. Guru dari Mbah Wahab Hasbullah itu sebagaimana cerita Gus Muwafiq berharap tahun berikutnya para pemain sudah pensiun dari permainan tradisional dan mulai ngambah (datang) ke masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. (sm)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

21 April 2026 - 13:45 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

21 April 2026 - 13:37 WIB

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

Pembukaan Bahtsul Masail PWNU Jateng, Rais Syuriah: Agendakan Rutin

20 April 2026 - 15:02 WIB

Trending di Bahtsul Masail