Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Lain-lain · 3 Mar 2022 06:57 WIB ·

Gus Sahil: Khidmah di NU Jalan yang Saya Pilih


 Gus Sahil: Khidmah di NU Jalan yang Saya Pilih Perbesar

nujepara.or.id- Lama malang melintang di organisasi Nahdlatul Ulama dan dunia pergerakan NU, mengantar Ahmad Sahil terpilih menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara masa khidmat 2021-2026. Tercatat, dirinya pernah aktif di lembaga RMI PCNU, pernah menjadi Wakil Sekretaris PCNU, pernah mejabat sebagai Ketua Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia atau Lakspedam NU, dan terakhir dipercaya menjadi Sekretaris PCNU Kabupaten Jepara.

nujepara.or.id berkesempatan mewawancarai secara ekslusif di Kantor PCNU Kabupaten Jepara yang beralamat di Jl. Pemuda nomor 51 Jepara. Seperti umumnya para santri, Ahmad Sahil atau yang biasa disapa Gus Sahil ini merupakan didikan pesantren. Dan mendedikasikan hidupnya untuk organisasi Nahdlatul Ulama. Dirinya mengaku, selalu berpegang teguh pada prinsip di dalam NU, “Bahwa jabatan jangan dicari, namun jika diberi amanat sebagai santri harus siap”.  Berikut petikan wawancara bersama Gus Sahil:

Santri Ploso, Kediri

Lahir dari keluarga santri 46 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1976, Ahmad Sahil sudah dididik ilmu agama oleh ayahnya sejak kecil. Lahir dari pasangan KH. Miftah Abu dan Bu Nyai Maslihah, Ahamd Sahil kecil sekolah di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Tamrinussibyan, Karang Randu Pecangaan, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Pecangaan.

Didikan keras ayahnya mengantar Sahil kecil ke salah satu pondok pesantren tertua di tanah Jawa, yakni Pondok Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Selain menuntut ilmu di pondok, Sahil juga melanjutkan sekolah formal yang ada di pondok. Bergelut dengan kitab kuning setiap hari, Ahmad Sahil ditempa ilmu agama Islam oleh pengasuh pondok pesantren Al-Falah, yaitu Kiai Munif Djazuli.

Menurut Sahil kesan pertama saat mengetahui Kiai Munif adalah seorang kiai yang menurut pandangannya adalah seorang kiai yang kharismatik dan nyentrik dalam berbusana. “Kiai Munif itu kalau berpakaian tidak seperti umumnya para kiai. Biasanya kan kiai-kiai pakaiannya sarung, sorban dan berpeci. Tapi beliau ini sering memakai celana jeans, baju yang bermerk, dan berkacamata hitam”, kata Sahil mengenang almarhum kiainya.

“Para tamu yang sowan ke Kiai Munif datang dari berbagai kalangan, baik artis, pejabat, pengusaha, dsb. pokonya lengkap. Dari situlah kita sebagai santri secara tidak langsung diajari bagaimana bergaul, serta bagaimana melayani seluruh lapisan masyarakat dengan tidak memandang status sosial. Kita juga tahu bagaimana berinteraksi dengan komunitas yang berada dari luar pesantren”, lanjut Sahil.

“Santri tidak hanya belajar agama Islam kepada kiai, selain belajar keilmuan, santri juga belajar kehidupan dari kiai. Hal inilah pelajaran yang tidak didapat dari lembaga pendidikan formal. Ngelmune urip kui iso dipelajari seko masayikh”, ujar Sahil.

Selama menuntut ilmu di pondok Ploso, Ahmad Sahil mengikuti proses pembelajaran kitab kuning dengan system musyawarah, atau mengkaji kitab kuning melalui bahtsul masa’il. Hampir lima tahun Ahmad Sahil belajar kitab kuning yang diajarkan oleh pondok dari mulai Kitab Fathul Qorib, Fathul Mu’in, hingga yang tingkat lanjutan yang paling sulit yakni Fathul Wahab.

Saat masih proses mengaji di pondok, Ahmad Sahil mendapat kepercayaan dari Kiainya untuk mengajar putranya yang bernama Gus Ahmad Hasbi, yang sekarang mejadi pengasuh Pondok Queen Alfalah. Selama tiga tahun Sahil mengajar Gus Ahmad. Mengajar putra kiai merupakan keistimewaan bagi Ahmad Sahil, hingga saat itu Ahmad Sahil menjadi Santri ndalem atau menjadi khodamnya Kiai Munif Djazuli. Selesai mengajar putra kiainya, Sahil kemudian satu tahun menjadi pengurus pondok, setelah itu boyong pulang kampung.

“Tiga tahun saya mengajar putra kiai, hal yang paling berkesan adalah kecerdasan putra Kiai Munif sangat luar biasa. Sehingga ketika Gus Ahmad mulai mandiri saya berhenti untuk mengajar beliau. Setelah itu satu tahun saya menjadi pengurus pondok, lalu pulang kampung”, tutur Sahil.

Dari sisi pembelajaran, ketika santri sudah lulus kitab Fathul Wahab, maka santri tersebut dianggap sudah lulus. Menurut Sahil, saat wisuda setelah lulus dari tingkatan kitab Fathul Wahab, dirinya bersama KH. Charis Rohman (sekarang Ketua Tanfizdiyah PCNU Jepara) sama-sama diwisuda.

Tahun 1999 pulang kembali ke kampung halaman, setelah sembilan tahun menuntut ilmu di Pondok Alfalah Ploso, Kediri. Sekembali dari pondok  lalu mengajar di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Tamrinussibyan, Karang Randu, Pecangaan, tempat dirinya waktu kecil menuntut ilmu. Hingga sekarang menjadi Kepala sekolah MI tersebut.

Tahun 2001 melanjutkan kuliah di Unisnu Jepara mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), hingga pada tahun 2005 menyunting seorang gadis dari Desa Demeling, bernama Arinil Hidayah yang juga seorang santri dari Pondok Pesantren Balekambang.

Mengenal Dunia Pergerakan

Awal di Unisnu pada tahun 2001 Sahil sudah mulai mengenal dunia pergerakan. Dan bergabung di organisasi Forum Warga. Forum Warga merupakan cikal bakal Lakspedam NU. Awal mulai aktif di NU secara struktural, dirinya mengaku direkrut oleh KH. Roziqin dan KH. Abi Jamroh pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU). Sebuah lembaga yang mengurusi pesantren di Jepara.

“Dalam dunia pergerakan saya sempat di PMII, namun tidak berproses dan lebih banyak menghabiskan waktu di organisasi NU. Namun saya pernah ikut berdemo dengan menyanyikan lagu ‘Darah Juang’ dengan mengepalkan tangan”, ujar Sahil sambil tertawa, mengenang masa itu.

“Saya juga banyak belajar kepada Pak Masdar Farid Mas’udi yang saat itu Wakil Katib di PBNU. Beliau juga sebagai Direktur Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) sebuah lembaga bentukan Gus Dur, namun berada diluar PBNU. Saya ikut bergabung dengan lembaga tersebut mulai 2004-2007”, terang Sahil.

Hingga pada tahun 2015-2021 dirinya terpilih menjadi Ketua Lakspedam PCNU Jepara. Meskipun terpilih menjadi Ketua Lakspedam, Sahil tidak asing dengan Kantor PCNU Jepara. Karena sebelumnya juga pernah menjadi Wakil Katib Syuriyah, pernah juga menjadi Wakil Sekretarisnya Pak Lulu’ (H. M. Ulul Abshor, sekarang mejabat Wakil Katib Syuriyah).

“Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakspedam NU) mempunyai tiga mandat, yang pertama di bidang kajian, kedua pengembangan sumber daya manusia, dan yang ketiga adalah advokasi kebijakan publik. Dan tiga mandat ini harus selalu dijalankan. Sehingga Lakspedam NU sering menggelar acara-acara seminar dan diskusi dengan mendatangkan tokoh-tokoh nasional”, kata Sahil.

Selama lima tahun mejabat sebagai Ketua Lakspedam NU, Sahil tercatat beberapa kali menghadirkan tokoh NU tingkat Nasional, sepeti KH. Nadirsyah Hossen (Gus Nazdir) KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) dengan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin, hinga penulis buku Menjerat Gus Dur, Virdika Rizky Utama.

Saat ini Sahil harus berkonsentrasi mengurusi rumah tangga organisasi yang membesarkannya, yakni Nahdlatul Ulama. Dirinya harus selalu menjaga keseimbangan organisasi dan harus selalu berkoordinasi dengan pengurus yang berada di bawah PCNU Jepara. Meliputi, 18 lembaga, 3 Badan khusus, 5 BANOM berbasis usia, 8 BANOM berbasis Profesi, 16 MWC NU di tingkat kecamatan, 240 Ranting di tingkat Desa.

“Perjuangan masih panjang, berkhidmat ke Nahdlatul Ulama adalah jalan yang saya pilih. Ini tidak lepas dari didikan ayah saya, kiai saya, dan para masyayikh yang selama ini saya ikuti dawuh-dawuhnya. Mohon do’anya agar saya selalu istiqomah”, tutup Gus Sahil. (UA)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

PBNU – Pertamina Kerjasama Bantu Korban Gempa Pasaman Sumbar

1 Maret 2022 - 09:31 WIB

Sambut Hari Santri 2021, Ansor Bangsri Agendakan Pengajian Akbar

28 September 2021 - 09:01 WIB

Keragaman Agama di Indonesia: Bersifat Toleransi atau Diskriminasi?

24 Agustus 2021 - 11:18 WIB

MWCNU Kedung Jepara Kebut Vaksinasi Santri

20 Juli 2021 - 05:08 WIB

Yayasan Relasi Nusantara Satu Gandeng Unisnu Sosialisasikan Sinergi Ekosistem Ultra Mikro di Jepara

7 Juni 2021 - 18:00 WIB

Khutbah Jum’at – Bagaimana Menyikapi Musibah?

10 Februari 2021 - 14:06 WIB

Trending di Khutbah
%d blogger menyukai ini: