Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Headline · 10 Mei 2023 01:01 WIB ·

Ketika Umar Kayam Bertanya Tentang Sholat kepada Gus Mus


 Ketika Umar Kayam Bertanya Tentang Sholat kepada Gus Mus Perbesar

nujepara.or.id- Ada cerita menarik yang disampaikan oleh Ahmad Munjid, Dosen Universitas Gajah Mada (UGM) ketika mendampingi KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam acara Saresehan di Fakulas Kedokteran UGM. Seperti dilansir dari Alif.id Achmad Munjid bercerita tentang Umar Kayam yang bertanya kepada Gus Mus tentang Sholat.

Profesor Umar Kayam, guru besar Fakultas Sastra (atau FIB sekarang) Universitas Gadjah Mada sekaligus sang penulis novel Para Priyayi, adalah seorang abangan yang bangga dengan identitasnya, a proud abangan. Melalui A. A. Navis, pada tahun 1994 ia dan istrinya secara tak terduga mendapat undangan untuk naik haji dari Departemen Agama RI.

Mula-mula ia tertawa saja, “Wong jelas-jelas aku ini abangan, kata orang-orang salat saja enggak, kok disuruh naik haji? Kalau langsung menjalankan rukun kelima, berarti Islamku langsung katam ya?,” tertawanya membahana.

Tapi atas berbagai pertimbangan, tawaran untuk menjadi haji “abidin” (atas biaya dinas) itu akhirnya dia terima. Setelah beberapa bulan lewat dan waktu naik haji mendekat timbul masalah.

Bu Kayam yang sebetulnya memang sudah cukup lama menyimpan “keprihatinan” mengenai religiusitas suaminya, akhirnya memanfaatkan masa penantian berangkat haji itu sebagai kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

“Pak, njenengan kan sudah mau berangkat haji. Mbok mari, segera nglakoni (menjalankan salat). Masak nanti sudah haji tetap nggak salat, kan ya lucu, aneh…,” ujar istri Umar Kayam itu pada suatu sore yang cerah di teras rumahnya di Bulaksumur.

“Apa maksudmu?” jawab Umar Kayam tenang sambil memandang langit timur setengah terayun-ayun di kursi goyang singgasananya.

“Lah ya nglakoni salat lima waktu seperti orang-orang Islam pada umumnya,” istrinya menegaskan.

“Rumangsamu selama ini aku nggak salat?” Umar Kayam kini duduk dengan posisi tegak. Kursi goyangnya berhenti berayun-ayun.

“Lah, buktinya?”

“Sebentar, sebentar, bagimu salat itu apa?”

“Salat ya salat. Bapak nggak usah memperumit masalah sederhana. Waktunya Magrib ya Magrib, waktunya Isya ya salat Isya, Subuh ya Subuh. Salat ya salat,” tangan Bu Kayam mulai sibuk memperagakan gerak orang sembahyang.

Umar Kayam hanya tersenyum.

“Kamu tahu nggak, secara etimologis, salat itu artinya “hubungan”, “komunikasi”, “kontak”. Jangan hanya karena aku tidak melakukan gestur seperti yang kamu lakukan, lalu aku dianggap tidak menjalin hubungan dengan Gusti Allah. Mungkin kamu nggak tahu, tapi aku ini sebetulnya sering salat. Ketika aku duduk thenguk-thenguk di teras begini, aku sering shalat. Ketika aku menulis makalah untuk seminar, aku sering sambil shalat. Ketika mengajar para mahasiswa, aku juga salat. Hubunganku dengan Gusti Allah itu bersifat langsung, ces pleng, tidak perlu diberita-beritakan, tidak perlu dipamer-pamerkan pada orang lain. Kamu saja yang nggak paham,” Umar Kayam menjawab secara telak.

“Oalah, Pak, Pak. Wong diingatkan kok malah terus kasih kuliah panjang lebar,” Bu Kayam akhirnya meninggalkan teras dan masuk ke dalam.

Justru karena istrinya mengalah, setelah perdebatan kecil itu rupanya pikiran Umar Kayam jadi terganggu. Suatu hari berkunjunglah mereka ke Rembang, menemui Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Setelah bicara ngalor-ngidul, akhirnya Umar Kayam mengajukan pertanyaan yang mengganggu pikirannya, tentu setelah terlebih dahulu memberikan konteks perdebatan kecil dia dengan istrinya.

“Jadi menurut panjenengan, mana yang lebih benar, apakah salat versi istri saya yang secara lahirian tampak jengkang-jengking tiap lima waktu itu tapi pikirannya sering nggak karu-karuan kemana-mana, belanja, arisan dan seterusnya; atau salat versi saya, yang tidak kelihatan di mata orang-orang tapi sebetulnya secara batin justru terhubung langsung dan berkomunikasi akrab dengan Sang Khaliq?”

Semua terdiam menunggu. Ruang tamu Gus Mus tiba-tiba hening beberapa waktu.

“Karena panjenengan adalah Profesor, saya akan memberikan jawaban terbuka. Silakan nanti dipikirkan sendiri kesimpulannya. Untuk memahami soal salat ini, saya akan pakai metafor sederhana saja: buah! Setahu saya, yang namanya buah—buah apa saja: pisang, mangga, jeruk, apel dan lain-lain—tidak ada yang cuma terdiri dari kulit saja, atau hanya isinya saja. Pisang itu pasti selalu ada kulit dan isinya sekaligus. Pisang adalah pisang karena dia ada kulitnya dan juga ada isinya. Salat itu, menurut saya, kira-kira begitu,” kata Gus Mus.

Sampai beberapa waktu semua masih terdiam mencerna penjelasan itu.

“Sampean memang benar-benar kiai, Gus,” kata Umar Kayam kemudian dan semua pun tertawa.

Ketika mereka kembali ke Yogya, istri Umar Kayam merasa telah mendapat amunisi sebanyak-banyaknya. Sepanjang jalan pulang tak henti-hentinya ia bicara “Makanya….” “Aku sudah bilang apa?….”

Umar Kayam hanya diam saja. Pikirannya kini kian terganggu.

“Pisang adalah pisang karena dia ada kulitnya dan juga ada isinya” metafor Gus Mus tentang salat itu kembali terngiang-ngiang di telinga Umar Kayam. Itu berlangsung sampai beberapa hari, bahkan beberapa minggu.

Suatu saat, dengan pikiran yang masih terganggu, ia jalan-jalan di Malioboro. Tanpa sengaja dilihatnya seseorang yang menjual ukiran kayu sederhana bertulis “Sopo durung solat?” (Siapa belum salat?). Tanpa pikir panjang, dibelinya ukiran itu dan begitu sampai rumah segera dipajangnya ukiran itu di dinding ruang tengah.

Sejak itu, tiap kali ia lewat ruang tengah dan melihat ukiran tadi, Umar Kayam berjalan sambil tunjuk jari, “kulo!” (saya). (red)

Artikel ini telah dibaca 55 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bahtsul Masail