Menu

Mode Gelap
Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Inovasi Alat Bakar Sampah Minim Asap dan Sosialisasi Pendidikan di Desa Sumanding PBNU Luncurkan NU Harvest Maslaha, Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Syariah PCNU Jepara Kembali Salurkan Bantuan, 1.400 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Desa Tempur dan Kunir Gerakan Wakaf Massal Kec. Pakis Aji: Kalaborasi KUA Pakis Aji, Pemdes Tanjung dan UNISNU Jepara PCNU Jepara Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Desa Sumberrejo Donorojo

Hujjah Aswaja · 23 Mei 2016 11:28 WIB ·

Kiai Said: Kiai Nasionalis Hanya Ada di Indonesia


 Kiai Said: Kiai Nasionalis Hanya Ada di Indonesia Perbesar

said-aqilWelahan-Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj meyakini bahwa tidak ada kiai yang bilang Hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) kecuali KH Hasyim Asyari.
Pernyataan itu diuraikannya dalam Maulid dan Tausiyah yang diadakan Pesantren At Taqiy desa Kalipucang Kulon, kecamatan Welahan, kabupaten Jepara, Selasa (17/05/16) malam. Selain Kiai Said hadir juga Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid.
Menurut Kiai Said, Mbah Hasyim telah menjalankan rukun Islam dan rukun Iman plus bela negara. Sehingga wujud bela negara itu, dituangkan dalam resolusi Jihad. Membela negara hukumnya fardlu ain.
Sebagai bentuk apresiasi kepada ulama yang telah membela negara, 22 Oktober tahun lalu diperingati sebagai hari Santri. Kenapa harus harus hari santri?
Menurut lelaki 62 tahun itu santri dan kiai memang turut merebut kemerdekaan. “Yang membunuh Jenderal Malabi ialah santri Tebuireng bernama Harun,” paparnya.
Santri bernama Asyari juga mempunyai andil yang besar. Dia adalah santri yang merobek kain warna biru pada bendera Belanda di Hotel Orien (kini Hotel Majapahit).
Keberadaan hari santri memang sudah didukung oleh Ormas Islam semacam Al Irsyad, Persis dan yang lain. Meski ada satu ormas yang tidak sepakat tetapi hal itu tidak lantas membuatnya masalah.
Kiai semacam Hadratus Syekh memang berjuang untuk agama dan negara. Adapun kiai-kiai di kampung, lanjutnya juga berjuang untuk membentuk karakter bangsa.
“Jangan bertengkar ya kang. Yang akur,” katanya menyontohkan ajaran yang dicontohkan kiai kampung.
Lewat satu petuah itu, merupakan membentuk menjadi bangsa yang bermartabat. Diakhir ceramahnya, ia menyatakan NU merupakan organisasi yang menyatukan Islam dan budaya.
Budaya-budaya warisan leluhur, jangan asal diberangus tetapi biarkan budaya itu tetap ada tetapi perlu diselipi dengan kegiatan keagamaan. Kegiatan Nyadran tetapi diisi dengan tahlilan, manaqiban dan tradisi NU yang lain.
Kiai Said menggaris bawahi budaya yang perlu dijunjung tinggi tidak boleh melanggar agama. Sehingga pungkasnya NU itu islam yang menyatu dengan budaya dan islam yang menyatu dengan nasionalisme. (sm) 

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Inovasi Alat Bakar Sampah Minim Asap dan Sosialisasi Pendidikan di Desa Sumanding

3 Februari 2026 - 16:45 WIB

PBNU Luncurkan NU Harvest Maslaha, Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Syariah

2 Februari 2026 - 22:06 WIB

PCNU Jepara Kembali Salurkan Bantuan, 1.400 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Desa Tempur dan Kunir

2 Februari 2026 - 21:54 WIB

Gerakan Wakaf Massal Kec. Pakis Aji: Kalaborasi KUA Pakis Aji, Pemdes Tanjung dan UNISNU Jepara

19 Januari 2026 - 14:36 WIB

PCNU Jepara Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Desa Sumberrejo Donorojo

15 Januari 2026 - 09:58 WIB

PCNU Jepara Buka Posko Peduli Bencana 2026, Tingkatkan Sinergi untuk Penanggulangan Bencana

13 Januari 2026 - 19:11 WIB

Trending di Kabar