NU JEPARA- Sepanjang perjalanan menuju salah satu instansi pemerintah di wilayah Jawa Tengah Jum’at kemarin, “konco-konco” se-mobil saling menyampaikan sudut pandang ‘kasunyatan’ yang mereka lihat terhadap persoalan yang berkembang sampai saat ini. Saling dukung dan saling melengkapi satu sama lainnya, kadang juga menyanggah. Mereka tetap menambahkan sudut pandang versi dirinya sendiri berdasarkan “analisa data pribadi” yang di”rasa”kannya. Obrolan ini tentu saja ini menarik perhatianku dan mengingatkan akan ayat yang menghentak kesadaran spiritualitas batinku.
Dalam keriuhan dunia yang serba visual, kita sering terjebak pada sebuah ilusi, bahwa apa yang terlihat adalah sebuah kebenaran mutlak. Namun, jauh sebelum teknologi pemindaian secanggih hari ini, sebuah ayat dalam tradisi samawi telah “menggelar” peta navigasi kesadaran yang melampaui zamannya, ribuan tahun yang lalu dan tetap relevan dengan kondisi saat ini.
“Dia tidak dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengenal.” (Al-An’am: 103).
Antara Keterbatasan dan Pengawasan Mutlak
Secara esensial, ayat ini adalah pengingat akan batasan perangkat keras manusia. Mata fisik kita hanya mampu menangkap spektrum cahaya yang sangat sempit. Di sini, di dimensi tasawuf mengajarkan bahwa ketidakmampuan kita melihat “Sang Pencipta” bukanlah karena Ia jauh, melainkan karena Ia “terlalu dekat”. Ibarat mata yang tak mampu melihat dirinya sendiri tanpa cermin, ego manusia seringkali menjadi tabir yang menghalangi penglihatan sejati (“Lā tudrikuhu al-abṣār” ).
Namun, di saat kita gagal menjangkau-Nya, Dialah yang menjangkau kita (“Wa huwa yudriku al-abṣār”). Dalam kacamata sistemik, ini adalah bentuk pengawasan total. Tak ada satu pun getaran rasa, lintasan pikiran, atau sel saraf yang bergerak tanpa terdeteksi oleh radar Ilahi. Kita tidak pernah sendirian; kita selalu berada dalam dekapan pengamatan-Nya.
Kearifan Jawa: “Tan Keno Kinoyo Ngopo”
Masyarakat Jawa mengenal konsep ini sebagai “Tan Keno Kinoyo Ngopo”, sesuatu yang tak bisa digambarkan, namun keberadaan-Nya terasa nyata dalam denyut kehidupan. Spiritual Jawa menekankan pada “panyawang batin”. Ketika mata fisik (“wadag”) mulai lelah mencari jawaban di luar sana, ia harus ditarik ke dalam menuju “kasunyatan” atau kekosongan yang berisi.
Prinsip ini melahirkan sikap hidup yang waspada. Jika Tuhan adalah “Sang Maha Pengamat” yang melingkupi segala detail, maka setiap langkah manusia adalah sebuah tarian di bawah cahaya keadilan. Di sinilah konsep “Manunggaling Kawula Gusti” menemukan bentuk praktisnya, yaitu bukan penyatuan zat, melainkan penyelarasan kehendak diri dengan hukum alam semesta yang presisi, “sunnatullah”.
_”Al-Latif dan Al-Khabir”, Protokol Kelembutan yang Tajam
Penutup ayat ini memperkenalkan dua frekuensi operasional Tuhan, yaitu “Al-Latif” (Yang Maha Halus) dan “Al-Khabir” (Yang Maha Mengenal).
“Al-Latif”, adalah kekuatan yang bekerja tanpa kebisingan. Seperti udara yang tak terlihat namun menghidupkan, atau seperti kasih ibu yang menyelinap dalam setiap doa. Dalam tindakan, ini adalah seni menyelesaikan masalah tanpa menciptakan kerusakan baru, “ngono yo ngono, ning ojo ngono.”
“Al-Khabir”, adalah kecerdasan data yang melampaui permukaan. Ia mengetahui akar masalah sebelum buahnya muncul. Menjadi “Khabir” dalam keseharian berarti tidak mudah menghakimi sesuatu hanya dari kulit luarnya.
Menuju Navigasi Diri yang Paripurna
Mengintegrasikan pesan ini ke dalam bawah sadar berarti mengubah cara kita memandang tantangan. Saat badai hidup datang, ingatlah simbol “Netra Kasunyatan”, sebuah titik hening di tengah lingkaran informasi yang kalut.
Mari kita belajar untuk “melangkah dengan halus, namun melihat dengan kewaspadaan totalitas.” Sebab, pemenang sejati bukanlah mereka yang paling keras bersuara, melainkan mereka yang mampu mendengarkan bisikan halus kebenaran di tengah hiruk-pikuk dunia, dan yang masih tetap “waras” di tengah rimba belantara informasi global.
Suara tak henti “Dzun Nun” (Nabi Yunus a.s.) ketika berada dalam kegelapan pekat di kedalaman laut dalam perut ikan paus terdengar berulang-ulang di relung hati, “Laa ilaaha illaa Anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin…”
Sabtu, 14 Maret 2026
24 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso
Note
{ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَهُوَ یُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَـٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِیفُ ٱلۡخَبِیرُ }
[Surat Al-An’am: 103]
{ وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبࣰا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَیۡهِ فَنَادَىٰ فِی ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّی كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ }
[Surat Al-Anbiya’: 87]