Menu

Mode Gelap
Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

Interaktif Ramadan · 10 Apr 2023 14:24 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan: Norma dan Nilai Sosial dalam Islam 


 Ngaji Tematik Ramadhan: Norma dan Nilai Sosial dalam Islam  Perbesar

Oleh Kiai Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Lingkungan sosial adalah salah satu  pengalaman  pendidikan yang membentuk karakter seseorang sehingga interaksi sosial harus dibina secara baik dan permanen, sebagaimana dawuh Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW; 

‘An Abi Huroirota RA, Anna Rusulallah Shollallahu Alaihi Wasallama Qola; Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhir falyaqul khoiron aw liyashmut, waman kana yu’minu billahi wal yawmil akhir falyukrim jarohu, wa man kana yu’minu billahi wal yawmil akhir falyukrim dhoifahu. (Rowahu al Bukhori wa Muslim) .

Tiga norma kesantunan  yang tertera di dalam hadits di atas memberikan “ruang keharmonisan” bagi terciptanya lingkungan yang toleran, damai dan tentram. 
Harmonisasi lingkungan pertama kali  yang harus diciptakan adalah “komunikasi yang baik” yaitu berupa ” sapa” dan “ujaran” yang santun dan sopan terhadap sesama di lingkungan sosialnya atau di kampungnya.

Karena “komunikasi” adalah salah satu  yang membentuk ciri khas dan karakter komunitas sosial. Lingkungan sosial membutuhkan “saling” menghormati, memahami, bahu membahu, empati, dan tolong menolong, sebagai bagian dari “memuliakan tetangga” kita masing masing. Proses itu menciptakan budaya gotong royong, “paweweh”, sambatan, jagongan dan lain lain sebagai bentuk modal dasar interaksi sosial yang bernilai dan berharga. 

Dari “pemuliaan” antar tetangga maka “rumah rumah” warga menjadi “terbuka” dan “enjoy” menerima tamu. Tamu adalah bukan siapa siapa, akan tetapi tamu adalah kita yang sudah menjadi “keluarga sendiri” sehingga “menjamu dan memuliakan tamu” adalah seperti menjamu dan memuliakan keluarga kita sendiri.

Sungguh pembentukan karakter “eksternalisasi  diri” yang sempurna dalam rangka membangun lingkungan sosial yang harmonis, toleran, sejuk, kondusif, bahagia dan sejahtera. 

Sekarang ini kita banyak melihat, ada banyak orang pergi  “ngangsuh kaweruh” di luar desanya atau kampungnya. Lalu kemudian pulang namun justru menjadi “asing” terhadap lingkungan desa dan kampungnya sendiri.

Bahkan juga berperilaku “ekstrim” menyalahkan tradisi dan budaya desa kampungnya karena dianggap katrok, kampungan, ritual keagamaannya “bidengah”, syirik dan lain sebagainya karena pengaruh “pendidikan yang asing” yang mereka menganggap “lebih baik” daripada “pendidikan karakter” yang sudah mentradisi di lingkungan desa dan kampungnya. 

Hal ini disebabkan kita tidak mampu membedakan antara mana yang  “tonggak” dan mana yang “cabang” sehingga ada salah paham  di mana tonggak atau bonggol. Sesuatu yang seharusnya dijadikan “landasan” berfikir dianggap sebagai cabang sehingga tonggak, bonggol tersebut harus  “dibedol”. Dari sanalah muncul yang namanya disintegrasi sosial. 

Olehnya, mari kita saling sapa yang baik antarsesama, memuliakan tetangga kita dan memuliakan tamu-tamu kita yang sudah menjadi sebuah “tradisi” yang sempurna, untuk  “diuri uri” dalam upaya menciptakan keharmonisan yang langgeng di lingkungan sosial kita masing-masing.

Semoga Gusti Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk menjadikan lingkungan sosial kita menjadi harmonis, tentrem ayem bahagia dan sejahtera. Aamiin Aamiin Aamiin

*Sekretaris Pengurus Syu’biyah Jatman Jepara

Artikel ini telah dibaca 64 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan

18 Maret 2026 - 11:36 WIB

Lampah Samarpan

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

Teknik Rahasia “Menepi” ala Nabi Musa

12 Maret 2026 - 14:45 WIB

Teknik Rahasia Menepi ala Nabi Musa

Seni Menang di Tengah Kepungan

12 Maret 2026 - 14:34 WIB

Seni Menang di Tengah Kepungan
Trending di Kabar