Menu

Mode Gelap
Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

Esai · 3 Apr 2023 14:21 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan: The Name Is My Identity 


 Ngaji Tematik Ramadhan: The Name Is My Identity  Perbesar

Oleh Kiai Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Salah satu modal dasar kekokohan menjalin silaturrahim adalah “menyapa” antarsesama dengan sapaan yang bagus sebagaimana dicontohkan di dalam Alqur’an; “Wala talmizu anfusakum, wala tanabazu bil alqobi, bi’sal istmul fusuqu ba’dal iman, wa man lam yatub faulaika humudzdzolimun”.

Sapaan paling kecil yang digambarkan oleh ayat di atas adalah “memanggil nama” teman kita, saudara kita atau bahkan orang lain dengan panggilan nama yang “menyenangkan” tidak dengan panggilan nama yang “buruk”. Hal itu dalam rangka mempererat seduluran dan menjalin silaturrahim. Ujung proses ini tidak terjadi saling ejek, menghina dan nyinyir satu sama lain.

Di Nusantara ini, ayat “bi’sal istmul fusuqu ba’dal iman” menjadi sangat “operasional” dan bahkan menjadi “budaya”. Di mana maknanya  yang sangat fenomenal adalah bahwa orang Nusantara memiliki banyak nama yaitu nama sebelum aqil baligh/nama kecil (sebelum sempurna imannya) dan nama dewasa (setelah sempurna imannya/ba’dal iman), nama sebelum tindak haji  (sebelum sempurna imannya) dan nama setelah tindak haji (bakdal iman), nama sebelum pergi mondok (sebelum sempurna imannya) dan nama setelah mondok (setelah sempurna imannya) dan lain sebagainya.

Contohnya adalah nama kecilnya asalnya “Paijo” diubah menjadi “Fauzun” atau “Fauzin”. Awalnya nama kecilnya “Soberi” diubah menjadi “Subur” dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut setelah diubah mengandung inspirasi dan harapan baru agar meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat. 

Olehnya, prinsip dari ayat di atas adalah “the name is a identity”; nama adalah sebuah identitas. Konsekuensinya “memberi nama”  kepada seseorang memiliki “ritual” tersendiri yaitu dengan mengadakan “bancaan” yang juga sekaligus doa bersama agar “nama”  yang disematkan itu memberikan pengaruh terhadap pola pikir, pola rasa dan pola laku yang  baik dalam kehidupan sehari-hari orang tersebut.

Sehingga oleh karena itu kita tidak boleh “memanggil nama” seseorang dengan “julukan atau laqob” yang jelek atau tidak menyenangkan, akan tetapi sebaliknya kita “memanggil nama” seseorang “diharuskan” dengan memanggil “julukan atau laqob” yang baik,  santun dan bersahaja.

Bahkan di Nusantara, merupakan pamali jika memanggil nama seseorang dengan “nggapah” terhadap seseorang. Adabnya bahkan ada “stratifikasi sosial” yang positif semisal anak  kecil memanggil dengan sopan kepada yang lebih besar, yang muda kepada yang lebih tua dan seterusnya.

Olehnya, ayat di atas bisa membentuk persaudaraan universal yang diawali dari sesuatu yang paling kecil yaitu “menyapa nama” saudara kita  teman kita dan handai taulan dengan panggilan yang “menyejukkan”.

Semoga kita termasuk orang orang yang diberikan kekuatan utk menjaga silaturrahim antarsesama dengan memanggil nama teman-teman kita dengan panggilan yang santun dan bersahaja. Aamiin Aamiin Aamiin.

*Sekretaris Pengurus Syu’biyah Jatman Jepara

Artikel ini telah dibaca 74 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan
Trending di Kabar