Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Opini · 29 Sep 2019 14:24 WIB ·

Refleksi Fenomena Demonstrasi


 Refleksi Fenomena Demonstrasi Perbesar

Oleh: H. Hisyam Zamroni, Wakil Ketua PCNU Jepara

Kadang kala kita ini berandai-andai dalam hidup dan bernegara sehingga “seakan-akan” hidup nampak begitu tegang dan menegangkan, kecuali tegangnya dengan istri (hahaha).

Padahal jika kita renungkan dengan saksama dalam al-qur’an yang telah memberikan gambaran sederhana bagaimana membangun sebuah negara yang enak, renyah, enjoy, bahagia, sejahtera maka ada dua tanggung jawab yang implikasinya bisa luar biasa.

Pertama, ada jaminan bahwa umatnya terhindar dari kelaparan yang di al-qur’an menyebutnya; “Ath’amahum min Juu.'” Kedua adalah adanya jaminan rasa aman, kondusif, tentram, dan damai yang al-qur’an menyebutnya; “wa amanahum min khouf.”

Kedua Jaminan di atas merupakan jaminan dasar manusia yaitu; terpenuhinya jaminan pokok individu dan berikutnya terpenuhinya jamanin pokok sosial. Sebagaimana al-qur’an memberikan pengetahuan kepada kita yang sangat logis; manusia dicipta sebagai makhluk individu “Innaa kholaqnakum min dzakarin wa untsa” dan kemudian dijadikan menjadi makhluk sosial; “waja’alnakum syu’uban wa qobail.”

Nah, jika kita mendalami makna al-qur’an dari beragam perspektif maka kita melihat bahwa al-qur’an tidak memberikan justificed “bentuk” negara tetapi memberikan acuan-acuan dasar “bernegara” yang secara gamblang al-qur’an menyebutnya “ulil amri”; Athi’ullaha wa athi’urrosul wa ulil amri minkum”. Ayat ini begitu “lentur atawa elastis” yaitu bukan menunjuk sebuah bentuk “negara.”

Nah, ramainya orang-orang sekarang berbicara masalah “Islam itu ya Khilafah” adalah bukan karena “ketidaktahuan” mereka tentang ayat-ayat di atas tapi lebih jauh karena “mungkin” disebabkan adanya “nostalgia sejarah” yaitu khilafah yang tidak hanya dimaknai sebuah “ideologi” tapi bergeser dimaknai menjadi sebuah “agama baru” sehingga yang muncul adalah yang penting “pokoke.”

Jika sudah seperti ini alasannya maka pola pikir kita ini bukan lagi membentuk peradaban baru dengan semangat zaman yang terus berubah tapi justru selalu nostalgia “menangisi masa lalu.”

Sedangkan tugas orang beragama adalah terus bergerak maju dari waktu ke waktu agar agama bisa up date lizamanin wa makanin sehingga terus menciptakan peradaban yang baru-baru dan baru karena orang beragama dikarunia akal pikiran. Afala ta’qilun, afala tatafakkarun.

Akhirnya, kita ini janganlah hidup yang sekarang ini di zaman sekarang ini justru ditertawakan oleh pendahulu kita karena justru kita ingin kembali ke zaman mereka. Padahal jika mereka hidup pada zaman kita sekarang ini, mereka akan berinovasi lebih hebat lagi karena kecemerlangan dan kecerdasan pendahulu kita yang telah tertuang dalam tinta sejarah yang selama ini kita baca.

Pertanyaannya untuk diri kita masing-masing adalah “sebodoh itu kah kita?”

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Shiddiqiyah : Thoriqoh Yang Mu’tabar (otoritatif) ataukah yang “nrecel” (Keluar Jalur) ?

15 Juli 2022 - 07:58 WIB

Jepara, Investasi Agrobisnis dan Jihad Pertanian NU

30 Mei 2022 - 02:50 WIB

Santri dan Filologi Islam Nusantara

25 April 2022 - 03:21 WIB

Mengurai Kontroversi Zakat Fitrah dengan Uang

25 April 2022 - 03:14 WIB

Belajar Natas-Nitis-Netes dari Puasa

1 April 2022 - 08:35 WIB

Visi Kerahmatan Penunjuk Jalan Gerakan

26 Februari 2022 - 07:31 WIB

Trending di Opini
%d blogger menyukai ini: