Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Opini · 22 Agu 2019 23:48 WIB ·

“Samaraba” Kunci Rumah Tangga Harmonis


 “Samaraba” Kunci Rumah Tangga Harmonis Perbesar

Oleh : M. Saiful Basori, Penceramah Muda NU
asal Pelang Mayong Jepara

Menikah adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan pribadi insan di dunia. Tentunya bukan sekadar tempat melampiaskan dorongan naluri dan syahwat semata tanpa tujuan dan harapan.

Dengan terlaksanakannya akad nikah berarti telah melaksanakan ibadah dan lambang kesucian hubungan antara kedua jenis insan mulia berdasarkan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta peletakan batu pertama dalam membentuk keluarga.

Samaraba (sama-sama meraba) adalah kunci rumah tangga harmonis. Pasangan suami istri (pasutri) hendaklah dapat sama-sama meraba. Karena dengan demikian maka akan dapat saling memahami akan perbedaan karakter di antara mereka. Sehingga tak akan lagi mempersoalkan perdedaan jika muncul konflik dalam rumah tangganya.

Sama-sama meraba untuk dapat mengetahui akan kelebihan maupun kekurangannya. Hal demikian dimaksudkan agar dalam membina rumah tangga dapat saling memuji akan kelebihan yang dimiliki. Hal ini mampu membuat stabil dan dinamis, harmonis dan romantis dalam rumah tangga.

Selanjutnya ialah terbuka. Seorang suami harus terbuka terhadap istrinya berapa penghasilannya, begitu pula istri harus terbuka akan besaran anggaran rumah tangga beserta ke mana dan berapa pembelanjaannya (mlebune–pemasukan lan metune–pengeluaran) suami harus tahu. Intinya jangan ada dusta di antara berdua.

Dan jika terdapat kekurangan maka satu sama lain agar sama-sama menutupi akan aib dan kejelekan jangan sampai kekurangan itu kemudian diceritakan kepada orang lain. (*)

Artikel ini telah dibaca 165 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”?

18 September 2026 - 10:45 WIB

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

15 Juni 2026 - 09:49 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Grebeg Spiritual: Merebut Kembali Kedaulatan Kesadaran

12 Juni 2026 - 13:04 WIB

Lampah Samarpan

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

4 Februari 2026 - 11:37 WIB

The Root of The Peak dalam Konsep Keilmuan

7 Juni 2024 - 11:08 WIB

Akselerasi Khidmah NU dan Keberjamaahan

17 Februari 2023 - 05:47 WIB

Trending di Esai