Menu

Mode Gelap
Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (25) NU Peduli Bersama Kemenag Jepara Salurkan Bantuan Bagi Warga Dorang Belajar Dari Geomorfologi “Banjir” Eks Selat Muria, Mau Diapakan? Mbah Dimyathi: Jadi Wali Itu Mudah, Ngaji Lebih Sulit!! Ngaji Burdah syarah Mbah Sholeh Darat  ( 2 )

Hujjah Aswaja · 9 Agu 2022 01:37 WIB ·

Sembilan Nilai Warisan Gus Dur, Apa Saja?  


 Sembilan Nilai Warisan Gus Dur, Apa Saja?   Perbesar

Oleh Aji Setiawan, ST*

nujepara.or.id – KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok paket komplit. Ulama sekaligus Umaro Indonesia. Tak hanya itu, Presiden RI keempat ini juga penulis yang produktif. Sedikitnya, ada 17 buku yang berhasil ditulis Gus Dur. Itu belum termasuk karya tulis lain semisal dalam bentuk jurnal dan lain sebagainya.

Gus Dur wafat 12 tahun lalu. Tepatnya 30 Desember 2009. Setelah wafat, gagasan dan pemikiran Gus Dur tetap diperbincangkan dan dipikirkan. Mengapa Gus Dur menjadi sedemikian kuat pengaruhnya? Jawabannya bisa sangat kompleks dan beragam. Salah satunya adalah karena Gus Dur tidak hanya orang yang bicara dan menuangkan gagasan dalam tulisan, namun juga bekerja memperjuangkan apa yang ia pikirkan.

Sejarah atau biografinya dengan terang benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata. Mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi NU, hingga menjadi politikus dan presiden. Basis pemikiran dan tindakan Gus Dur yang membuatnya menjadi orang besar tentu berpijak pada pondasi nilai tertentu.     

Paling tidak, membaca Gus Dur bisa disarikan dari berbagai perjumpaan, kesaksian, tindakan, dan tentu saja beragam percikan pemikiran Gus Dur yang tersebar di berbagai tempat dan ingatan. Kita bisa menemukan nilai utama pikiran dan tindakan Gus Dur. Apa saja?

Nilai-nilai itu adalah, ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesantriaan, dan kearifan lokal. Sembilan nilai itulah yang kemudian menjadi panduan bagi para Gusdurian, murid-murid dan pengagum Gus Dur yang bertekad untuk meneruskan garis pemikiran dan perjuangannya.

Konsistensi perjuangan dan keberanian Presiden ke-4 Indonesia ini dalam menegakkan kebenaran menjadi salah satu faktor sehingga pemikirannya menginspirasi masyarakat. Kelihaian dan cara bertindak dalam mengatasi masalah juga layak menjadi contoh.

Gus Dur adalah seorang humanis dan nasionalis yang begitu mencintai rakyatnya tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan latar belakangnya. Gus Dur membuat keislaman menjadi begitu indah dan dicintai, bahkan oleh umat lain. Nilai humanisme (humaniterian islam) ini tidak lain dalam rangka mewujudkan nasionalisme dan kemanusiaan yang berkeadilan sosial.

Salah satu kecerdasan Gus Dur adalah keinginannya untuk selalu mencari dataran-dataran baru yang bisa menjadi titik temu bagi berbagai perbedaan. Tetapi titik temu yang dimaksud bukanlah sesuatu yang final. Ia hanya sebagai sebuah tempat untuk titik tolak yang darinya dapat diupayakan jawaban-jawaban baru yang lebih kreatif.   

Saat situasi kebangsaan Indonesia yang penuh dengan kekisruhan, kini banyak orang merasa sangat rindu dengan Gus Dur, dengan rangkulan humanismenya. Menelusuri alur pemikiran Gus Dur merupakan kerja ilmiah tersendiri. Pasalnya, tokoh yang satu ini selain melintas, bermain, dan terlibat langsung dalam pelbagai diskursus, Gus Dur bahkan juga telah menjadi sebuah diskursus itu sendiri.

Banyak jalan yang bisa dipakai untuk memahami kompleksitas Gus Dur, baik terkait tingkah laku politik, maupun gaya unik aktivitas Gus Dur lainnya. Di samping menengok historisitas perjalanan hidup Gus Dur, hal paling lumrah dan jamak dilakukan adalah membaca akar epistemologis dan jalan pikirannya melalui uraian-uraian tertulisnya yang tersebar dalam bermacam bentuk tulisan. Terlebih, Gus Dur sendiri terkenal sebagai penulis produktif bercakupan luas yang turut menyesaki ruang media nasional.                         

Berikut ini adalah daftar buku kaya Gus Dur yang dapat dinikmati pembaca:

*Bunga Rampai Pesantren (Darma Bahkti, 1979)

*Muslim di Tengah Pergumulan (Leppenas, 1981)

*Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (Yogyakarta: LKiS, 1997)
*Tabayyun Gus Dur (Yogyakarta: LKiS, 1998)

*Islam Tanpa Kekerasan, LkiS, Jogjakarta, 1998.
*Tuhan Tidak Perlu Dibela (Yogyakarta: LKiS, 1999)

*Membangun Demokrasi (Remaja Rosda Karya, 1999)

*Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, Kompas, Jakarta, 1999
*Islam, Negara, dan Demokrasi, Erlangga, Jakarta, 1999
*Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Grasindo, Jakarta, 1999
*Tuhan Tidak Perlu Dibela, LkiS, Jogjakarta, 1999
*Gila Gus Dur, LkiS, Jogjakarta, 2000
*Menggerakkan Tradisi, Esai-Esai Pesantren, LkiS, Jogjakarta, 2001
*Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan, Desantara, 2001

*Gus Dur Bertutur, 2005
*Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara, Demokrasi, Wahid Institute, 2006
*Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, 2007

Tidak hanya buku, artikel, ulasan di majalah serta pidato dalam bentuk audio visual juga bisa digunakan untuk mempelajari Gus Dur. Berbagai hal itu terdokumentasikan dengan baik di Yayasan Bani K.H. Abdurrahman Wahid – Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 – Jakarta 10320 – Indonesia.  Selain itu, untuk untuk membaca lengkap mengenai pemikiran dan tulisan Gus Dur, sejak 2008 telah dibuat www.gusdur.net.       

Situs ini menjadi media penyampaian gagasan Gus Dur secara utuh. Berbagai komentarnya, yang dipandang kontroversial, yang selama ini muncul karena kutipan media secara sepotong-sepotong, sehingga kurang dipahami masyarakat bisa dilihat lebih utuh. Masyarakat luas bisa mengakses pemikiran-pemikiran Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini dalam berbagai persoalan. Baik terkait demokrasi, humanisme, agama, sepakbola bahkan hingga dunia seni.

*Pengagum Gus Dur, warga Purbalingga, mantan aktivis PMII Komisariat KH Wachid Hasyim UII Jogjakarta

Artikel ini telah dibaca 428 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pendidikan Karakter Anak Pada Saat Idulfitri

19 April 2024 - 08:40 WIB

Ilustrasi santri merayakan Idulfitri.

Filosofi Makna Budaya Kupat dan Lepet dalam Perayaan Idulfitri

9 April 2024 - 05:48 WIB

Rebutan kupat lepet saat pesta lomban

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (29)

9 April 2024 - 05:03 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

9 April 2024 - 04:54 WIB

Ruh manusia ilustrasi

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (28)

8 April 2024 - 03:45 WIB

Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara), Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat.

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (27)

7 April 2024 - 05:19 WIB

Mbah Soleh Darat
Trending di Hujjah Aswaja