Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Opini · 22 Des 2019 07:55 WIB ·

Tradisi Diba’an dan Toleransi dalam Sosial Berbudaya


 Tradisi Diba’an dan Toleransi dalam Sosial Berbudaya Perbesar

Oleh: Muhammad Miqdad Sya’roni, alumnus Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara

Bagi masyarakat Islam Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia), tradisi “Diba’an” merupakan tradisi dan adat budaya untuk saling berkumpul juga bersosial. Bermajlis dan bersosialis, bersholawat ya mendapat berkat. Bermaulid sebagai wujud cinta yang valid (benar adanya) serta bersosial untuk menjadi masyarakat yang solid (kuat).

Diba’an berasal dari kata diba’ yaitu sebuah kitab maulid Nabi Muhammad Saw.  Merupakan kitab yang sudah sangat populer di Nusantara, dalam kitab tersebut tidak ada yang namanya menebar kebencian, memprovokasi untuk saling bermusuhan dan membuat fitnah yang manjadikan semakin tak terarah.

Kitab maulid diba’ berisikan sejarah junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang digubah dalam bentuk prosa yang indah atas nama cinta, serta syair-syair pujian (madah) penuh kerinduan kepada manusia terpilih sang kekasih Allah (Al Musthofa Habibullah).

Sejarah yang ditulis dalam bentuk karya sastra penuh pesona dengan metafora-metafora (salah satu majas dalam Bahasa Indonesia, dan juga berbagai bahasa lainnya. Majas ini mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis) sebagai hasil kerja imajinatif sang penulis.

Kitab diba’ ditulis oleh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba’i asy-syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-syafi’i, salah satu ulama besar yang ahli hadits (derajat Hafidz) dan ahli sejarah. Yang lahir pada 4 Muharram 866 H dan wafat hari Jum’at 12 Rajab 944 H dalam usia 78 tahun.

Tradisi diba’an bagi masyarakat Indonesia merupakan salah satu tradisi sebagai wujud kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dengan shalawatan dan pujian-pujian. Diba’an ini merupakan salah satu dari tradisi “muludan” yang biasa diharamkan oleh sebagian kaum, sedangkan muludan ini merupakan kebiasaan yang secara turun-temurun (tradisi) dijalankan oleh masyarakat Islam Nusantara.

Diba’an ini secara rutin dibaca oleh masyarakat Islam Nusantara minimal seminggu sekali di surau (langgar), majlis, mushalla, masjid, bahkan di pesantren. Bahkan saat bulan Rabi’ul Awal bisa setiap hari dibaca lebih semarak dan meriah. Atau dalam acara-acara tertentu seperti walimah (syukuran) haji, memberi nama si jabang bayi (aqiqah), nikah, pindah rumah, ulang tahun, dan seterusnya. Semua itu mengharap berkah atas Baginda Nabi Muhammad Saw dengan maulid nabi dalam bersosial di masyarakat.

Toleransi (suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya) bagi masyarakat Islam Nusantara adalah sesuatu yang berdampingan namun tetap dalam kesatuan, tetap bersosial dan berbudaya.

Kalau kita pahami, sosial itu berkaitan dengan kemasyarakatan sedangkan budaya itu suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Tradisi diba’an berkaitan dengan toleransi (saling menghormati), tetap sosial bermasyarakat dan budaya (kehidupan). semisal, dalam madah rindu ada salah satu syair dikatakan : Ya Robbi warhamna jami’a # Ya Robbi warham kulla muslim (Ya Allah … Rahmatilah (kasih sayang) kami semua # Ya Allah rahmatilah (kasih sayang) semua orang Islam.

Semua yang ada di dunia dan seluruh alam semesta berhak mendapatkan Rahmat (kasih sayang) yang bisa berwujud merasa aman, nyaman, ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan tenang dari Allah sang penguasa jagat, melalui Rahmat Sang Kekasih Allah Baginda Nabi Muhammad Saw sebagai rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi seluruh alam).

Kasih sayang ini berhak untuk siapa saja yang hidup di alam semesta ini, bagi mahluk dan hamba Allah tanpa terkecuali. Juga seluruh muslim pun mendapatkan rahmat kasih sayang.

Tradisi diba’an yang dijalankan oleh Islam Nusantara secara tidak langsung mengajarkan untuk saling menghormati walaupun kita berbeda. Dalam bermasyarakat yang majemuk dan heterogen kita seharusnya bisa meraih ketentraman dengan didasari penuh kasih sayang antar umat masyarakat, dengan kita berbudaya dalam kehidupan di masyarakat menjadikan kita bisa berdampingan namun tetap dalam kesatuan.

Kita berdoa dalam madah rindu: Ya Robb, dengan berkah mereka, berilah kami kemanfaatan. Dan dengan kehormatan mereka tunjukkan kami kepada kebaikan. (*)

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Shiddiqiyah : Thoriqoh Yang Mu’tabar (otoritatif) ataukah yang “nrecel” (Keluar Jalur) ?

15 Juli 2022 - 07:58 WIB

Jepara, Investasi Agrobisnis dan Jihad Pertanian NU

30 Mei 2022 - 02:50 WIB

Santri dan Filologi Islam Nusantara

25 April 2022 - 03:21 WIB

Mengurai Kontroversi Zakat Fitrah dengan Uang

25 April 2022 - 03:14 WIB

Belajar Natas-Nitis-Netes dari Puasa

1 April 2022 - 08:35 WIB

Visi Kerahmatan Penunjuk Jalan Gerakan

26 Februari 2022 - 07:31 WIB

Trending di Opini
%d blogger menyukai ini: