Menu

Mode Gelap
Iedul Fitri dan Hari Anti-Kelaparan Sedunia Syarat “Ngaji” di Mbah Google dan Internet Kuatkan UMKM, Ansor Jalin Kerjasama Dengan BNI Jepara NU Jepara Dukung Progam 1 Juta Vaksin Booster Suluk Mantingan : Membangun Relasi Agama, Seni dan Budaya

Opini · 15 Des 2019 09:03 WIB ·

Tuhan Tidak Perlu Dibela


 Tuhan Tidak Perlu Dibela Perbesar

Oleh : Fuad Fahmi Latif, santri Gus Dur

Di dalam kompilasi tulisan Gus Dur yang termuat pada buku “Tuhan Tidak Perlu Dibela” penulis ingat betul Gus Dur jelas-jelas memberikan otokritik yang tajam bagi para pengaku pembela agama yang oleh karena hasratnya yang berlebihan sering menabrak nilai-nilai agamanya sendiri.

Slogan, argumentasi, narasi-narasi yang diluncurkan memang kerap mengatasnamakan Agama, Nabi bahkan membawa-bawa nama Tuhannya, namun ternyata pola penyampaian dan implementasi tidak sesuai dengan konsep ruh dakwah agama.

Di dalam tulisan “Tuhan Tidak Perlu Dibela” Gus Dur menyatakan dalam sejarah, agama memang sama sekali tidak dapat dibersihkan dan sering beririsan dengan hasrat kepentingan manusiawi, sehingga pada titik tertentu mudah ditunggangi dan diseret-seret ke wilayah politis, agama dijadikan alat legitimasi dan ikut dipolarisasi untuk kepentingan kelompok tertentu.

Sehingga nama Tuhan sering diajak kampanye dibawa ke sana-ke mari seperti barang dagangan, yang mengejutkan lagi untuk menguatkan bargaining position kelompoknya, agama dimanfaatkan untuk mencari-cari momentum kesalahan lawan ediologinya dengan membuat aksi atas nama agama, bukannya ini mereduksi nilai dan tujuan luhur dari agama itu sendiri, ironis bukan?

Di dalam deklarasi persaudaraan Abu Dhabi tempo hari kemarin yang ditandatangani pemimpin umat Katholik  sedunia, yang diwakili oleh paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmad Al Tayeb sepakat bekerjasama memerangi ekstremisme.

Dokumen ini diklaim mengatasnamakan seluruh korban perang, persekusi dan ketidakadilan di dunia saat ini yang berkecamuk, yang menarik bagian Deklarasi itu berisi “Tuhan Tidak Perlu Dibela Siapapun”. Pada bagian ini menjadi antitesa segala bentuk kebencian, permusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah sesama manusia.

Inti bagian penting dokumen itu mendorong semua pihak untuk menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan dan terorisme.

Jadi bisa disimpulkan kalimat “Tuhan Tidak Perlu dibela”, hakikatnya yang harus dibela adalah misi kebenaran Agama Tuhan, manifestasinya ialah membela kemanusiaan, bukan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan Atas nama Tuhan, karena status keagungan Tuhan tidak akan berubah dan bergeser sedikit pun, meski manusia dan alam seisinya berhenti menyembah Tuhan. (*)

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Shiddiqiyah : Thoriqoh Yang Mu’tabar (otoritatif) ataukah yang “nrecel” (Keluar Jalur) ?

15 Juli 2022 - 07:58 WIB

Jepara, Investasi Agrobisnis dan Jihad Pertanian NU

30 Mei 2022 - 02:50 WIB

Santri dan Filologi Islam Nusantara

25 April 2022 - 03:21 WIB

Mengurai Kontroversi Zakat Fitrah dengan Uang

25 April 2022 - 03:14 WIB

Belajar Natas-Nitis-Netes dari Puasa

1 April 2022 - 08:35 WIB

Visi Kerahmatan Penunjuk Jalan Gerakan

26 Februari 2022 - 07:31 WIB

Trending di Opini
%d blogger menyukai ini: