nujepara.or.id – Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara menggelar kegiatan guest lecture yang diinisiasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Layanan Internasional bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UNISNU, pada Senin (16/03/2026).
Kegiatan bertajuk “Education in the Era of AI: Deep Learning and Mind Inoculation for Building Critical Literacy and Resilience Against Misinformation” ini diselenggarakan secara hybrid, yakni luring dan daring.
Pada kesempatan ini, menghadirkan dua narasumber internasional, yaitu Mirza Muchammad Iqbal, S.Psi., M.Sc. dari University of Glasgow, Skotlandia, dan Eko Widianto, S.Pd., M.Pd. dari University of Galway, Irlandia. Jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Santi Andriyani, M.Pd., dosen Program Studi Bahasa Inggris FTIK UNISNU Jepara.
Acara dibuka oleh Dekan FTIK UNISNU Jepara, Dr. Abdul Rozaq, M.Ag., yang hadir bersama jajaran Wakil Dekan, ketua program studi di lingkungan FTIK, serta Kepala UPT Layanan Internasional, Aprilia Riyana Putri, M.Pd.
Dalam sambutannya, Dr. Abdul Rozaq yang juga bertindak sebagai keynote speaker menekankan pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi, terutama di tengah derasnya arus berita di media sosial. Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
“Kita perlu menyaring berita sebelum membagikannya. Di tengah perkembangan teknologi, kita harus semakin bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi,” ujarnya.
Sementara itu, dalam sesi materi Mirza Muchammad Iqbal menyoroti pentingnya metakognisi atau kemampuan berpikir reflektif untuk menghindari kesalahan dalam memahami dan menerima informasi. Ia menilai kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar seseorang tidak mudah terjebak dalam kekeliruan berpikir.
“Kita perlu memiliki metakognisi atau daya pikir ganda agar tidak terjadi kesalahan dalam menerima informasi,” terangnya.
Narasumber lainnya, Eko Widianto, menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, tetapi juga berperan sebagai sarana membangun critical literacy atau literasi berpikir kritis. Dengan kemampuan tersebut, peserta didik diharapkan mampu membedakan informasi yang benar dan yang tidak benar.
“Bahasa merupakan alat untuk membangun critical literacy, sehingga kita mampu membedakan informasi yang benar dan yang keliru,” pungkasnya.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara, baik yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti melalui Zoom Meeting.