Menu

Mode Gelap
Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

Kabar · 7 Mar 2026 10:50 WIB ·

Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta


 Sumungku Manembah: Ketundukan Mutlak Alam Semesta Perbesar

nujepara.or.id – Di Ramadan 1447 H ini, ketika ayat-ayat suci kembali mengalun di lisan kita, pernahkah hati benar-benar bergetar dalam batin saat membaca firman-Nya:

“Lahu ma fis-samawati wal-ardh…” (QS. Al-Baqarah: 116–117)

Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Bukan hanya gunung dan bintang, bukan hanya yang tampak dan teraba—bahkan napas yang keluar-masuk dalam dada ini pun bukan kuasa kita.

Dalam perenungan yang dalam, ayat ini seolah bertransformasi menjadi sebuah simfoni ketundukan. Saya mencoba meresapi ‘inspirasi ilahi’ makna ‘qānitūn‘ ini – ketundukan mutlak alam semesta- ke dalam rasa bahasa yang lebih dekat dengan akar budaya kita. Sebuah ‘mantra batin’ yang menyatukan dzikir langit dan sastra bumi.

Manunggal Ing Karsa

Mengakui kepemilikan Tuhan sejatinya adalah meluruhkan ego. Dalam bahasa batin, ia berbisik:

“Ing dhuwur langit, ing ngisor bumi, kabeh kagungan-Nira. Tan ana kang ucul, tan ana kang mbalela. Sedaya sumungku, manembah ing sajroning sabda ‘Kun’.”

Seketika, batin menyahut dalam kepasrahan:
“Segala yang tampak, segala yang senyap, langit merunduk, bumi bersujud. Tiada aku, tiada makhluk, hanya Engkau yang Mutlak. Aku tunduk dalam arus Kehendak-Mu.”

Namun, di balik ketundukan itu, ada daya yang dahsyat. Ketika kita benar-benar “nol” dan tunduk, saat itulah otoritas ‘Kun Fayakun’ bekerja. Sang Pencipta Keajaiban (Badi’) tidak menciptakan dari sesuatu yang ada, melainkan mewujudkan dari ketiadaan.

“Gusti Ingkang Murba ing Tanpa Rupa… Satitahing karsa, sakersaning lathi; ‘Kun’ sabda-Mu, ‘Fayakun’ dadi-Mu. Sakedhep netra, jagat saisine wujud karsa.”

Satu Napas, Satu Kehendak

Jika boleh saya sarikan dalam satu tarikan napas kesadaran, intinya hanya satu:
“Kagungane Gusti, Karsane Gusti, Ya Badi’ Yo Dadi!”.
(Pemiliknya Tuhan, Kehendaknya Tuhan, Terwujudlah!).

Baca Juga : Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada

Saat menarik napas, saya sadari kepemilikan-Nya.
Saat menahan napas, saya rasakan ketundukan seluruh atom raga saya.
Dan saat menghembus napas, saya biarkan kehendak-Nya yang mewujud, bukan ambisi saya.
Sebuah irama simfoni ketundukan mengalun meluruhkan ego, rasa dan karsa.

‘Mantra’ ini bukan sekadar kata, tapi sebuah frekuensi. Sebuah cara untuk pulang ke titik nol, di mana hanya ada Dia, dan kita hanyalah saksi atas keajaiban-Nya yang tak kunjung usai. ‘Mantra’ ini bukanlah sebuah permohonan, melainkan penyelarasan frekuensi.

Saat kita mengakui bahwa diri ini adalah milik-Nya (Lahu) dan tunduk pada irama-Nya (Qanitun), maka daya cipta-Nya (Kun) akan mengalir melalui laku hidup kita.

Mugi-mugi dadi pepadhang.
“Sapa sing temen, tinemu. Sapa sing pasrah, diparingi.”
(Siapa yang sungguh-sungguh, akan menemukan. Siapa yang pasrah total, akan diberi.)

Rahayu.
Segala puji bagi Sang Pemilik Sabda.


Selasa, 24 Pebruari 2026
6 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso

Note :
{ وَقَالُوا۟ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدࣰاۗ سُبۡحَـٰنَهُۥۖ بَل لَّهُۥ مَا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ كُلࣱّ لَّهُۥ قَـٰنِتُونَ (116) بَدِیعُ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰۤ أَمۡرࣰا فَإِنَّمَا یَقُولُ لَهُۥ كُن فَیَكُونُ (117) }
[Surat Al-Baqarah: 116-117]

Artikel ini telah dibaca 73 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I

26 Agustus 2026 - 21:58 WIB

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid

16 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Ula | Loji Gunung Donoroso

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa

16 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara
Trending di Kabar