NU JEPARA- Di tengah himpitan harga kebutuhan pokok yang ugal-ugalan, ancaman pemutusan hubungan kerja, dan panggung politik yang kian sibuk mengocok ulang kekuasaan demi kepentingan segelintir lingkaran, kita diam-diam sering digerogoti rasa cemas yang teramat dingin: Kepada siapa sebenarnya kita bisa menyandarkan nasib dan masa depan keluarga kita besok pagi?
Kita panik, lalu pontang-panting mengejar selembar jabatan, memburu relasi ‘orang dalam’, hingga menumpuk tabungan mati-matian—berharap semua tembok duniawi itu sanggup menjadi tempat menaruh rasa aman. Namun, makin keras kita menggenggam, mengapa dada kita justru makin sesak dan ketakutan?
Tanpa sadar, kita sedang terjebak dalam ilusi fatal: kita mencoba menaruh hati dan harapan di atas tanah yang sedang runtuh.
Wahai jiwa yang lelah, sadarkah engkau bahwa selama ini kita sedang meminum air laut untuk memadamkan dahaga? Mengapa engkau terus meratap menaruh hatimu pada tembok yang sama-sama rapuh dan bisa roboh kapan saja?
Kitab Suci telah lama membongkar rahasia batin ini dengan teramat tajam: rasa aman sejati tidak pernah bisa dibeli dari makhluk.
Ketika kita memutus ketergantungan pada ilusi duniaku ini dan mengunci total sandaran hidup hanya kepada Allah, Rasul, serta solidaritas sesama kaum beriman yang menjaga salatnya, di situlah kecemasan kita seketika mendadak runtuh.
Kita tidak lagi bisa diintimidasi oleh keadaan, karena poros tempat kita menaruh hati telah berpindah dari makhluk yang fana menuju Sang Penguasa Mutlak.
Maka, mari runtuhkan kesombongan batin kita hari ini juga dengan mengambil langkah nyata: rapikan kesadaran vertikal kita melalui salat yang tidak lagi terburu-buru, lalu alirkan kepedulian sosial kita lewat zakat dan berbagi tanpa sedikit pun merasa bangga diri.
Ingatlah rahasia terbesarnya: berbagilah dalam keadaan ruku’—kondisi batin yang hampa dari ego merasa menjadi pahlawan atau pemberi. Saat tangan kita terulur membantu sesama, tundukkan jiwa sedalam-dalamnya dan sadari bahwa kita hanyalah pipa saluran rezeki-Nya; kita tidak sedang menyelamatkan siapa pun, justru jiwa kitalah yang sedang diselamatkan.
Ketika keikhlasan dan persaudaraan murni ini menyatu, kemenangan sejati (al-ghālibūn) otomatis menjadi milik kita: sebuah kedamaian batin yang tak akan pernah bisa diguncang oleh krisis apa pun di dunia ini.
@Ula 555-56 | Loji Gunung Donoroso











