Oleh : H. Hisyam Zamroni
Tiga puluh lima tahun merupakan usia yang matang bagi sebuah perguruan tinggi untuk meneguhkan jati diri sekaligus memperluas pengaruhnya. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-35 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara bukan sekadar momentum seremonial.
Melainkan kesempatan untuk merefleksikan perjalanan historis sekaligus merumuskan arah masa depan sebagai perguruan tinggi yang memberi harapan bagi mahasiswa, masyarakat, bangsa, dan dunia.
Secara historis, UNISNU Jepara tumbuh di tanah yang melahirkan tokoh-tokoh besar Nusantara. Spirit kepemimpinan Ratu Shima menghadirkan teladan integritas hukum dan keadilan. Keberanian Pate Unus mencerminkan visi maritim dan semangat mempertahankan kedaulatan. Kepemimpinan Ratu Kalinyamat menunjukkan keteguhan, diplomasi, dan keberanian perempuan dalam percaturan global abad ke-16.
Tradisi intelektual RM. Sosrokartono memperlihatkan pentingnya ilmu pengetahuan yang berpadu dengan kemanusiaan, sementara R.A. Kartini mewariskan nilai emansipasi, pendidikan, dan pembebasan melalui ilmu. Jejak sejarah tersebut merupakan modal kultural yang sangat berharga bagi pengembangan identitas akademik UNISNU Jepara.
Namun, perguruan tinggi abad ke-21 tidak cukup hanya berbangga pada sejarah. Dalam perspektif Global Village yang diperkenalkan Marshall McLuhan, dunia telah menjadi ruang yang saling terhubung.
Kompetisi ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi berlangsung melampaui batas negara. Karena itu, UNISNU Jepara perlu membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, riset internasional, dan jejaring global tanpa kehilangan akar budaya lokal.
Transformasi tersebut semakin relevan bila dipadukan dengan gagasan Pedagogy of Hope Paulo Freire yang menempatkan pendidikan sebagai proses membangun harapan, membebaskan, dan memberdayakan manusia.
Perguruan tinggi harus melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial. Di saat yang sama, pendekatan Pedagogy of the Heart mengingatkan bahwa pendidikan sejati harus bertumpu pada empati, kasih sayang, integritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
Sinergi antara sejarah lokal, wawasan global, pendidikan berbasis harapan, dan pendidikan yang menyentuh hati menjadi fondasi strategis bagi UNISNU Jepara memasuki dekade berikutnya.
Kampus tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga pusat lahirnya inovasi, kepemimpinan, kewirausahaan, dan pengabdian kepada masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Penutup
Memasuki usia ke-35, UNISNU Jepara diharapkan semakin mengukuhkan diri sebagai universitas berkelas yang berpijak kuat pada kearifan lokal Jepara sekaligus mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Dengan memadukan warisan sejarah para pendahulu dan visi pendidikan global, UNISNU bukan hanya menjaga estafet peradaban, tetapi juga menyalakan harapan bagi lahirnya generasi unggul yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing global.
Itulah makna sejati perguruan tinggi yang hadir untuk membangun masa depan Indonesia dan memberi kontribusi bagi peradaban dunia.
Referensi
- Freire, Paulo. Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 1994.
- Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 1970.
- McLuhan, Marshall. Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill, 1964.
- Altbach, Philip G., Liz Reisberg, and Laura E. Rumbley. Trends in Global Higher Education. Paris: UNESCO, 2009.
- Barnett, Ronald. The Idea of Higher Education. Buckingham: Open University Press, 1990.
- Marginson, Simon. Higher Education and the Common Good. Melbourne University Press, 2016.
- John Henry Newman. The Idea of a University. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1982.
Penulis adalah Alumni Prodi Akta IV Fakultas Tarbiyah UNISNU Jepara dan Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara










