Menu

Mode Gelap
Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

Kabar · 15 Sep 2026 21:34 WIB ·

Panggung Sandiwara Kehidupan: Di Mana Akhir Perburuan Kita?


 Panggung Sandiwara Kehidupan: Di Mana Akhir Perburuan Kita? Perbesar

NU JEPARA- Bayangkan hidup kita seperti lakon di atas panggung sandiwara yang megah. Waktu kecil, kita memainkan peran anak-anak yang hanya ingin main-main. Beranjak remaja, babak pertunjukan berubah menjadi pencarian hiburan agar kita tidak bosan.

Masuk usia muda, topeng penampilan kita kenakan—baju merek apa yang dipakai dan bagaimana citra kita di mata penonton. Begitu dewasa, ego memegang kendali panggung; kita memamerkan peran jabatan, bangga saat ditepuk tangani, hingga akhirnya di babak tua kita panik menumpuk harta demi memuaskan rasa aman.

Tanpa sadar, kita sedang menghabiskan seluruh energi kehidupan hanya untuk memainkan peran pengejar bayangan.Allah mengibaratkan seluruh panggung perburuan kita ini seperti petani yang takjub melihat tanamannya tumbuh hijau dan subur setelah disiram hujan. Indah sekali, bukan?

Namun perhatikan bagaimana babak itu berakhir: tanaman itu perlahan layu, warnanya berubah menguning, lalu remuk hancur menjadi debu yang diterbangkan angin.

Seperti itulah takdir akhir dari panggung yang kita agungkan—mobil mewah, rumah megah, jabatan mentereng, bahkan tubuh yang kita rawat setiap hari. Semua aset perburuan yang kita genggam erat-erat hari ini, pada akhirnya hanyalah properti panggung yang akan hancur menjadi debu.

Lalu, kenapa kita masih sering merasa hampa di tengah riuhnya tepuk tangan dunia? Karena jauh di dalam batin, jiwa kita tahu bahwa arena sandiwara ini tidak akan pernah bisa mengenyangkan rasa lapar spiritual.

Seluruh perlombaan materi ini hanyalah perdayaan sementara yang membius kesadaran. Kita dibuat terlalu lelah memburu hal-hal yang akan sirna, hingga lupa menyiapkan bekal untuk pulang saat tirai pertunjukan ditutup.

Padahal di balik panggung nanti, hanya ada dua tempat akhir perburuan yang menunggu kita: kebingungan dan penyesalan yang teramat sangat, atau ampunan dan rasa damai yang abadi.Mulai detik ini, tancapkan kata *“I‘lamu” (Sadarilah!)* ke dalam relung batin terdalam kita.

Jangan biarkan diri kita terus tertidur dan menganggap panggung sandiwara ini sebagai kenyataan hakiki. Tetaplah bekerja, berkarya, dan mencari rezeki, tetapi perlakuanlah semuanya sekadar sebagai sarana peran di tangan—jangan pernah biarkan masuk dan menguasai panggung hati kita.

Ketika kita berhenti menjadikan dunia sebagai poros hidup, hati kita tidak akan lagi runtuh saat peran kita berganti, dan tidak akan sombong saat menerima pujian.Mari kita lepas topeng ego, dan langkahkan kaki dengan lebih ringan menuju tempat kembali.

Di sanalah jawaban akhir dari perburuan kita: *keridaan Allah Swt*. Sebab ketika keridaan-Nya sudah kita genggam, pertunjukan hidup kita tidak berujung pada kehampaan, melainkan bermuara pada kedamaian sejati di dunia dan rumah tinggal yang abadi di akhirat.

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ… بِرِضَاكَ نَعِيشُ، وَعَلَى رِضَاكَ نَمُوتُ، وَتَحْتَ ِظِلِّ رِضْوَانِكَ نُبْعَثُ.يَا رَضِيُّ يَا مَرْضِيُّ، ارْضَ عَنَّا رِضَاءً يُصْلِحُ لَنَا الشَّأْنَ كُلَّهُ، وَارْضِنَا بِكَ حَتَّى لاَ نَسْخَطَ عَلَى قَضَائِكَ، وَلاَ نَرْكَنَ إِلَى سِوَاكَ.

“Wahai Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri… dengan keridaan-Mu kami hidup, di atas keridaan-Mu kami mati, dan di bawah naungan keridaan-Mu (Riḍwān) kami dibangkitkan.

Wahai Yang Maha Rida dan Yang Diridai, ridailah kami dengan keridaan yang memperbaiki seluruh urusan kami, dan jadikanlah kami rida atas-Mu (atas segala takdir-Mu) hingga kami tak pernah lagi meragukan ketetapan-Mu dan tidak bersandar pada selain-Mu.”

@Ula 5720 | Loji Gunung Donoroso

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I

26 Agustus 2026 - 21:58 WIB

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid

16 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Ula | Loji Gunung Donoroso

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa

16 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara
Trending di Kabar