nujepara.or.id — Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa usai perombakan di internal Kemenkeu serta pengusutan KPK atas dugaan suap perizinan lahan Rp106,3 miliar di lingkaran Nusron Wahid —yang mengundang sorotan terkait dugaan alokasi dana ke ruang-ruang publik hingga ajang organisasi—menjadi cermin keras: benteng etika, birokrasi, hingga lembaga publik kita sedang diuji hebat.
Kondisi ini persis pembacaan Ranggawarsita tentang pergeseran dari Kalatida menuju Kalabendu—zaman ketika niat pembenahan tersingkir, pragmatisme merambah setiap institusi, hingga berujung pada krisis kepercayaan publik.
Krisis ini sejalan dengan peringatan QS. Al-Hasyr: 18 (“hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”). Bencana sosial hari ini adalah panen pahit dari akumulasi keserakahan dan pembiaran kita sendiri.
3 Rambu Waspada (Navigasi Akal Kritis)
Membongkar Pencitraan Elite: Jangan silau oleh narasi perbaikan atau gimik politik. Ukur integritas pejabat murni dari transparansi dan rekam jejak eksekusinya.
Mengawal Anggaran & Hukum: Ikuti perkembangan kasus perizinan dan penggunaan uang publik. Jangan biarkan skandal penyalahgunaan wewenang menguap ditutup sensasi baru.
Menjaga Kedaulatan Berpikir: Gunakan akal sehat dan data terverifikasi. Menolak diperalat oleh framing media sosial atau membela kelompok secara buta.
3 Rambu Eling (Konsistensi Kompas Moral)
Memutus Rantai Pungli & Suap: Jangan pernah memaklumi kompromi jalur pintas atau praktik koruptif sekecil apa pun dalam urusan harianmu.
Memisahkan Jabatan dari Kebenaran: Kedudukan tinggi maupun gelar keagamaan bukan jaminan integritas. Kebenaran terletak pada prinsip kejujuran yang konsisten.
Bertahan dalam Prinsip Etis: Di tengah lingkungan yang memaklumi kecurangan, tetap jujur memang terasa berat. Namun, kompromi etika hanya akan memperpanjang umur zaman yang rusak.
Siapa “Satria Piningit” yang Kita Tunggu?
Zaman pembaruan (Kalasuba) tidak akan hadir jika kita hanya pasif menunggu hadirnya sosok juru selamat mistis.
Dalam QS. Al-Hasyr: 18, perintah wattaqullah (dan bertakwalah kepada Allah) diulang sebanyak dua kali. Ini bukan sekadar pengulangan kata, melainkan jangkar ganda:
Jangkar Kesadaran Kritis (Waspada): Takwa pertama membentengi akal agar wal tandhur nafs (proses mengamati dan menganalisis keadaan) tidak terjebak menjadi skeptisisme yang melumpuhkan atau anarki.
Jangkar Konsistensi Moral (Eling): Takwa kedua menjadi alasan mendasar mengapa seseorang menolak untuk “ikut gila” (melu edan).
Maka, Satria Piningit modern bukanlah sosok mistis yang sakti mandraguna, melainkan manifestasi kolektif dari sikap wattaqullah: keteguhan jiwa untuk tetap memegang prinsip kebenaran di tengah krisis moral, yang mewujud dalam aksi nyata eling lan waspada.
Satria Piningit yang sejati adalah kesadaran kolektif kita sendiri. Ia lahir dari nilai wattaqullah—keberanian moral untuk menolak ikut gila, berdiri di atas prinsip hukum yang adil, dan secara konsisten menjaga kesadaran eling lan waspada.
Oleh : @Ula 5918 | Loji Gunung Donoroso











