Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

Hujjah Aswaja · 12 Apr 2023 01:54 WIB ·

“Kenduri Khataman”  dan “Tuntasnya Bacaan”: Terbukti Menjaga Indonesia dari Ideologi Merusak 


 “Kenduri Khataman”  dan “Tuntasnya Bacaan”: Terbukti Menjaga Indonesia dari Ideologi Merusak  Perbesar

Oleh Murtadho Hadi*

nujepara.or.id – Apakah artinya “di penghujung Ramadhan” bagi para santri? Tentunya selain kerinduan (“syauq”) dan hati yang bergetar menunggu-nunggu “kenduri khataman”, namun jauh lebih penting daripada itu adalah “leganya hati” karena telah “menuntaskan bacaan”. 

Efek “Bacaan Yang Tidak Tuntas” 

Kenapa para kyai dan santri sangat mengagungkan “khataman”? Karena bacaan yang tidak tuntas, sering-sering jadi “benalu” dan menjadi “problem” bagi pemahaman. Otak laksana telur yang setengah dierami; terlepas dari “kemurniannya” alias sudah ada noktah darah dan tidak pernah menetas. Inilah pangkal dari “carut-marutnya berpikir” dan “sistem penalaran yang “fasid” (rusak). 

Menolak “Jahil-Murokkab”  

Dalam bab ini: “lugu” (bulhu) akan lebih selamat daripada “segolongan kaum” yang memasuki ruang remang-remang dari pemahaman (pengetahuan) dan tidak pernah menuntaskan “bacaan”. Ujungnya adalah menjadikan “sempitnya pemahaman” sebagai “isme yang tertutup” (yaitu ideologi) yang menolak kritik.

Otak dan hatinya jadi mengeras alias “jahil-murokkab”. Sedang “praktek-ngamaliyahnya” dan “basis-aqidahnya” didasarkan pada “istidlal-bighoiri-dalil” (atau: “mencari dalil yang bukan dalil”). Dan di dalam banyak hal dan kesempatan, begitulah cara segolongan kaum telah berani membid’ahkan para ulama yang berilmu bahkan berani “mengkafirkan”. 

Benteng Dari Isme Merusak 

Mengagungkan “khataman” (tuntasnya bacaan) adalah mengagungkan runtutnya sistem berpikir dan “akal yang sempurna”. Ia telah menjadi “hujjah” dan “benteng yang kokoh” bagi bangsa Indonesia di tengah silang sengkarutnya isme-isme yang bertebaran dan berpotensi mengoyak “keberislaman” dan “keindonesiaan”.

Namun tahukah anda betapa “berat” dan “masyaqotnya” para guru-guru dan Kyai (yang masyaa-Allah ada beberapa yang sudah sepuh) tapi tetap mendampingi para santri membaca kitab dari berbagai sepesifikasi dan “fann”.

Tradisi ini biasanya dimulai dari 15 Sya’ban dan berakhir di penghujung Ramadhan (non-stop, ngaji siang dan malam hanya jeda beberapa jam untuk istirahat, sholat, buka dan sahur). Meskipun di bulan-bulan tertentu juga ada khataman: semisal Muharrom, Dzul-hijjah, dan Rojab.

Tradisi Santri Dan Kyai

Maka tak heran : para Kyai yang membaca kitabnya sudah sampai pada taraf “seni” (karena sudah bertahun mujahadah dan “wiridan”; yaitu cepat, jelas dan enak didengar). Terkadang dengan berbagai “langgam” dan “tembang”. Di sini, masing-masing Kyai dan santri: ada yang merampungkan atau khatam Shohih Bukhori 4 jilid, Shohih Muslim 4 jilid, hadis Muwattho’ Imam Malik. 

Ada juga yang mengkhatamkan Tafsir Jalalalain, Tafsir Munir 2 jilid, dan Tafsir Showi 4 jilid, ihya 4 jilid, Sirojut-Tholibin 2 jilid, sampai pada risalah-risalah kecil semacam Nuruz-Zholam (Syarah Aqidatul Awam), Nasho’ihul Ibad, Irsyadul Ibad, Hadis Tanqih, Tijan Durori, dan bahkan Hadist Arba’in (40 hadits Imam Nawawi) dan juga fan-fan Ilmu Nahwu (tata bahasa) dan cabang-cabang keilmuan Fiqih: dari yang sederhana semisal Sullam Taufiq, Safinah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in,  sampai muhaddzab dan Fathul Wahab.

Bahkan sampai yang agak tergolong aneh di Kediri Jawa Timur: wacana dari induk kitab mistik: semisal Syamsul Ma’arif Kubro, dan Mamba’, Sirrul Jalil, Minhajul-Hanif, dan Fawa’id, dan  Abu Ma’syar Al-Falaky tetap dibaca para kyai.

Inti dari semuanya adalah “penghargaan” dan mengagungkan khataman, dimana tempat nyambung (shillaturruhi) dengan para penulis (muallif kitab), menjaga keabsahan “matarantai sanad” keilmuan, dan ajang disisipkannya doa-doa keberkahan dan hajat-hajat yang sebelumnya tertutup dengan “khataman” niscaya bi-idznillah menjadi “terijabah”.

Semua kyai dan orang berilmu pasti mengagungkan khataman, (semisal mengingat Abuya Dimyathi al-Bantani) walaupun itu khatam 40 hadits dari  Arba’in-Nawawi, beliau tak segan-segan menyembelih kerbau atau kambing dalam acara “ngariyung” (kenduri besar-besaran: semua santri makan enak).

Kenapa? Jawabannya sudah pasti: “menghargai tuntasnya bacaan: menghargai ilmu”. Karena bacaan yang tidak tuntas hanya akan merusak dan menghancurkan nalar dan pemikiran (“jahil-murokkab”).*

*Sastrawan dan Budayawan, Pengurus LTN NU Jepara

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Membuka Gembok “Penjara Digital”, Menjemput Jiwa yang Tertinggal di Balik Layar

9 April 2026 - 16:46 WIB

UNISNU Jepara Gelar GLOCAL Dialogue Series 2026, Angkat Peran Budaya Lokal di Kancah Global

8 April 2026 - 18:39 WIB

Digelar di Jepara, Kitab Karya Ulama Nusantara akan Dipamerkan di Forum Bahtsul Masail Jateng

6 April 2026 - 12:18 WIB

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Trending di Kabar