Menu

Mode Gelap
Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada Ratusan Peserta Ramaikan EduTechnoFest 2026 FTIK UNISNU Jepara, Ini Daftar Juara Tiap Lomba Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Ratu Kalinyamat Buku Kita : Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara Buku Kita : Mawa’idh Qur’aniyyah Ulama Nusantara

Interaktif Ramadan · 25 Feb 2026 14:19 WIB ·

Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada


 Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada Perbesar

Refleksi Memaknai QS. Al-Baqarah 115: Sebuah perjalanan Pulang ke Jagad Alit

nujepara.or.id – Setelah capek ‘nyapu’ di plataran ‘Loji Gunung Donoroso’ tadi sore, saat dalam perjalanan pulang ke rumah, ‘mak bedunduk’ menyeruak dalam pikiran keinginan untuk ‘diam’, bahwa selama ini, saya mengira pencarian spiritual adalah perjalanan mendaki gunung-gunung tinggi atau bersujud di rumah-rumah ibadah yang megah.

Saya mencari Tuhan di garis horison; di ufuk Timur saat fajar menyingsing, dan di ufuk Barat saat senja meredup. Saya sibuk mengejar “jarak”, tanpa menyadari bahwa jarak itu sendiri adalah ilusi.

Dalam ‘diam hening’ yang menyesakkan ini, saya berhenti berlari. Saya menutup mata dan mulai memasuki pintu gerbang ‘Jagad Alit’ —alam semesta yang tersembunyi di dalam raga saya sendiri sambil memandang pohon kantil dan kenanga yang baunya menyebar harum.

Selama ini, saya mengira perjalanan mendekat kepada Tuhan adalah usaha eksternal: mendaki tempat tinggi, mendatangi bangunan ibadah yang megah, atau mencari pengalaman religius di ruang-ruang tertentu. Saya membayangkan Tuhan berada “di sana” — di ufuk timur saat fajar, atau di ufuk barat saat senja. Tanpa sadar, saya mengejar jarak, seolah-olah Tuhan berada di titik tertentu yang harus dicapai.

Ingatan saya tertuju pada sebaris ayat “…fainama tuwallu fatsamma wajhullah… (…Ke mana pun kau berpaling, di situ ada Wajah Allah…., Al-Baqarah: 115)”.

Tiba-tiba, makna ayat itu meledak di dalam kesadaran saya. Jika Dia Maha Luas (Wasi’), maka Dia tidak mungkin berada di “sana” tanpa berada di “sini”.

“Gatra Amisesa: Menyingkap Rahasia Jagad Alit di Antara Helaan Napas”

Saya mulai mengatur napas, menyelaraskan frekuensi batin dalam kesadaran yang membisikkan:

“Ngetan-ngulon, amung Gatra-Mu kang Amisesa.” (Ke Timur atau Barat, hanyalah Esensi-Mu yang Meraja.)

Saat kata “Amisesa” (Maha Meliputi) itu bergema dalam Jagad Alit saya, Tuhan tidak lagi hadir sebagai sosok, melainkan sebagai “Gatra” —sebuah Kehadiran Mutlak yang tak berwarna namun memberi warna pada segalanya. Saya menyadari bahwa setiap kali jantung saya berdetak, itu adalah bukti bahwa Sang Maha Mengetahui (‘Alim) sedang “menulis” kehidupan di dalam diri saya.

Tuhan Tidak Pernah Jauh, kita Saja yang Terlalu Sibuk Mencari Arah.
Saya tidak perlu lagi menatap langit untuk mencari keberadaan-Nya. Karena di dalam setiap molekul oksigen yang saya hirup, ada jejak langkah-Nya. Di dalam setiap sel saraf yang menghantarkan pikiran, ada cahaya-Nya.

“Kiblat Ing Kiblat: Sejatinya Pulang Tanpa Harus Beranjak”

Ternyata, ibadah yang paling jujur adalah saat kita menyadari bahwa diri kita yang kecil ini hanyalah sebuah titik di hamparan kasih sayang-Nya yang tak bertepi. Kita adalah setetes air yang merasa terpisah dari samudra, padahal di setiap tetesnya, seluruh samudera itu hadir.

Ibadah akhirnya bukan hanya soal menghadap kiblat secara fisik, melainkan meluruskan orientasi batin. Kesadaran inilah yang membuat pencarian berubah menjadi kepulangan.

Kini, saya tidak lagi mencari arah. Karena ke mana pun pikiran saya melompat, ke mana pun rasa saya hinggap, saya selalu “bertemu” dengan-Nya.

Diri saya yang terbatas ini, ternyata adalah rumah bagi Sang Tak Terbatas. Saya telah pulang, tanpa perlu beranjak satu inci pun.

“…irji’i ila robbiki rodliyatan mardliyyah…”.
Ramadlan yang penuh rahmat dan berkah, Alhamdulillah.


Senin, 23 Pebruari 2025
5 Ramadlan 144H
@Ula – Loji Gunung Donoroso
Oleh : H.M. Ulul Abshor – Wakil Katib Syuriah PCNU Jepara

Note:
{ وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمࣱ }
[Surat Al-Baqarah: 115]

{ ٱرۡجِعِیۤ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِیَةࣰ مَّرۡضِیَّةࣰ }
[Surat Al-Fajr: 28]

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

4 Februari 2026 - 11:37 WIB

Panembahan Juminah Mantingan, Murid Sunan Jepara yang Ahli Strategi Perbekalan Perang

7 Juli 2024 - 11:20 WIB

Menyingkap Makna Perintah Membaca dalam Al-Qur’an

24 Maret 2024 - 11:48 WIB

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (5)

16 Maret 2024 - 04:48 WIB

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (3)

14 Maret 2024 - 04:02 WIB

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat ( 2 )

13 Maret 2024 - 04:42 WIB

Trending di Hujjah Aswaja