Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Hujjah Aswaja · 1 Apr 2024 04:56 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadhan : Tradisi “Maleman di 10 Hari Akhir Bulan Ramadhan


 Ngaji Tematik Ramadhan : Tradisi “Maleman di 10 Hari Akhir Bulan Ramadhan Perbesar

Oleh : Kiai Hisyam Zamroni (Wakil Ketua PCNU Jepara)

nujepara.or.id- Motivasi Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW menghidupkan 10 akhir bulan Ramadhan memberikan “inspirasi cerdas” para Awliya Nusantara dengan membuat “Tradisi Maleman”.

Tradisi “Maleman” adalah sebuah perilaku keberagamaan yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam menghidupkan 10 malam terakhir, — khususnya tanggal tanggal ganjil yaitu tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29, — di bulan Ramadhan yang di isi dengan; I’tikaf, Shalat Lailatul Qodar, Shalat Tahajjud, Shalat Tasbih, Shalat Taubat, Shalat Hajat dan Dzikir Istighotsah dalam upaya “branjang” datangnya Lailatul Qodar.

Acara Tradisi “Maleman” menjadi “penanda” bahwa bulan Ramadhan sudah memasuki hari 10 akhir di mana pada jam tengah malam, — pukul 24.00 WIB, — tanpa “dikomando” masyarakat berbondong bondong menuju masjid masjid dan musholla musholla untuk melakukan “Ritual Maleman” yaitu; I’tikaf, Shalat Lailatul Qodar, Shalat Tahajjud, Shalat Tasbih, Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan diakhiri dengan dzikir istighotsah untuk munajat kepada Gusti Allah SWT dengan keyakinan penuh bahwa tanggal tanggal ganjil di 10 hari akhir bulan Ramadhan adalah malam 1000 bulan Lailatul Qodar.

Dari sana kita tahu, bahwa perjumpaan “teks agama” dan “penciptaan budaya” memiliki daya “dorong” perilaku keberagamaan yang kontekstual, sistemik, inspiratif dan aplikatif yang terkadang ada orang “salah tafsir” menyatakan bahwa perilaku keberagamaan “Tradisi Maleman” adalah tidak termaktub dalam teks agama padahal “Tradisi Maleman” adalah sebuah “Tafsir Cerdas” terhadap Dawuh Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW tentang menghidupkan 10 hari akhir di bulan Ramadhan yang begitu banyak.

Semoga kita menjumpai Lailatul Qodar melalui “tradisi maleman” yang kita laksanakan.. Aamiin Ya Robbal Aalamiin

Artikel ini telah dibaca 353 kali

Baca Lainnya

Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis

30 April 2026 - 11:53 WIB

Penulis adalah Pendiri MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa Jepara, Kepala MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa (2000 - 2015), dan Pernah Menjadi Komisioner Dewan Pendidikan Jepara

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH

29 April 2026 - 09:36 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini
Trending di Budaya