Menu

Mode Gelap
Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu? Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan? Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

Kabar · 14 Agu 2022 02:02 WIB ·

Perkemahan Satu Hari : 
Kecerahan Anak Yang Mulai “Bangkit”


 Perkemahan Satu Hari : <br>Kecerahan Anak Yang Mulai “Bangkit” Perbesar

Oleh H Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Satu hari satu malam, saya membersamai adik adik siaga se Kecamatan Tahunan Jepara  yang begitu cerah ceria enjoy renyah mengikuti acara Perkemahan Satu Hari di Lapangan Bunderan Ngabul dalam rangka menyambut Hari Pramuka ke –  61. 

Keceriahan adik adik siaga mengisyaratkan adanya “kemerdekaan” berekspresi karena selama dua tahun mereka “terkungkung” tidak sekolah secara bertatap muka, tidak bermain dan tak ada pentas seni. Kondisi ini yang oleh Paulo Friere disebut Pendidikan “tertindas”. 

Pramuka Indonesia adalah salah satu wahana pembelajaran dengan metode “bahagia” dan “tuntas”. Metode “bahagia” dalam pembelajaran di pramuka menjadikan anak menerima dan menyerap pelajaran  tidak monoton dan menjemukan yang justru sekarang ini “ditiru” oleh pendidikan formal yang menuntut guru membuat pendekatan pembelajaran sehingga anak didik bisa menyerap mata pelajaran dengan “bahagia” dan berpengharapan, yang oleh Paulo Freire disebut “pedagogy of hope”. 

Di sisi lain, Pramuka mengajarkan materi dengan “tuntas”. Adik adik saat menerima materi bisa langsung dipahami dan dipraktekkan. Pembelajaran “unggul” di atas, begitu “dikangeni” oleh adik adik anggota pramuka karena memiliki daya “interaksional” yang kuat antar anggota pramuka. 

Daya interaksional antar anggota pramuka memupuk keakraban, kesepahaman, kasih sayang, dan tolong menolong tanpa membedakan asal mereka baik agama, suku dan ras. Hal ini menjadikan  pembelajaran “toleransi” sejak dini yang sekarang ini dibutuhkan dan harus dikembangkan. Pembelajaran “toleransi” yang dilakukan oleh pramuka secara terstruktur dari tingkat siaga, penggalang, penegak, pandega sampai kepada pembina.

Konsekwensinya pembelajaran “toleransi” di Pramuka adalah menggunakan metode “pembiasaan” di  setiap jenjang, dan setiap waktu. Dari keterangan di atas, sungguh, pramuka adalah “fenomena” yaitu mendidik adik adiknya dengan metode “bahagia” yang tuntas dan berpengharapan. 

Selamat Hari Pramuka ke 61. Semoga Pramuka tetap Jaya. Aamiin YRA

*Pinsako Pramuka Maarif Kabupaten Jepara

Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia

Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

23 Juli 2026 - 22:48 WIB

ILUSTRASI gadget menjadi "berhala" baru manusia modern

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

15 Juli 2026 - 13:21 WIB

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

15 Juli 2026 - 12:31 WIB

Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara
Trending di Kabar