Menu

Mode Gelap
Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global 35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

Hujjah Aswaja · 16 Jul 2022 12:50 WIB ·

Suluk Mantingan: Membedah Makna “Serat Kalatidha” Karya Ronggowarsito


 Suluk Mantingan: Membedah Makna “Serat Kalatidha” Karya Ronggowarsito Perbesar

nujepara.or.id– Membedah karya-karya Ronggowarsito memang tidak pernah ada habisnya. Pujangga besar tanah Jawa dari Keraton Surakarta ini tercatat mempunyai 56 karya sastra. Salah satu Masterpiece Ronggowarsito adalah Serat Kalatidha.

Forum diskusi “Suluk Mantingan” yang rutin digelar PC Lesbumi Jepara tiap selapanan, atau sebulan sekali pada saat padang bulan, kali ini mengangkat tema “Nyilem ing Makna Serat Kalatidha” dengan menghadirkan budayawan, sastrawan, dan seorang pujangga dari Jepara, Ki Soleh Ronggo Warsito.

Bertempat di paseban Mantingan, Ki Soleh Ronggo Warsito menyampaikan bahwa Serat Kalatida merupakan Masterpiece dari karya-karya besar dari sang pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita.

“Di antara sekian banyak karya-karya itu tiga diantaranya yang merupakan Masterpiece dari karya beliau dan dikenal luas masyarakat sebagai Jangka Ranggawarsita adalah Serat Sabda Pranawa, Serat Jakalodhang, dan Serat Kalatidha”, terang Ki Soleh.

Ki Soleh menerangkan bahwa sebenarnya makna yang benar dari serat kalatida bukanlah jaman edan, akan tetapi jaman keragu-raguan. Karena kata “tidha” dalam Bahasa jawa bermakna ragu-ragu. Inti dari serat kalatidha yang berjumlah 12 bait ada di bait ketujuh:

VII
Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan nora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah kersa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada.

Ranggawarsita mengisyaratkan bahwa hidup di zaman edan ini memang penuh dengan kebimbangan. Susah menentukan sikap. Hendak mengikuti arus zaman, kita jadi ikut tidak waras, tetapi jika tidak mengikuti, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, yang kita dapat hanyalah kelaparan. Walaupun begitu, ini sudah jadi kehendak Tuhan. Di zaman ini, seuntung apapun orang yang lupa akan Tuhannya dan terjebak dalam nafsu duniawi, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada. Ingat akan Tuhan dan kematian.

Menutup ulasannya Ki Soleh berpesan kepada para hadirin untuk tetap menjaga wejangan-wejangan leluhur agar kita tidak terjebak kepada jaman yang sudah semakin tidak waras ini. Oleh karena bagaimanapun nampaknya serat kalatida masih sangat relevan di era sekarang, maka hendaklah kita selalu “eling lan waspada”. (ua/lesbumi)

Artikel ini telah dibaca 1,161 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid

16 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Ula | Loji Gunung Donoroso

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa

16 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

Kemerdekaan ke-81 dan Nasionalisme Baru: Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

16 Agustus 2026 - 08:32 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

4 Agustus 2026 - 10:14 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni
Trending di Kabar