Menu

Mode Gelap
Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

Esai · 3 Apr 2022 15:30 WIB ·

Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman 


 Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman  Perbesar

nujepara.or.id – Salah satu sisi menarik yang ada pada bulan Ramadhan adalah tradisi ngaji posonan di pondok pesantren di Nusantara. Ngaji posonan adalah model pendidikan khas di Indonesia, yang diikuti oleh para santri dari berbagai penjuru selama bulan ramadhan. Santri posonan yang berasal dari berbagai penjuru dengan sengaja mendatangi pondok pondok pesantren untuk mengaji khazanah keilmuan Islam yang tertulis dalam berbagai literatur kitab kuning. Baik di bidang tafsir, hadist, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, politik dan lainnya.                                                       

Tradisi ngaji posonan yang sudah berjalan ratusan tahun di Nusantara tak hanya menjadi “pola unik pendidikan” praktis untuk memberikan pemahaman lebih kepada santri terkait literatur kitab kuning, namun lebih dari itu juga merupakan laku tabarrukan dan nyadong berkah lewat face to face dengan poro kyai. Terkandung di dalamnya juga proses khataman hingga ijazahan.

Ada relasi yang kuat antara kiai – kitab kuning dan santri dalam tradisi ini. Relasi ini penting agar mata rantai sanad keilmuan tetap tersambung dan tidak putus di tengah jalan.

Ngaji posonan juga merupakan bentuk dari pemahaman hermeneutika di mana teks (kitab kuning) yang ditulis oleh mushonnif pada zaman dulu tetap bisa dimaknai ulang baik secara tekstual maupun  kontekstual sesuai kondisi terkini.

Ada proses reproduksi “makna baru” dari kitab kitab kuning  yang ditulis ratusan tahun lalu lewat tradisi ngaji posonan. Proses pemaknaan baru ini penting untuk menjawab tantangan zaman dengan berbagai kompleksitas permasalahannya.

Tradisi ngaji posonan ini juga unik dan tidak bisa ditiru. Sejumlah kalangan pernah berusaha menduplikasi tradisi ngaji posonan namun gagal. Salah satu contohnya semisal pesantren kilat. Sejarah mencatat pesantren kilat hanya seumur jagung.  Mengapa pesantren kilat tidak berumur lama? Karena pesantren kilat tidak memiliki “ruh” sebagaimana tradisi ngaji posonan yaitu relasi hermeneutika yang sangat kuat dan produktif  antara  kyai – kitab kuning – santri.

Kita sebagai anak bangsa Indonesia harus bangga. Sebab ada berbagai tradisi unik dan positif selama Ramadhan yang bisa dimaksimalkan untuk menjawab tantangan zaman. Mari kita tapaki proses berpuasa ramadhan dengan semangat ibadah. Baik ibadah hati, fikir dan laku. Semoga ibadah puasa kita mendapatkan ridha, izin, dan bimbingan dari Gusti Allah SWT.

 

Kiai Hisyam Zamroni 
*Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara

Artikel ini telah dibaca 168 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

5 April 2026 - 12:54 WIB

ILUSTRASI Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir

Sabdo Dadi: Seni Menjadi Arsitek Realitas di Tengah Zaman yang Gaduh

5 April 2026 - 12:49 WIB

ILUSTRASI Sabdo Dadi: Seni Menjadi

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi

27 Maret 2026 - 08:26 WIB

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat
Trending di Kabar