Menu

Mode Gelap
Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global 35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

Esai · 3 Apr 2022 15:30 WIB ·

Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman 


 Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman  Perbesar

nujepara.or.id – Salah satu sisi menarik yang ada pada bulan Ramadhan adalah tradisi ngaji posonan di pondok pesantren di Nusantara. Ngaji posonan adalah model pendidikan khas di Indonesia, yang diikuti oleh para santri dari berbagai penjuru selama bulan ramadhan. Santri posonan yang berasal dari berbagai penjuru dengan sengaja mendatangi pondok pondok pesantren untuk mengaji khazanah keilmuan Islam yang tertulis dalam berbagai literatur kitab kuning. Baik di bidang tafsir, hadist, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, politik dan lainnya.                                                       

Tradisi ngaji posonan yang sudah berjalan ratusan tahun di Nusantara tak hanya menjadi “pola unik pendidikan” praktis untuk memberikan pemahaman lebih kepada santri terkait literatur kitab kuning, namun lebih dari itu juga merupakan laku tabarrukan dan nyadong berkah lewat face to face dengan poro kyai. Terkandung di dalamnya juga proses khataman hingga ijazahan.

Ada relasi yang kuat antara kiai – kitab kuning dan santri dalam tradisi ini. Relasi ini penting agar mata rantai sanad keilmuan tetap tersambung dan tidak putus di tengah jalan.

Ngaji posonan juga merupakan bentuk dari pemahaman hermeneutika di mana teks (kitab kuning) yang ditulis oleh mushonnif pada zaman dulu tetap bisa dimaknai ulang baik secara tekstual maupun  kontekstual sesuai kondisi terkini.

Ada proses reproduksi “makna baru” dari kitab kitab kuning  yang ditulis ratusan tahun lalu lewat tradisi ngaji posonan. Proses pemaknaan baru ini penting untuk menjawab tantangan zaman dengan berbagai kompleksitas permasalahannya.

Tradisi ngaji posonan ini juga unik dan tidak bisa ditiru. Sejumlah kalangan pernah berusaha menduplikasi tradisi ngaji posonan namun gagal. Salah satu contohnya semisal pesantren kilat. Sejarah mencatat pesantren kilat hanya seumur jagung.  Mengapa pesantren kilat tidak berumur lama? Karena pesantren kilat tidak memiliki “ruh” sebagaimana tradisi ngaji posonan yaitu relasi hermeneutika yang sangat kuat dan produktif  antara  kyai – kitab kuning – santri.

Kita sebagai anak bangsa Indonesia harus bangga. Sebab ada berbagai tradisi unik dan positif selama Ramadhan yang bisa dimaksimalkan untuk menjawab tantangan zaman. Mari kita tapaki proses berpuasa ramadhan dengan semangat ibadah. Baik ibadah hati, fikir dan laku. Semoga ibadah puasa kita mendapatkan ridha, izin, dan bimbingan dari Gusti Allah SWT.

 

Kiai Hisyam Zamroni 
*Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara

Artikel ini telah dibaca 195 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia

Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

23 Juli 2026 - 22:48 WIB

ILUSTRASI gadget menjadi "berhala" baru manusia modern

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

15 Juli 2026 - 13:21 WIB

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth
Trending di Kabar