Menu ✖

Mode Gelap
Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Esai · 3 Apr 2022 15:30 WIB ·

Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman 


 Tradisi Ngaji Posonan dan Makna Baru untuk Menjawab Tantangan Zaman  Perbesar

nujepara.or.id – Salah satu sisi menarik yang ada pada bulan Ramadhan adalah tradisi ngaji posonan di pondok pesantren di Nusantara. Ngaji posonan adalah model pendidikan khas di Indonesia, yang diikuti oleh para santri dari berbagai penjuru selama bulan ramadhan. Santri posonan yang berasal dari berbagai penjuru dengan sengaja mendatangi pondok pondok pesantren untuk mengaji khazanah keilmuan Islam yang tertulis dalam berbagai literatur kitab kuning. Baik di bidang tafsir, hadist, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, politik dan lainnya.                                                       

Tradisi ngaji posonan yang sudah berjalan ratusan tahun di Nusantara tak hanya menjadi “pola unik pendidikan” praktis untuk memberikan pemahaman lebih kepada santri terkait literatur kitab kuning, namun lebih dari itu juga merupakan laku tabarrukan dan nyadong berkah lewat face to face dengan poro kyai. Terkandung di dalamnya juga proses khataman hingga ijazahan.

Ada relasi yang kuat antara kiai – kitab kuning dan santri dalam tradisi ini. Relasi ini penting agar mata rantai sanad keilmuan tetap tersambung dan tidak putus di tengah jalan.

Ngaji posonan juga merupakan bentuk dari pemahaman hermeneutika di mana teks (kitab kuning) yang ditulis oleh mushonnif pada zaman dulu tetap bisa dimaknai ulang baik secara tekstual maupun  kontekstual sesuai kondisi terkini.

Ada proses reproduksi “makna baru” dari kitab kitab kuning  yang ditulis ratusan tahun lalu lewat tradisi ngaji posonan. Proses pemaknaan baru ini penting untuk menjawab tantangan zaman dengan berbagai kompleksitas permasalahannya.

Tradisi ngaji posonan ini juga unik dan tidak bisa ditiru. Sejumlah kalangan pernah berusaha menduplikasi tradisi ngaji posonan namun gagal. Salah satu contohnya semisal pesantren kilat. Sejarah mencatat pesantren kilat hanya seumur jagung.  Mengapa pesantren kilat tidak berumur lama? Karena pesantren kilat tidak memiliki “ruh” sebagaimana tradisi ngaji posonan yaitu relasi hermeneutika yang sangat kuat dan produktif  antara  kyai – kitab kuning – santri.

Kita sebagai anak bangsa Indonesia harus bangga. Sebab ada berbagai tradisi unik dan positif selama Ramadhan yang bisa dimaksimalkan untuk menjawab tantangan zaman. Mari kita tapaki proses berpuasa ramadhan dengan semangat ibadah. Baik ibadah hati, fikir dan laku. Semoga ibadah puasa kita mendapatkan ridha, izin, dan bimbingan dari Gusti Allah SWT.

 

Kiai Hisyam Zamroni 
*Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara

Artikel ini telah dibaca 198 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Siapkan 4 Riset Kolaboratif, PAI UNISNU Jepara Perkuat Sinergi Global Bersama IIUM Malaysia

7 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?
Trending di Kabar