WEWEH
Oleh : Kunjariyanto*
“Weweh” merupakan bahasa jeparanan yang mempunyai arti memberikan sesuatu kepada sanak keluarga atau kerabat pada momen momen tertentu.
Misalnya menjelang hari idul fitri, acara selamatan, dan juga ketika akan punya hajat seperti tasmiyahan, khitanan serta mantenan. Orang jepara menamai barang yang diberikan dengan istilah “wewehan”.
Selain kata “weweh”, ada istilah lain yang mempunyai arti hampir mirip dengan kata “weweh” yaitu “tonjok”. “tonjok” (bahasa jeparanan) mempunyai arti memberikan sesuatu kepada tetangga, teman kerja dan sahabat ataupun kenalan, dalam rangka “ngulemi” (memberi tahu), bahwa orang yang memberikan pemberian akan punya hajat. Misalnya tasmiyahan, khitanan atau mantenan.
Biasanya barang yang diberikan dinamakan “tonjokan”. Ada lagi bahasa jeparanan yang mempunyai arti pemberian, yaitu “persen”. “persen” dalam bahasa jeparanan mempunyai arti pemberian sesuatu atau barang dari boss/juragan kepada karyawan karena telah bekerja di tempatnya. Barang/sesuatu yang diberikan kepada karyawannya dinamakan “persenan”.
Dari ketiga istilah di atas yakni “weweh, tonjok, dan persen” mempunyai akar arti yang sama yaitu pemberian. Tetapi dari istilah tersebut ada perbedaan dari segi segmen penerima dan juga tujuannya. Jika “weweh” memberikan sesuatu kepada sanak keluarga dan kerabat, yang bertujuan“ngraketake” (merekatkan) paseduluran dan tali silaturahmi.
Jika “tonjok” pemberian kepada tetangga, sahabat, teman kerja, dan kenalan, yang bertujuan agar yang diberi “tonjokan”, berkenan hadir dalam hajatan untuk uleman/kondangan/buwoh. Sedangkan “persen” pemberian dari boss/juragan ke karyawan, yang bertujuan untuk “bebungah” karna akan menghadapi “bodo” (idul fitri/lebaran).
Dari segi rupa, “wewehan” dan “tonjokan” biasanya berupa berkat, roti ataupun asinan. Sedangkan “persen” biasanya berupa pakaian seperti kemeja, sarung, gamis, mukena dan sejumlah uang. “Persenan” ini pemberiannya tanpa hitungan yang njlimet seperti THR, biasanya “persenan” ukurannya kepantasan, dan podo nrimane, serta podo ikhlase.
Kembali ke “weweh”, Menjelang “bodo” (hari raya idul fitri ) seperti saat ini, biasanya H-3/H-2 menjelang bodo, sanak keluarga dan kerabat saling memberikan “wewehan”, seperti disebutkan di atas agar paseduluran serta tali silaturahmi selalu terjaga dan tambah rekat. “Wewehan” ini tidak hanya diberikan kepada yang muslim saja, melainkan jika mempunyai kerabat non muslim juga diberikan “wewehan”. Inilah salah satu pelajaran dari leluhur kita yang mengajarkan makna toleransi dan paseduluran dari tradisi “weweh”
Kadang kita terenyuh, sebagai yang muda kita “kedhisik’an” (didahului) oleh kerabat yang lebih tua memberikan “wewehan” kepada kita. Dan mungkin akan semakin terenyuh kuadrat lagi, saat orang tua kita yang sudah renta lebih dulu memberikan “wewehan” datang ke rumah kita, tentunya hal ini menjadi cambuk bagi kita, Karena orang tua selalu memikirkan kita, Sedangkan kita belum berpikir kapan akan memberikan “wewehan” kepada orang tua. Hal ini juga menjadi bukti kasih sayang orang tua yang sepanjang masa, yang tak tergantikan dengan apapun juga.
“Weweh” jika di kaitkan dengan ajaran islam merupakan manifestasi dari shodaqoh dan implementasi dari konsep “tangan diatas lebih mulya dari tangan dibawah”. merujuk alqur’an dan hadits, minimal ada 9 keutamaan dari shodaqoh, yaitu : membawa keberkahan pada harta yang dimiliki, menghapus dosa-dosa kita, dilipatgandakannya pahala, mendapatkan naungan di hari akhir, sebagai bukti keimanan kita kepada Allah, mencegah maksiat, terbuka pintu surga, membebaskan dari siksa kubur, serta mendatangkan kelapangan dan kebahagaian.
Monggo sami “weweh” poro dulur….!, semoga kita bisa melaksanakan tradisi luhur “weweh” menjelang hari yang suci nan istimewa ini.
*Pengurus Lakpesdam PCNU dan PC GP Ansor Jepara