Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Islam Nusantara · 27 Jun 2023 01:51 WIB ·

Idul Adha : Menggeser Pola Pikir Beragama “Demonic” menjadi “Etik”


 Idul Adha : Menggeser Pola Pikir Beragama “Demonic” menjadi “Etik” Perbesar

oleh : Kiai Hisyam Zamroni

nujepara.or.id – Idul Adha merupakan moment “keberagamaan” yang memiliki ritual khusus yaitu ritual Ibadah Haji dan ritual Ibadah Kurban. Ibadah Kurban memiliki banyak dimensi yang sudah dielaborasi baik dari sisi spritual, sosial, ekonomi dan lain lain yang sedikit orang menganalisis Ibadah Kurban dipahami sebagai sebuah “respon historis” dari sisi zaman dahulu,  pemberlakuan “manusia” sebagai “obyek kurban” yaitu manusia yang “dikurbankan”. 

Peng-kurbanan “manusia” kepada dewa dewa dan ritual keberagamaan adalah “realitas historis” seperti pada tahun 3500 – 1100 SM Suku Kanaan di Libanon, Suriah dan Yordania meng-kurbankan anak anak sebagai persembahan kepada dewa Muloch, Mesir Kuno yang mempersembahkan gadis suci yang ditenggelamkan di sungai nil yang diperuntukan  kepada  penguasanya, pada tahun 2700 SM – 1450 SM Suku Minoan atau Yunani juga mempersembahkan anak-anaknya untuk para dewa, dan lain-lain. Peristiwa peng-kurbanan “manusia” sebagai sesembahan ini memberikan satu nilai bahwa “agama” atau kepercayaan memiliki “ajaran atau kebiasaan” yang  “demonic”  dan atau tidak ber-perikemanusiaan yang oleh Nabi Ibrahim direspon dan diganti menjadi peng-kurbanan “hewan pemeliharaan”  yang memiliki nilai “etik” yaitu memanusiakan manusia.

Kurban yang ditawarkan Nabi Ibrahim adalah sebuah “respon historis” dari “realitas historis” yang telah dilakukan bahkan sudah menjadi “ritual atau ajaran” oleh kepercayaan – kepercayaan orang terdahulu bahwa harga dan nilai “manusia” bisa menjadi “tumbal” hidup dan kehidupan yang direspon serius  oleh Nabi Ibrahim yaitu mengubah kurban dari “manusia” menjadi “hewan pemeliharaan” atau dengan kata lain menghentikan manusia untuk menjadi obyek yang   dikurbankan dengan menawarkan  ajaran “etik” yaitu memahamkan bahwa agama mengajarkan kebaikan kebaikan dan melindungi harkat martabat manusia yang memanusiakan manusia.

Dari sana kita pahami bahwa “nalar”  Ibadah Kurban adalah nalar “kritik” terhadap pola pikir “agama” zaman dahulu yang menjadikan “manusia” sebagai “obyek kurban”   dengan cara  menggeser  pola pikir keberagamaan dari pola pikir “demonic” menjadi pola pikir “etik”.

“Selamat Hari Raya Idul Adha”

Semoga kita mendapat keberkahan di bulan Idul Adha baik di dunia maupun di akhirat.. Aamiin Aamiin Aamiin.

Penulis: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga

30 April 2026 - 11:49 WIB

H. Hisyam Zamroni: Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan

30 Maret 2026 - 16:45 WIB

Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa

16 Maret 2026 - 19:25 WIB

Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada

25 Februari 2026 - 14:19 WIB

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

4 Februari 2026 - 11:37 WIB

Trending di Islam Nusantara