Menu

Mode Gelap
Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

Interaktif Ramadan · 13 Apr 2023 21:38 WIB ·

Ngaji Tematik Ramadan : Sang Pencipta Jagad Raya (Surat Alfatihah ayat 1)


 Ngaji Tematik Ramadan : Sang Pencipta Jagad Raya (Surat Alfatihah ayat 1) Perbesar

Oleh Kiai Hisyam Zamroni

nujepara.or.id – Kewajiban seorang “hamba” adalah memuji “Sang Pencipta” jagad raya se-isinya sebagaimana didalam ayat yang sering kita baca:

“Alhamdulillahirobbil’alamin”

Makna “alhamdu” begitu sangat “apresiatif” yaitu “memuji” sebagai ekspresi “kecintaan” yang berupa pertama; Tuhan memuji “Dirinya” atau disebut dengan puji “Qodim li Qodimin” dimana Eksistensi Tuhan hanya Tuhan Yang Tahu. Kedua, Pujian Tuhan kepada hamba-Nya yang berbentuk “kasih sayang” dan “reward” ketika hamba-Nya berbuat kebajikan kebajikan, hal ini sering kita sebut puji “Qodim li haditsin”. Ketiga, sebagai hamba mempunyai kewajiban penuh “memuji” Tuhan-nya sebagai konsekwensi dari hamba “yang diciptakan” yang disebut puji “hadits li Qodimin”. Ke-empat adalah saling “memuji” antar “hamba” sebagai bentuk relasi sosial dan interaksi sosial dimana manusia tidak bisa terlepas dengan manusia lain atau yg mashur disebut “mahluk sosial” yang merupakan pengejahwantahan dari puji “hadits li haditsin”.

Kesemua bentuk “pemujaan” diatas” terbingkai pada satu panah yaitu “dipasrahkan” dan “dihaturkan” kepada Gusti Allah SWT yang menciptakan dan “mendidik” jagad raya se-isinya atau dengan istilah di dalam al Qur’an disebut “Robbil’alamin”.

Konsep “Robbil’alamin” adalah konsep “pendidikan universal” yang “meliputi semua segmen” dengan beragam corak sosial, budaya, tradisi, karakter dan lain lain yang menjadi fitrah “dijadikannya” dunia ini bersuku suku dan berbangsa berbangsa.

Jadi, bukti “Kebesaran Tuhan” adalah keaneka-ragaman atau heterogenitas dari seluruh ciptaan-Nya yang “tumpah ruah” di jagad raya ini bukan homogen.

Kesadaran kita “terseruak” pada ayat diatas di mana Tuhan dengan segala bentuk “pujian-Nya” adalah “dimiliki’ oleh semua ragam “mahluq’ yang diciptakan-Nya, sebaliknya justru kita banyak terjebak “mengkerdilkan” Kebesaran Tuhan dengan “memaksa” kepada orang lain menjadi “homogen” yaitu memaksa kepada orang lain agar “apa pun” harus “sama”..

Semoga kita termasuk menjadi bagian orang orang yang bisa mencintai seluruh ciptaan Gusti Allah SWT yang sangat beragam. Aamiin Aamiin Aamiin.

Artikel ini telah dibaca 225 kali

Baca Lainnya

Iedul Fitri dan Manifesto Perdamaian Global: Transformasi Kasih Sayang Menjadi Aksi Universal

12 Maret 2026 - 12:22 WIB

Ilustrasi idulfitri

Menjadi Bait Al-Qur’an yang Tak Pernah Usai – Sebuah Refleksi Puisi Hati

9 Maret 2026 - 10:00 WIB

Al Qur'an

Melipat Jarak, Saat Timur dan Barat Berdenyut di Dalam Dada

25 Februari 2026 - 14:19 WIB

Menyingkap Makna Perintah Membaca dalam Al-Qur’an

24 Maret 2024 - 11:48 WIB

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (5)

16 Maret 2024 - 04:48 WIB

Ngaji Burdah Syarah Mbah Sholeh Darat (3)

14 Maret 2024 - 04:02 WIB

Trending di Hujjah Aswaja