Menu

Mode Gelap
Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

Kabar · 7 Jun 2016 16:56 WIB ·

Gerakan Matikan TV di Waktu Penuh Rahmat dan Berkah


 Gerakan Matikan TV di Waktu Penuh Rahmat dan Berkah Perbesar

Clip

KH Imam Fathoni (LPPNU Kudus) saat menyampaikan tausiyah dalam muwadaah dan akhirussanah MI Kedungombo


JEPARA – Mewujudkan tatanan masyarakat yang ahli ilmu, berakhlak mulia dan membentuk generasi shalih dan shalihah memerlukan kerja sama dan dukungan baik dari keluarga, madrasah maupun lingkungan sekitar. Bahkan harus mendapatkan bimbingan dan pendampingan secara intensif di masyarakat. Demikian salah satu pesan yang disampaikan KH Imam Fathoni saat menyampaikan tausiyah dalam muwadaah dan akhirussanah MI Kedungombo Desa Buaran kecamatan Mayong Kabupaten Jepara, Sabtu (3/6) lalu.

Menurut Kiai Fathoni, melalui madrasah anak akan mendapat pendidikan agama yang lebih baik. Jangan sampai anak jauh dari pendidikan ahlu sunnah wal jamaah. Bahkan madrasah menjadi jawaban di tengah arus modernisasi yang mengikis moral generasi bangsa. Tidak ada gunanya lembaga pendidikan yang banyak tetapi tidak memberikan kontribusi baik bagi masyarakat.

Kiai muda asal Kudus tersebut juga telah menggagas program Gerakan Mematikan Televisi (GMT) pada waktu magrib hingga isya. Hal itu diakui ia lakukan sebagai upaya menjembatani agar masyarakat tidak terjerumus dalam hal-hal kemaksiatan, terutama saat magrib dan isya.

“Karena pada waktu magrib sampai isya terdapat rahmat dan berkah dari Allah. Banyak masyarakat muslim yang sering lupa hal itu disebabkan tergiur sajian acara televisi,” ungkap Kiai Fathoni yang juga aktif sebagai pengurus Lembaga Perkembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kudus itu.

Di waktu magrib sampai isya, lanjut kiai Fathoni, masyarakat agar saling mengajak keluarga mengaji  dan tadarus Alquran. Selain itu menghidupkan dan meramaikan masjid-masjid dan mushala sebagaimana tradisi pada masa tahun delapan puluhan dimana masa itu ketika memasuki waktu magrib banyak masyarakat berbondong-bondong ke masjid dan mushala dengan penuh semangat.

Gerakan mematikan TV sudah mulai banyak dideklarasikan di sebagian daerah Kudus. Diharapkan program tersebut dapat ditularkan di daerah lain tidak terkecuali di Jepara.

Selain itu,  ia juga mengajak untuk selalu melakukan sumbangsih terhadap guru yang telah memberikan dengan ikhlas tentang pendidikan di madrasah. Sehingga para murid tidak melupakan kepada para guru atas jasa yang telah diberikan.

IMG_3921-

KH Muhammad Amirul Wildan (katib Syuriyah PCNU Jepara), saat memimpin doa dalam muwadaah dan akhirussanah MI Kedungombo Buaran Mayong Jepara

Sebelumnya, kegiatan muwaddaah digelar dengan hataman Alquran, pentas seni dan parade drum band “syimphoni KD” mengelilingi desa yang ditampilkan siswa-siswi madrasah tersebut. Penampilan itu mencuri perhatian banyak warga  karena para pemain yang masih kecil akan tetapi memiliki kepiawaian menabuh alat musik.  Tahun ini MI Kedungombo melepasa 22 siswanya yang beberapa di antaranya telah meraih peringkat kedua nilai ujian nasional tingkat SD/MI dari 60 sekolah dan madrasah se-kecamatan Mayong Jepara.

Hadir dalam kegiatan itu KH Muhammad Amirul Wildan (katib Syuriyah PCNU Jepara), Habib Abdullah Alhindwan (rois Syuriyah MWC Mayong) dan petinggi desa setempat serta tokoh masyarakat dan wali murid RA dan MI Kedungombo.

Menurut Malik Rudi Salam, kepala MI Kedungombo, pihak madrasah berharap kegiatan tersebut menjadikan masyarakat lebih mengenal dan mencintai madrasah, karena madrasah memiliki pendidikan plus yang memadukan kurikulum pemerintah secara umum dan ilmu agama Islam. Madrasah juga memiliki kegiatan-kegiatan untuk mengasah ketrampilan siswa dan mengukir prestasi. (Az)

Artikel ini telah dibaca 110 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan

18 Maret 2026 - 11:36 WIB

Lampah Samarpan

Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa

16 Maret 2026 - 19:25 WIB

Trending di Khazanah