Menu

Mode Gelap
Ratusan Peserta Ramaikan EduTechnoFest 2026 FTIK UNISNU Jepara, Ini Daftar Juara Tiap Lomba Melacak Gerakan Perlawanan dan Laku Spiritualitas Ratu Kalinyamat Buku Kita : Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara Buku Kita : Mawa’idh Qur’aniyyah Ulama Nusantara Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

Kabar · 14 Agu 2022 02:02 WIB ·

Perkemahan Satu Hari : 
Kecerahan Anak Yang Mulai “Bangkit”


 Perkemahan Satu Hari : <br>Kecerahan Anak Yang Mulai “Bangkit” Perbesar

Oleh H Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Satu hari satu malam, saya membersamai adik adik siaga se Kecamatan Tahunan Jepara  yang begitu cerah ceria enjoy renyah mengikuti acara Perkemahan Satu Hari di Lapangan Bunderan Ngabul dalam rangka menyambut Hari Pramuka ke –  61. 

Keceriahan adik adik siaga mengisyaratkan adanya “kemerdekaan” berekspresi karena selama dua tahun mereka “terkungkung” tidak sekolah secara bertatap muka, tidak bermain dan tak ada pentas seni. Kondisi ini yang oleh Paulo Friere disebut Pendidikan “tertindas”. 

Pramuka Indonesia adalah salah satu wahana pembelajaran dengan metode “bahagia” dan “tuntas”. Metode “bahagia” dalam pembelajaran di pramuka menjadikan anak menerima dan menyerap pelajaran  tidak monoton dan menjemukan yang justru sekarang ini “ditiru” oleh pendidikan formal yang menuntut guru membuat pendekatan pembelajaran sehingga anak didik bisa menyerap mata pelajaran dengan “bahagia” dan berpengharapan, yang oleh Paulo Freire disebut “pedagogy of hope”. 

Di sisi lain, Pramuka mengajarkan materi dengan “tuntas”. Adik adik saat menerima materi bisa langsung dipahami dan dipraktekkan. Pembelajaran “unggul” di atas, begitu “dikangeni” oleh adik adik anggota pramuka karena memiliki daya “interaksional” yang kuat antar anggota pramuka. 

Daya interaksional antar anggota pramuka memupuk keakraban, kesepahaman, kasih sayang, dan tolong menolong tanpa membedakan asal mereka baik agama, suku dan ras. Hal ini menjadikan  pembelajaran “toleransi” sejak dini yang sekarang ini dibutuhkan dan harus dikembangkan. Pembelajaran “toleransi” yang dilakukan oleh pramuka secara terstruktur dari tingkat siaga, penggalang, penegak, pandega sampai kepada pembina.

Konsekwensinya pembelajaran “toleransi” di Pramuka adalah menggunakan metode “pembiasaan” di  setiap jenjang, dan setiap waktu. Dari keterangan di atas, sungguh, pramuka adalah “fenomena” yaitu mendidik adik adiknya dengan metode “bahagia” yang tuntas dan berpengharapan. 

Selamat Hari Pramuka ke 61. Semoga Pramuka tetap Jaya. Aamiin YRA

*Pinsako Pramuka Maarif Kabupaten Jepara

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ratusan Peserta Ramaikan EduTechnoFest 2026 FTIK UNISNU Jepara, Ini Daftar Juara Tiap Lomba

11 Februari 2026 - 20:43 WIB

Inovasi Digital Dorong Daya Saing Kopi Lokal, KKN UNISNU Jepara Berkolaborasi dengan Taruna Tani Mapan Desa Sumanding

9 Februari 2026 - 16:31 WIB

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

4 Februari 2026 - 11:37 WIB

Mahasiswa KKN UNISNU Jepara Inovasi Alat Bakar Sampah Minim Asap dan Sosialisasi Pendidikan di Desa Sumanding

3 Februari 2026 - 16:45 WIB

PBNU Luncurkan NU Harvest Maslaha, Langkah Strategis Perkuat Ekonomi Syariah

2 Februari 2026 - 22:06 WIB

PCNU Jepara Kembali Salurkan Bantuan, 1.400 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Desa Tempur dan Kunir

2 Februari 2026 - 21:54 WIB

Trending di Kabar