Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Headline · 13 Mar 2024 17:35 WIB ·

Kisah Raden Kusen, Senopati Terakhir Majapahit Saat Menghadapi Gempuran Demak (1)


 Kisah Raden Kusen, Senopati Terakhir Majapahit Saat Menghadapi Gempuran Demak (1) Perbesar

nujepara.or.id- Adipati Terung Pancathanda atau Raden Kusen, salah satu panglima perang Majapahit yang namanya masyhur karena berhasil mengalahkan Sunan Ngudung dalam pertempuran Majapahit melawan Demak. Dilema sempat dirasakan oleh Raden Kusen/Husain saat mengetahui pasukan Demak bergerak menuju Majapahit dengan kekuatan pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Syuranata yang dipimpin oleh Sunan Ngudung alias Haji Usman.

Dalam cerita babad disebutkan, niat Demak untuk menyerang Majapahit sempat dicegah oleh Sunan Kalijaga karena akan terjadi perang saudara. Namun, bahwa Majapahit sudah runtuh dan dikuasai oleh Raja Girindrawardhana, serta ibu kota telah berpindah di Daha menjadi alasan lain Demak menggempur Majapahit.

Yang paling menarik dalam kisah ini adalah hubungan kekerabatan di antara dua kubu. Raden Kusen yang meskipun sudah beragama Islam, namun tetap setia kepada Majapahit. Raden Kusen adalah putra Arya Damar dari Palembang yang mengabdi kepada kakeknya Brawijaya V. Sementara itu, seperti diketahui bahwa Raden Patah adalah anak dari Brawijaya V yang sedari kecil diasuh oleh Arya Damar bersama Raden Kusen di Palembang. Dalam cerita, kedua saudara tersebut, Raden Patah dan Raden Kusen menuju ke Jawa untuk mengabdi kepada Majapahit.

Sementara itu, Sunan Ngudung adalah besan dari Raden Kusen. Karena, Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shodiq menikah dengan putri Adipati Terung yang menurunkan tujuh orang anak. Saat pertempuran antara Demak dan Majapahit, selain menjadi panglima perang, Sunan Ngudung juga sebagai Imam Besar Masjid Demak.

Mengutip dari buku Kiai Agus Sunyoto dalam ”Atlas Walisongo” saat pasukan Demak berhasil menjebol Majapahit, Raden Kusen sebenarnya menghindari pertempuran karena harus melawan pasukan Islam yang di dalamnya terdapat Sunan Ngudung besannya sendiri. Namun, Raden Andayaningrat atau Adipati Pengging salah satu putra mahkota Majapahit yang telah memeluk Islam mengamuk di medan pertempuran.

Laskar santri Demak kuwalahan menghadapi Raden Andayaningrat. Pasukan Demak sempat dibuat kocar-kacir. Kemudian saat Raden Andayaningrat berhadapan dengan Sunan Ngudung, kedua senopati pilih tanding tersebut sama-sama menunggang kuda dengan menghunuskan tombak. Pertarungan dua senopati tersebut berlangsung lama dan sengit. Namun Raden Andayaningrat berhasil dilumpuhkan, kemudian kepalanya dipenggal oleh Sunan Ngudung.

Mengetahui Raden Andyaningrat gugur dalam peperangan, Raden Kusen tidak tinggal diam. Raden Kusen kemudian turun ke gelanggang perang karena merasa kedaulatan negara Majapahit di atas segala-galanya. Dua panglima perang Majapahit dan Demak ini kemudian saling berhadapan dengan membawa panji-panji kerajaan. Saat terjadi pertarungan kuda Sunan Ngudung tiba-tiba melonjak, disitulah kesempatan Raden Kusen melepaskan tombak dan mengenai kaki Sunan Ngudung. Sunan Ngudung terlempar dari kuda. Kemudian Raden Kusen turun dari kudanya, di situlah Sunan Ngudung gugur di tangan Raden Kusen. (red)

Artikel ini telah dibaca 507 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bahtsul Masail