Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Ansor · 25 Sep 2019 00:46 WIB ·

Mengunjungi Masjid dan Gereja yang Berhadapan di Tempur Jepara


 Mengunjungi Masjid dan Gereja yang Berhadapan di Tempur Jepara Perbesar

Indahnya keberagaman di Desa Tempur Jepara. Ada masjid dan gereja yang saling berhadapan. Namun mereka hidup rukun dan saling membantu. (Foto/teks: Naifa/NU Online)

nujepara.or.id – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus Jawa Tengah mengunjungi Desa Tempur, Jepara. Kunjungan dilaksanakan dalam rangka Studi Keberagaman.  

Noor Yanto selaku Koordinator Lapangan menuturkan perjalanan menuju lokasi dengan menggunakan sepeda motor tanpa mengabaikan aturan lalu lintas dan berkendara.  

Dalam sambutannya Ketua GP Ansor PAC Kecamatan Gebog, Moh Syaifuddin Nawawi mengatakan kegiatan untuk membangkitkan ghirah kebersamaan karena di Desa Tempur ini ada masjid dan gereja yang berhadapan. Kunjugnan dilakukan untuk menumbuhkan jiwa toleransi para kader.  

Pengurus PR GP Ansor Desa Tempur dan Ketua PAC GP Ansor Kelet menyambut baik kedatangan GP Ansor Kecamatan Gebog ini.   

“Terima kasih kepada para sahabat yang telah jauh-jauh datang ke sini dengan semangat organisasi,” tutur Ahmad Said, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kelet dilansir dari NU Online.  

Tentang masjid dan gereja yang saling berhadapan dijelaskan oleh Syafawi, Pembina PAC GP Ansor Kecamatan Kelet. Menurutnya perbedaan adalah fitrah. Dengan adanya perbedaan menjadi lebih berwarna.  

“Seandainya sama tidak mungkin bisa berjalan seperti halnya jika kaki kita kanan semua tidak bisa jalan. Di Desa Tempur ini memang ada masjid dan gereja berhadapan, tetap rukun dan saling membantu,” bebernya.

Syafawi meneruskan, seperti halnya umat Muslim jika ada acara, umat non-Muslim ikut membantu dalan hal apa pun. Begitu juga jika non-Muslim di desa tersebut ada acara, umat Islam membantu penuh.   “Pernah suatu ketika salah satu mereka ada yang punya hajat minta bantuan. Tidak berpikir panjang langsung kita bantu, karena kebaikan bersama,” katanya.

Ia menegaskan, jangan menjadikan perbedaan sebagai permusuhan, tetapi jadikanlah perbedaan sebagai tali silaturahim dan mempererat persaudaraan.  Hadir juga di kegiatan ini Martoyo selaku tuan Rumah, Amiruddin Kasatkoryon Kecamatan Kelet, dan para pengurus Ranting Desa Tempur. (Nai Fa)

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara

25 September 2026 - 15:58 WIB

Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU

24 September 2026 - 22:55 WIB

Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd

Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini

21 September 2026 - 12:29 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut Zaman Edan?

21 September 2026 - 12:13 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

21 September 2026 - 12:08 WIB

Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi?

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

Trending di Kabar