Menu

Mode Gelap
Peduli Hutan Muria, Ratusan Siswa MTs dan MA Safinatul Huda Ikuti Matsama Bareng Perhutani NU Sorong Papua Kirimkan Santri ke Jepara, Salah Satunya Kuliah di UNISNU Dimakamkan di Mayong, Ini Kisah Raden Ayu Mas Semangkin Sang Senopati Perang Lereng Muria Rayakan 1 Muharram, NU Ranting Bulungan Gelar Doa Bersama Pawai Obor Warga NU Desa Bawu Sambut Tahun Baru 1446 Hijriyah, Momentum Perkuat Semangat Hijrah ke Arah Kebaikan

Hujjah Aswaja · 1 Jun 2022 14:23 WIB ·

Misteri Runtuhnya Kerajaan Majapahit (1)


 Salah satu situs peninggalan Majapahit di Trowulan Perbesar

Salah satu situs peninggalan Majapahit di Trowulan

nujepara.or.id- Runtuhnya kerajaan Majapahit sampai dengan hari ini memang masih menjadi perdebatan. Bahkan berkembang menjadi sentimen kesukuan hingga anti Islam. Anggapan bahwa Islam datang ke Nusantara, khususnya Jawa dengan jalan kekerasan masih menjadi doktrin kuat di kalangan kaum Kejawen dan Abangan. Anggapan seperti itu sebenarnya sudah lama tumbuh, dan biasanya hanya sebatas diskusi di ruang tertutup. Namun, saat ini bicara seperti itu tidak dianggap tabu lagi.

Dalam kitab Darmagandhul, dengan gamblang disebutkan bahwa runtuhnya Majapahit adalah prakarsa dari para Walisanga dengan Raden Patah sebagai Adipati Demak. Raden Patah digambarkan sebagai anak durhaka karena berani melawan ayahnya sendiri Parbu Brawijaya karena ayahnya masih memeluk agama leluhur. Para wali atau sunan dianggap sebagai orang-orang yang tidak tau terimakasih. Karena sudah diberikan tempat di tanah Jawa, dan diberi kesempatan untuk menyebarkan agama Islam namun malah menikam dari belakang.

Dikisahkan, prajurit Demak menggempur Majapahit dengan cara licik, yaitu dengan cara akan menghadap ke Istana Majapahit dengan dibarengi peringatan Grebeg Mauilid. Aktor utama dari penyerangan Demak ke Majapahit adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri. Sunan Giri digambarkan sebagai sunan yang beraliran Islam garis keras. Karena semenjak menguasai Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmata, Sunan Giri tidak mau tunduk kepada Majapahit dan tidak mau membayar pajak.

Di sini jelas, kitab Darmagandhul menuduh dan menyudutkan Dewan Walisanga sebagai biang kerok hancurnya kerajaan Majapahit. Bahkan, kitab Darmagandhul penuh berisi dengan kebencian yang mendalam terhadap beberapa Walisanga. Hanya Syeikh Siti Jenar yang digambarkan sebagai salah satu sunan yang menolak penyerbuan Demak ke Majapahit. Namun, Syeikh Siti Jenar akhirnya dibunuh karena dianggap menghalangi rencana penyerbuan tersebut,

Berbeda versi, Alm. Kiai Agus Sunyoto Allah yarham, yang pernah mejabat sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi PBNU), dalam buku legendarisnya “Atlas Wali Songo”, dengan detail disertai bukti-bukti kuat memaparkan hancur dan runtuhnya Majapahit sudah mulai tampak saat terjadi perang Paregreg. Ketika terjadi konflik keluarga antara Prabu Wikramawardhana dan iparnya Bhre Wirabumi di tahun 1401-1405 M. Saat Bhre Wirabumi kalah dan melarikan diri ke Blambangan, kebetulan Laksamana Cheng Ho utusan Kaisar China dalam rangka melakukan muhibah sedang berada di Blambangan. Terjadi kesalahpahaman hingga menewaskan 170 prajurit China.

Kaisar China menuntut ganti rugi kepada Prabu Wikramawardhana sebesar 60.000 tail emas. Tetapi ganti rugi tersebut hanya dibayar 10.000 tail emas oleh Wikramawardhana karena selain kekuatan yang telah terkuras akibat peperangan, harta benda Majapahit juga terkuras. Namun sisa dari ganti rugi tersebut dibebaskan oleh Kaisar. (Historical Notes Indonesia and Malaya, Complaid from Chines Sources).

Selesai perang Paregreg, pemberontakan di daerah semakin menjadi-jadi karena Majapahit sudah mulai lemah. Pemberontakan di Bali, pemberontakan Bhre Daha putra Bhre Wirabhumi sebagai aksi balas dendam karena kekalahan ayahnya, hingga pemberontakan di Palembang oleh Parameswara semakin menjadikan Majapahit suram. (ua)

Bersambung…

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Peduli Hutan Muria, Ratusan Siswa MTs dan MA Safinatul Huda Ikuti Matsama Bareng Perhutani

19 Juli 2024 - 15:01 WIB

NU Sorong Papua Kirimkan Santri ke Jepara, Salah Satunya Kuliah di UNISNU

16 Juli 2024 - 16:16 WIB

Prihatin Pengguna Transportasi Umum Menurun, Mahasiswa Unisnu Ciptakan Aplikasi JETA

14 Juli 2024 - 22:46 WIB

Rayakan 1 Muharram, NU Ranting Bulungan Gelar Doa Bersama

10 Juli 2024 - 11:52 WIB

Pawai Obor Warga NU Desa Bawu Sambut Tahun Baru 1446 Hijriyah, Momentum Perkuat Semangat Hijrah ke Arah Kebaikan

10 Juli 2024 - 01:31 WIB

Peserta Pawai Obor Desa Bawu berjalan kaki menyambut Tahun Baru Islam 1446 H

YPM NU Jepara Boyong Empat Tropy Juara di Gebyar PAUD dan TPQ Tingkat Jateng

9 Juli 2024 - 09:41 WIB

Trending di Kabar