nujepara.or.id – Mendekati momentum Lebaran tahun ini, “rasan-rasan” di teras Loji Gunung bersama istri “kinasih” sedikit banyak membuat dahi berkerut.
Semula semilir angin yang segar seakan rehat sejenak, semula obrolan ringan disertai sedikit canda nakal mendadak canggung, tersekat dalam diam, hening yang berkepanjangan.
Kita sering terjebak dalam perlombaan yang tidak ada garis finish-nya. Berlari kencang mengejar angka dan validasi, tapi seringkali lupa caranya bernapas. Di satu sisi kita dikejar urusan perut, mengais rejeki, di sisi lain batin terasa kering.
Padahal, ada sebuah skenario kuno yang mengingatkan bahwa kita sebenarnya berhak mendapatkan kedamaian di sini, di dunia ini, sekaligus menikmati ketenangan di “sana” nanti secara utuh, “kaffah” dan abadi.
Memadamkan Api Sebelum Membakar Diri
Mari kita renungkan sebentar dengan jujur. Apa jadinya jika kita terus-terusan “menimbun lelah” jika hanya untuk sesuatu yang semu, mengabaikan kesehatan, dan membiarkan hubungan dengan orang-orang tercinta retak?
Kita sebenarnya sedang menanam “api” yang suatu saat akan membakar kita sendiri, entah itu berupa penyesalan di masa tua, atau beban yang kita “gendong” sampai pulang nanti.
Jika kita tidak ingin hidup berakhir “kobong” atau hangus karena ambisi yang salah arah, kita butuh cara pandang yang lebih bening.
Kebaikan yang Utuh, Bukan Setengah-Setengah
Meminta kebaikan itu bukan sekadar menengadahkan tangan, tapi sebuah komitmen untuk menjemputnya dengan kesadaran. Kebaikan di dunia ini bukan cuma soal tumpukan materi, tapi soal hati yang lapang, fisik yang terjaga, dan kehadiran kita yang menjadi peneduh bagi orang sekitar.“Khoirunnas anfa’uhum linnas” (خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ), “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.
Lalu, apa itu kebaikan di masa depan yang abadi? Itulah “napas panjang” kita. Itulah warisan kebaikan yang tetap mengalir meski nama kita sudah tidak lagi disebut. Hidup yang cerdas adalah ketika apa yang kita genggam erat hari ini, bisa menjadi “bantal yang empuk” bagi istirahat panjang kita kelak.
Pulang dengan Senyuman
Jangan biarkan kerja kerasmu membunuh nuranimu, dan jangan biarkan kesalehanmu membuatmu abai pada realita dunia. Jadilah manusia yang utuh.Yang bekerja sungguh-sungguh seolah akan menetap lama, namun tetap menjaga langkah seolah sore ini adalah waktu untuk kembali, “I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan” (Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok).
Sederhananya, carilah hidup yang nyaman tanpa merusak hari esok. Jadilah pemenang yang tidak meninggalkan luka bagi orang lain, apalagi bagi dirimu sendiri.
Memandang ke arah pohon Kantil yang hanya berbuah satu biji, bibir ini bergumam lirih,
رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
__
Ahad, 15 Maret 2026
15 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung DonorosoNote
{ وَمِنۡهُم مَّن یَقُولُ رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فِی ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣰ وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ حَسَنَةࣰ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ }
[Surat Al-Baqarah: 201]