Menu

Mode Gelap
Meniti Jembatan Masa Depan: Pendidikan Jepara di Persimpangan Antara Industri dan Akademis Meniti Asa di Balik Deru Mesin: Hari Buruh, Realitas Ekonomi, dan Strategi Keluarga Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM NGLUHURAKÉ BURUH TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

Headline · 15 Mar 2024 00:06 WIB ·

Sedulur Papat Limo Pancer, Wejangan Ruhani Sunan Kalijaga


 Sedulur Papat Limo Pancer, Wejangan Ruhani Sunan Kalijaga Perbesar

nujepara.or.id- Ratusan tahun yang lalu Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan wejangan dalam sebuah tembang yang berjudul “Kidung Marmati”. Marmati diartikan dengan samar mati. Artinya ketika seorang ibu melahirkan akan mengalami kondisi antara hidup dan mati. Tembang tersebut juga mengajarkan kepada kita arti sangkan paraning dumadi atau proses kita menjadi ada.

Dalam falsafah Jawa, saat usia kandungan menginjak empat bulan atau dalam Jawa mitoni, ketika Allah meniupkan ruh Nya, diturunkanlah empat malaikat yaitu Jibril, Mikail, Isrofil dan Izroil. Menginjak usia lima bulan, tambah satu lagi (diri kita) sehingga menjadi apa yang dinamakan “sedulur papat limo pancer”.

Jadi dalam adat kebiasaan masyarakat Jawa ada upacara mapati (empat bulan), ningkepi (enam bulan), hingga mitoni (tujuh bulan). Setelah mitoni, usia bayi menjelang delapan bulan hingga sembilan bulan sudah tenteram di dalam kandungan karena dijaga oleh empat malaikat. Yang dua malaikat berada di sebelah kanan dan dua malaikat ada di sebelah kiri. Yang satu lagi adalah pusat, yaitu diri kita sendiri. Sehingga Sunan Kalijaga memberi nama dengan sebutan Sedulur papat lima pancer.

Lebih jauh Kanjeng Sunan Kalijaga menjelaskan empat malaikat yang menjaga kita sejak dalam kandungan hingga lahir atau yang disebut sedulur papat ini dilambangkkan dengan simbol Kakang Kawah/air ketuban, Adhi ari-ari. Getih/darah, dan Pusar/plasenta.

Kakang Kawah/air Ketuban adalah cairan yang menemani kita sejak dalam kandungan hingga kelahiran. Seperti yang kita ketahui, air ketuban bertugas melindungi kita dari benturan dan melindungi bayi dari kekeringan. Karena dengan adanya air kawah ini bayi bisa bebas bergerak. Kakang kawah inipun yang keluar terlebih dahulu membukakan jalan bagi si jabang bayi sehingga Kanjeng Sunan Kalijaga menyimbolkan air ketuban ini sebagai Kakang Kawah.

Adhi ari-ari atau dinamakan placenta dalam ilmu kedokteran. Adhi ari-ari bertugas untuk menyalurkan saripati makanan kepada si bayi dari makanan yang dimakan oleh ibu saat di dalam kandungan. Adhi ari-ari keluar setelah bayi lahir, sehingga dalam falsafah Jawa disebut “adhi” atau saudara muda. Adhi ari-ari ini juga implementasi dari prilaku baik dan buruk ayah dan ibu bagi si jabang bayi.

Getih/darah sama seperti halnya air ketuban, Getih juga menemani si bayi sejak dalam kandungan hingga proses kelahiran. Getih ini juga berada di dalam tubuh si bayi hingga dia dewasa.

Pusar/tali placenta tugasnya adalah memberi perhatian. Tali pusar seperti halnya ari-ari menemani sampai si jabang bayi lahir hingga usia tujuh hari yang akan secara alami mengering dan lepas dengan sendirinya. Proses lepasnya tali pusar dari bayi disebut  puput atau pupak.

Maka lengkaplah Sedulur Papat (empat saudara) Limo Pancer (yang kelima adalah diri kita sendiri sebagai pusat untuk bersatu) atau dalam bahasa Jawa nyawiji. Menjadi tunggal dalam perwujudan saya sebagai bentuk ciptaan dari Allah swt. Tugas sedulur papat meskipun telah usai namun pada hakekatnya keempat saudara tadi tidak hilang karena sudah menjadi wujud diri kita. Sedulur Papat tadi tetap menjadi bagian dari diri kita. Jika kita berperilaku benar kita akan mencapai maqom manusia yang sempurna atau insan kamil.

Kanjeng Sunan Kalijaga memberi nama Sedulur Papat tadi menjadi sedulur Aluamah, sedulur Supiyah, sedulur Amarah, dan sedulur Mutma’inah. Sama dengan yang telah diajarkan oleh Imam Ghozali memberi nama sedulur papat dengan istilah nafs.  Jika keempat sedulur tadi dekat dengan malaikat, maka prilaku diri kita (pancer) akan menjadi baik. Begitu pula sebaliknya. (red)

Artikel ini telah dibaca 10,515 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menuju Muktamar NU ke-35 Tahun 2026 : Paradigma Kepemimpinan “Digdaya” di Tengah Arus Geopolitik dan Disrupsi Global

30 April 2026 - 11:32 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

TEKS KHUTBAH JUM’AT: ISLAM MEMULIAKAN BURUH

29 April 2026 - 09:30 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Muslimat NU Jepara Perkuat Peran Perempuan Hingga Kesejahteraan Masyarakat

23 April 2026 - 21:46 WIB

Muslimat NU Jepara

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Ini Dampak Perda Miras dan Hiburan Malam Jika Diterapkan

22 April 2026 - 08:53 WIB

R.A. Kartini: Antara Modernitas dan Postmodernitas—Agama sebagai Spirit Pembebasan

22 April 2026 - 08:15 WIB

R.A Kartini

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bahtsul Masail