Menu ✖

Mode Gelap
Tingkatkan Pelayanan Wakaf, H. Hisyam Zamroni Raih Penghargaan PPAIW Produktif 2023–2026 dari Kemenag Jepara Menziarahi Makam KH Ahmad Fauzan, Menghidupkan Kembali Semangat Perjuangan NU Bedah Kerangka TKA 2026, Ratusan Guru KKMA 02 LP MÁARIF Jepara Lakukan Ini Notifikasi Hidayah: Mengapa Kita Hobi Berpaling dari Teguran Ilahi? Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

Opini · 14 Agu 2019 07:40 WIB ·

Mbah Moen Wali Ghouts


 Mbah Moen Wali Ghouts Perbesar

Oleh : Muhammad N. Faizin,
Jama’ah Majelis Soko Jeporo

Semalam dapat pencerahan menarik dari Gus Halimi Jombang, salah satu guru saya yang rutin setiap Selasa Kliwon, Majelis Soko Jeporo. Beberapa hal yang perlu saya tanyakan kepada beliau, yang kebetulan sangat dekat secara langsung juga secara ruhani dengan Mbah Moen. Saya menanyakan perihal kategori Wali apa beliau Simbah Maimoen Zubaer. Dan Gus Halimi menjawab, “Mbah Moen termasuk Wali Ghouts,” kata Gus Halimi.

Coba kita runtut apa definisi Wali al Ghouts, yakni Wali yang sangat paripurna, derajat yang tinggi. Ia memimpin dan menguasai para Wali di seluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang pada tiap masanya. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

Ada hikmah dan kesimpulan, bahwa Simbah Maimoen Zubair derajatnya adalah Wali Qutub al Ghouts pada zamannya dan (bahkan) lintas masanya sehingga beliau wafat, dan Wali yang menggantikan adalah Wali Al Ghouts berikutnya, yang menyesuaikan zamannya. Tentunya wali Ghouts bisa lebih modern dan lebih muda dari Mbah Moen. Siapa pun itu, semoga pengganti Mbah Moen pastinya mampu membimbing umat secara universal, bukan parsial seperti Mbah Maemoen.

Dalam dialog semalam seusai istighosah, ada kesimpulan hebat yang membuat saya terkesima. Bahwa Mbah Maimoen itu salah satu ulama’ yang ‘alim juga ahli hikmah yang istiqamah. Setiap zikir dan do’anya dampaknya sudah dirasakan meluas seantero dunia. Adapun ahli hikmah kelas paling rendah, zikir dan do’anya paling tidak bisa memberikan dampak pada umat yang berada di radius 200 m2 disekitar tempat ia berzikir dan berdo’a.

Sedikit mengutip dalil :
إذا مات العالم بكت عليه أهل السموات والأرض سبعين يوما

“Ketika seorang ‘Âlim wafat, semua penghuni langit dan bumi menangisi kepergiannya selama 70 hari”.

Itu benar dan bisa kita rasakan, sang Wali Ghouts itu Mbah Moen ketika “kapundut” membuat semesta alam turut bersedih atas kepergiannya di bumi ini. Kita bisa lihat bahwa langit Kota Makkah mendung dan hujan. Ketika tim medis dan dokter menyatakan meninggal pada pukul 04.17 WAS. Mendung dan hujan sejak subuh, mengiringi hingga proses pemakaman beliau di Jannatul Ma’la.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأحسن نزله وارض عنه
واجعل يا رب قبره مملوءا بنور وسرور وبهجة وحبور
اللهم أجرنا في مصيبتنا واخلف لنا خيرا منها. له الفاتحة.

Artikel ini telah dibaca 111 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”?

18 September 2026 - 10:45 WIB

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama ke – 35 : Membangun Visi Peradaban Dunia dan Menata Kekuatan Organisasi untuk Masa Depan

15 Juni 2026 - 09:49 WIB

H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu'biyyah Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara

Grebeg Spiritual: Merebut Kembali Kedaulatan Kesadaran

12 Juni 2026 - 13:04 WIB

Lampah Samarpan

Haul Mbah Datuk Gunardi: Tradisi Keagamaan yang Menguatkan Solidaritas Sosial dan Spiritual di Desa Singorojo

4 Februari 2026 - 11:37 WIB

The Root of The Peak dalam Konsep Keilmuan

7 Juni 2024 - 11:08 WIB

Akselerasi Khidmah NU dan Keberjamaahan

17 Februari 2023 - 05:47 WIB

Trending di Esai