Menu

Mode Gelap
Kepala Kemenag Jepara hingga Turis dari Kenya Kagumi Stand Gelar Karya Siswa MTs Sadamiyyah, Ini Alasannya Peneliti dan Akademisi dari Singapura Kunjungi MA NU Al-mustaqim, Beri Pesan Ini untuk Santri dan Pelajar NU – Muhammadiyah Jepara Siap Kawal Pilkada Berkualitas, Ini 6 Komitmen dan Seruan untuk Para Stakeholder MATAN: Oase Pergerakan Tasawuf Milenial Genjot Kualitas SDM, YPMNU Gelar Pembekalan untuk Pengurus, Guru PAUD & TPQ Muslimat NU Kecamatan Jepara

Headline · 8 Mei 2024 15:18 WIB ·

Mematahkan Stigma Keterbatasan dalam Kiprah Pemuda Pemudi Nahdliyin


 Mematahkan Stigma Keterbatasan dalam Kiprah Pemuda Pemudi Nahdliyin Perbesar

Oleh Rifka Nafilatun Nafichah

nujepara.or.id – Kiprah NU sudah tidak perlu dipertanyakan, semenjak pendiriannya pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344 H hingga saat ini NU memberikan banyak kontribusi pada kehidupan agama, sosial dan politik. Bahkan keberadaannya sering diboncengi oleh kepentingan politik yang tidak beretika. Nahdlatul Ulama’ adalah entitas yang melingkupi dan mengintervensi setiap dimensi kehidupan masyarakat Indonesia. Akankah kekuatan intervensi tersebut sudah diberdayakan oleh NU secara ideal?. Faktanya di Kabupaten Jepara tidak, dalam radius pemuda dan pemudinya (atau dikenal dengan sebutan rekan dan rekanitanya).

Melentingnya peran rekan dan rekanita NU dalam semua dimensi kehidupan tentunya menjadi perjalanan panjang dan teramat dinamis. Tidak cukup ditempuh dalam satu atau dua periode kepengurusan IPNU IPPNU. Tetapi, arah dan tujuan dalam menuju titik itu harus ditekankan. Penulis telah mengamati fenomena-fenomena di lapangan, menunjukkan bahwa optimisme pemuda dan pemudi nahdliyin Jepara belum terbentuk karena stigma tradisional yang menghambat tumbuhnya optimisme tersebut. Secara fundamental, NU merupakan organisasi Islam yang menjunjung nilai tradisional dan lokalitas kultur yang sangat erat. Sehingga nilai-nilai seperti tawadhu’, andap ashor, wong wadon manut wong lanang, dls melekat sangat erat di tubuh NU. Nilai-nilai itu adalah nilai kebaikan dan sangat mulia, tetapi kontekstual. Rekan dan rekanita hari ini belum lihai menempatkan nilai -nilai dan prinsip-prinsip tersebut dengan realitas yang ada. Tawadhu’ bukan berarti mengikuti arahan yang salah, andap ashor bukan berarti membiarkan ketertinggalan zaman karena takut melangkahi yang tua, perempuan harus tunduk pada laki-laki di tengah fakta bahwa perempuan lebih kompatibel dalam memimpin. Pertanyaannya adalah mengapa nilai-nilai NU yang mulia itu kerap kali menjadi alibi untuk ketidakmajuan.

Barangkali, fenomena itu adalah rasionalisasi atas stagnansi kiprah Rekan dan Rekanita IPNU IPPNU di Kabupaten Jepara. Kita tidak bisa melihat, berapa persen peranan IPNU IPPNU mendukung kualitas pendidikan Jepara atau berapa persen yang mampu merevitalisasi moral pemuda atau berapa persen yang terlibat dalam gelanggang teknokratik. Nyatanya persentase itu memang tidak terlihat bukan karena tidak terhitung. Lantas, bagaimana ke depannya? Ke depan adalah optimisme. Menjadi kabar baik bahwa hari ini sudah tumbuh optimisme kemajuan peradaban Kabupaten Jepara yang disongsong oleh Rekan dan Rekanita NU. Mereka yang disebut sebagai Rekan dan Rekanita, sebagian sudah menjadi embrio kemajuan. Harapannya, embrio itu berhasil ditumbuhkan dan disebarkan, lantaran pergerakan besar tidak akan pernah terbentuk tanpa kekuatan massa yang cukup.

Narasi yang dibawakan oleh penulis, terdengar normatif dan dipertanyakan implementasi praktisnya. Capaian besar yang penulis sebutkan ibarat ujung tangga, untuk mencapainya diperlukan proses menyelesaikan setiap anak tangganya. Artinya, capaian besar itu perlu dikonkretkan melalui capaian kecil yang terukur. IPNU dan IPPNU dapat memulainya melalui langkah mikro yang paling realistis dilakukan, yaitu optimalisasi program pembangunan kapasitas (capacity building) untuk penguatan internal dan mempersiapkan mentalitas serta kader-kader pembangunan yang kompeten secara intelektual, emosional dan spiritual. Barangkali hal ini sudah diupayakan namun ukuran dan target pencapaian harus diusahakan. Selain itu, tahap penguatan internal adalah tahap awal yang harus berlanjut, sehingga IPNU dan IPPNU harus menjadi entitas yang visioner melihat pergerakan selanjutnya. Gagasan Tuckman (1960) mengenai Tahap-Tahap Pembangunan Tim dapat diadaptasi dalam konteks kiprah IPNU IPPNU ke depan:

Forming adalah tahap pembentukan organisasi secara formal dan menjalankan program secara formalitas; Storming adalah tahap optimalisasi organisasi melalui capacity building dan metode-metode lain; Norming adalah tahapan dimana organisasi menemui masalah, kemunduran atau fenomena stagnansi sehingga menjadi trigger untuk memulai suatu tindakan visioner dan terukur; Performing adalah tahap dimana organisasi siap meluncurkan kadernya di lapangan untuk mencapai cita-cita; Adjourning merupakan tahap akhir dimana cita cita organisasi sudah tercapai dan organisasi membutuhkan tindakan maintenance suatu capaian tersebut. Posisi IPNU IPPNU Jepara saat ini berada di tahapan Storming dan mulai muncul gagasan menuju Norming. Apabila gagasan ini direspons sebagai input yang baik dan layak diterapkan, maka akan ada nyawa untuk mencapai tahap tahap lanjutannya.

Sekali lagi, optimisme itu akan berekspansi dari satu tahap ke tahap lainnya tidak dalam waktu singkat, membutuhkan banyak waktu, tenaga dan proses. Barangkali dibutuhkan tiga atau empat kali pengulangan percobaan di setiap tahapnya. Akan tetapi, apabila betul betul diasakan dengan komitmen dan integritas maka tidak mustahil dicapai. Suatu waktu, IPNU IPPNU menjadi ikatan pemuda pemudi nahdliyin yang memiliki power untuk mengintervensi sektor-sektor dalam kehidupan masyarakat.

Penulis: Rifka Nafilatun Nafichah, Duta Pelajar NU Jepara 2023-2025

Referensi:
Stein, Judith. Using the Stages of Team Development. MIT Human Resources.
Gumelar, Agung. 2023. Sejarah dan Wawasan Singkat Nahdlatul Ulama.

Artikel ini telah dibaca 107 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Ngaji Kitab Kifayatul Atqiya’: Menggapai Derajat Taqwa

24 Mei 2024 - 18:04 WIB

Pelantikan GP Ansor Pringtulis Jadi Momen Kebangkitan Pemuda

8 Mei 2024 - 14:16 WIB

Kartini dan Pergeseran Fashion Perempuan

23 April 2024 - 13:58 WIB

Kritis, Kelahiran Anak Muslim Indonesia Melambat

5 April 2024 - 16:10 WIB

Memaknai Mudik: Sebagai Tradisi dan Ajaran Silaturahmi

5 April 2024 - 12:54 WIB

Tidak Pandang Suku, Agama dan Ras, NUPB Jepara Siap Bantu Korban Bencana

31 Maret 2024 - 21:57 WIB

Trending di Headline