Sebuah Seni Menghilang (The Art of Fading) Setelah Memberi
Selama bulan Ramadan ini, beberapa kawan dan kerabat dekat “curhat” terkait persoalan pribadi, tentang anak, masalah pekerjaan, juga mengenai cashflow keuangan. Padahal yang dicurhati “sakjane” juga pingin curhat. Ahwal tersebut mengingatkan saya kepada kisah Nabi Musa yang mengakui kerentanannya di hadapan Tuhan yang terdeskripsikan dengan apik dalam surat Al-Qashash ayat 24.
فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰۤ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّی لِمَاۤ أَنزَلۡتَ إِلَیَّ مِنۡ خَیۡرࣲ فَقِیرࣱ
“Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.”
Banyak dari kita yang lelah bukan karena pekerjaannya, tapi karena menunggu balasan yang tak kunjung datang, “Saya sudah bantu dia, kok dia nggak balas?” atau “Kenapa kerja keras saya nggak dihargai?”. Kita menolong, lalu berdiri mematung di depan pintu orang tersebut, berharap setidaknya ada ucapan terima kasih atau pengakuan, validasi. Sebuah ikon acungan jempol. Padahal, rahasia ketenangan Nabi Musa AS terletak pada satu gerakan sederhana, yaitu “Menepi.”
Fasaqaa (Eksekusi)
Dia kerjakan tugasnya, dia bantu orang yang lemah. Totalitas tanpa tapi, nggak pakai drama. Membantu perempuan yang sedang antri nunggu giliran memberi minum ternak gembalanya.
Tawalla (Menepi)
Setelah selesai, dia langsung balik badan nggak “itung-itungan”. Dia cari pohon teduh (pohon Samurah-sejenis pohon berduri yang tumbuh di wilayah gurun, spesies Acacia etbaica atau Acacia tortilis), lalu duduk, tidak butuh panggung.
Faqir (Kosong)
Di bawah pohon itu, Nabi Musa mengaku “nol” di hadapan Tuhan. Dia lepaskan rasa “merasa berjasa”. Hasilnya? Bukan dia yang mengejar rezeki, tapi rezeki yang mengirimkan utusan untuk menjemputnya.
(Saat itu kondisi Nabi Musa belum merasakan makanan selama tujuh hari, dan perutnya terasa lengket di punggungnya, jadi ia mengisyaratkan untuk berdoa tetapi tidak secara eksplisit meminta apa pun).
Pesan untuk diri sendiri
Jangan biarkan kebaikanmu rusak karena egomu ingin diakui. Bantu saja, lalu hilangkan jejakmu, “it’s simple”. Biarkan Tuhan yang mencatat, dan biarkan Semesta yang mengirimkan balasan dengan caranya sendiri yang jauh lebih mewah.
Kosongkan hatimu dari harapan pada manusia, maka Tuhan akan mengisi hidupmu dengan kejutan yang tak masuk akal, “nggak dinyono”. Karena pada akhirnya, keberuntungan sejati hanya akan mengejar mereka yang berani mengakui bahwa mereka butuh cahaya-Nya.
رَبِّ إِنِّی لِمَاۤ أَنزَلۡتَ إِلَیَّ مِنۡ خَیۡرࣲ فَقِیرࣱ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.”
Sudahkah kita “menepi” hari ini?
Rabu, 11 Maret 2026
21 Ramadan 1447 H
@Ula – Loji Gunung Donoroso
Note
{ فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰۤ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّی لِمَاۤ أَنزَلۡتَ إِلَیَّ مِنۡ خَیۡرࣲ فَقِیرࣱ }
[Surat Al-Qashash: 24]