Oleh : H. Hisyam Zamroni
Pendahuluan
Tokoh Raden Ajeng Kartini sering kali direduksi menjadi simbol emansipasi perempuan yang normatif—terbatas pada akses pendidikan atau kebebasan domestik. Namun dalam perspektif cultural studies, Kartini justru menghadirkan proyek yang jauh lebih radikal: sebuah upaya dekonstruksi struktur budaya patriarkal Jawa, kolonialisme epistemik Barat, dan stagnasi pemahaman agama, sekaligus merumuskan ulang agama sebagai kekuatan pembebasan.
Dalam kerangka cultural studies, budaya bukan sekadar tradisi, melainkan arena pertarungan makna dan kekuasaan. Kartini memahami ini secara intuitif. Ia melihat adat Jawa bukan sebagai warisan sakral yang tak tersentuh, melainkan sebagai sistem yang bisa menindas, terutama perempuan.
Dalam salah satu suratnya, ia menulis:
“Kami di sini terkurung oleh adat istiadat yang tidak memberi kami kesempatan untuk berkembang.”¹
Kalimat ini bukan sekadar keluhan personal, melainkan kritik terhadap hegemoni budaya—konsep yang kemudian hari dipopulerkan oleh Antonio Gramsci. Kartini membaca bahwa dominasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan, tetapi melalui normalisasi nilai-nilai yang dianggap “kodrat”.
Agama sebagai Problem dan Harapan
Menariknya, Kartini tidak berhenti pada kritik budaya. Ia juga mengkritik praktik keberagamaan yang membatasi akal dan kebebasan manusia. Namun kritiknya bukanlah penolakan terhadap agama, melainkan terhadap cara agama dipraktikkan secara dogmatis.
Ia menulis dengan kegelisahan mendalam:
“Agama seharusnya membawa terang, bukan menambah kegelapan.”²
Di siniterlihat bahwa Kartini memisahkan antara esensi spiritual agama dan institusionalisasi agama. Dalam perspektif cultural studies, ini adalah upaya membongkar konstruksi makna agama yang telah dibakukan oleh otoritas sosial.
Namun Kartini tidak berhenti pada dekonstruksi. Ia juga menawarkan rekonstruksi: agama sebagai kekuatan etis dan spiritual untuk membebaskan manusia.
Spiritualitas sebagai Energi Emansipasi
Bagi Kartini, agama bukanlah alat kontrol, melainkan sumber energi untuk kemajuan. Ia merindukan pemahaman agama yang rasional, manusiawi, dan membebaskan:
“Aku ingin mengenal agama yang mengajarkan cinta kasih, bukan ketakutan.”³
Pernyataan ini sangat relevan dengan pendekatan cultural studies yang melihat agama sebagai praktik kultural yang terus dinegosiasikan. Kartini menolak agama yang membungkam perempuan, dan justru mengimajinasikan agama sebagai ruang pembebasan—sebuah visi yang melampaui zamannya.
Dalam konteks kolonial, gagasan ini bahkan lebih radikal. Kartini tidak hanya melawan patriarki lokal, tetapi juga dominasi epistemik Barat yang sering memosisikan Timur sebagai “terbelakang”. Ia berada di antara dua dunia, dan dari posisi itu ia membangun sintesis baru: modernitas yang berakar pada spiritualitas.
Menyentuh Hati: Pergulatan Batin Kartini
Apa yang membuat Kartini begitu kuat bukan hanya pikirannya, tetapi pergulatan batinnya. Ia hidup dalam kontradiksi: antara kewajiban sebagai perempuan Jawa dan hasrat untuk merdeka.
Dalam salah satu surat paling menyentuh, ia menulis:
“Hatiku menangis melihat nasib perempuan di sekitarku, tetapi aku pun tak berdaya sepenuhnya.”⁴
Kalimat ini menunjukkan bahwa emansipasi bukanlah perjalanan yang mudah atau linear. Ia penuh luka, keraguan, dan pengorbanan. Kartini tidak berbicara dari posisi bebas, tetapi dari dalam keterbatasan—dan justru di situlah kekuatan moralnya.
Relevansi Kontemporer: Agama sebagai Jalan Pembebasan
Hari ini, pemikiran Kartini tetap relevan. Banyak masyarakat masih terjebak dalam pemahaman agama yang kaku dan membatasi. Kartini mengajarkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber keberanian untuk berpikir, bukan alasan untuk berhenti berpikir.
Dalam perspektif cultural studies, ini berarti membuka ruang tafsir, mengakui pluralitas makna, dan menempatkan manusia sebagai subjek aktif dalam memahami agamanya.
Kartini mengajak kita untuk melihat agama bukan sebagai tembok, tetapi sebagai jendela—yang membuka cakrawala menuju keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.
Catatan Kaki
- Habis Gelap Terbitlah Terang, surat kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899.
- Ibid.
- Ibid., surat kepada Abendanon, 1902.
- Ibid., surat kepada Rosa Abendanon, 1901.
H. Hisyam Zamroni : Sekretaris Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah Kab. Jepara