Menu

Mode Gelap
Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat Rehat Sejenak : Tentang Pulang dan Bekal yang Kita Bawa UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

Kabar · 28 Apr 2016 16:45 WIB ·

Meniru Dakwah Rasul, Rais MWC NU Keling Punya Murid Muallaf Banyak


 Meniru Dakwah Rasul, Rais MWC NU Keling Punya Murid Muallaf Banyak Perbesar

IMG_2243

Kiai Ali Murtadlo


KELING – Menjadi ketua MWC NU Kecamatan Keling Jepara punya tugas lebih dibanding kecamatan lain di Kabupaten Jepara. Selain medan dakwah yang mayoritas berupa gunung, warganya juga memeluk beragam keyakinan.
Dari 12 kelurahan di Keling hanya 30 persen yang berupa daratan. Pun demikian, agama yang dipeluk bukan hanya Islam. Ada Nasrani dan Budha dengan rumah ibadah masing-masing yang megah. Bahkan, Vihara terbesar di negeri ini, ada di Keling. Hal itu dituturkan oleh Kiai Ali Murtadlo (38), Rais Syuriah NU Kec. Keling di tengah ia menjalankan tugas ngaji dan dakwah di Desa Damarwulan, Jumat (22/04/2016) siang.
Kiai alumnus Pesantren Salafiyah, Kajen, Pati ini juga menjelaskan cara koordinasi antar pengurus ranting NU. “Karena jarak yang jauh, terjal, naik-turun, kami harus yang turun langsung ke bawah,” paparnya.
Kiai Murtadlo juga menjelaskan, untuk acara ngaji, ia tidak membuat majelis pengajian dekat rumah sebagaimana dilakukan pengasuh pesantren. Dakwah di Keling harus door to door. Turun langsung ke lapangan. Masjid Al-Iman di Medono, Damarwulan, jadi salah satu lokasi pilihannya menyampaikan ajaran Islam.
Dua kali tiap selapan (35 hari), Kiai Murtadlo punya jadwal ngaji di sana. Kitab yang dibaca adalah Kifayatul Ahyar dan Mauidloh Lil Mu’minin. Dua judul itu dipilih karena lebih fleksibel diterapkan untuk masyarakat yang plural. “Kitab itu pas untuk masyarakat sini,” ujarnya.
Cara penyampainnya pun tidak terkesan mengajak. Narasi-narasi dakwah yang digunakan tidak puritan dan mudah mengafirkan orang lain. Ini semata-mata demi kepentingan umum yang lebih luas.
“Saya menggunakan cara dakwah yang santun, meniru akhlaq rasul. Misalnya, ketika membahas soal najis anjing, saya tidak langsung ke hukumnya. Tapi caranya menghormati tetangga. Saya justru menerangkan keharaman menyakiti tetangga walaupun anjing mereka mengotori halaman rumah. Anjing itu makhluk tanpa akal, jadi anjingnya tidak perlu diusir,” tandas Kiai Murtadlo.
Tidak seperti daerah lain. Anjing di daerah Medono dan Ngipik memang sering berkeliaran di jalan-jalan umum. Bahkan di halaman masjid . Jika cara dakwahnya tidak menggunakan akhlak rasul, hal kecil itu akan mengganggu kerukunan umat beragama.
Berkah dakwah ala Rasul itu, alhamdulillah selama menjadi Rais Syuriah MWC NU Keling, ada 37 orang yang tertarik menjadi muallaf. Semuanya berasal dari Desa Ngipik, Medono, Kunir dan Ndodol.
Mereka inilah yang setiap selapan dua kali diajari shalat oleh Kiai Murtadlo. Selain itu, mereka juga diwulang fikih dan ke-NU-an. Kini, ada 13 titik yang rutin didatangi Kiai Murtadlo untuk mulang ngaji. (abd)

Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Ramadhan: Menuju Titik Nol (Suwung)

19 Maret 2026 - 20:22 WIB

Menuju Puncak Ramadhan

Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

19 Maret 2026 - 08:46 WIB

Rau Launching Mobil Layanan Ummat

Muncul Wacana Lebaran Bareng, Ini Sikap PBNU: Hilal Belum Penuhi Syarat

18 Maret 2026 - 13:46 WIB

ILUSTRASI Rukyatul Hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 H

Netra Kasunyatan, Rahasia Mata Batin Menavigasi Hidup di Balik Cahaya dan Kekosongan

18 Maret 2026 - 11:50 WIB

ILUSTRASI Netra Kasunyatan

Lampah Samarpan, Teknik Final Menyambut Malam Anugerah 1000 Bulan

18 Maret 2026 - 11:36 WIB

Lampah Samarpan

UNISNU Perkuat Wawasan Global Mahasiswa lewat Guest Lecture bersama Akademisi Skotlandia dan Irlandia

16 Maret 2026 - 19:11 WIB

Trending di Kabar