Menu

Mode Gelap
UNISNU Gelar Wisuda ke-26, Abbas dan Areeya asal Thailand Turut di Wisuda Membaca “Tanda Tangan” Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan “Nora Mambu Janma: Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga Bahtsul Masail Jepara: Hukum Perda Miras dan Hiburan Malam, serta Kritik Matan Hadits yang Berselisih Fakta

Kabar · 21 Jul 2018 17:14 WIB ·

Ulil Abshar Abdalla: Ihya, Wasilah Menjaga NKRI


 Ulil Abshar Abdalla: Ihya, Wasilah Menjaga NKRI Perbesar

KH Ulil Abshar Abdalla, pengasuh ngaji Kopdar Ihya Ulumiddin saat
hadir di Pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara, Jumat (20/7/2018)
malam menyatakan bahwa dengan Ihya merupakan wasilah untuk menjaga
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena negara ini memiliki
ciri khas Islam moderat.
Hal itu diuraikannya saat mengawali ngaji di hadapan ratusan peserta
kopdar. Bukti jika Ihya bisa membawa, menjaga, dan merawat negara kata
Gus Ulil sudah dikaji berabad-abad.
“Kita harus bangga menjadi bagian dari Islam yang sudah berabad-abad
ngaji Ihya. Dan yang ngaji tidak hanya di Jawa tapi di seluruh dunia,”
katanya di Rumah Joglo, kediaman KH Nuruddin Amin, kompleks pesantren
Hasyim Asyari ini.
Suami dari Ienas Tsuroiya yang malam itu mendaras bab fadilah khusnul
khuluk (akhlak terpuji) dan suul khuluk (akhlak tercela) menambahkan
lahirnya kitab Ihya karya Imam Ghazali di era Daulat Abbasiyah.
Dipaparkannya di era Abbasiyah tersebut hendak merevolusi Daulat
Umawiyah,”semangat agamanya membara tetapi esensinya kosong,” jelasnya
kepada hadirin.
Nah, masih menurut menantu dari KH Mustofa Bisri sang Imam dalam
keadaan stres (galau, red.). Alhasil Ghazali yang saat itu masih
menjabat kepala madrasah Nizamiyah harus melakukan tindakan
revolusioner dengan meninggalkan Bagdad.
Sang hujjatul Islam yang berusia sekira 46 tahun melakukan uzlah di
Syam, Baitul Maqdis maupun di lokasi yang lain sebagai respon kepada
masyarakat Bagdad yang spiritualnya sedang tidak beres. Sehingga kitab
tersebut dinamakan Ihya Ulumiddin, menghidupkan agama-agama.
Dalam kopdar yang dihadiri Dandim Jepara, pengurus PCNU, Banom,
Lembaga dan MWCNU Bangsri itu, perwakilan Lakpesdam PCNU Jepara,
Kunjariyanto mengemukakan bahwasanya realitas di medsos sekarang ini
dipenuhi dengan caci maki dan hinaan yang tiada henti.
Sehingga dengan ngaji merupakan filter untuk menata hati menjadi baik.
“Tujuan kegiatan ini selain untuk wahana silaturrahim juga agar kita
semakin tercerahkan,” terangnya mewakili ketua Lakpesdam PCNU Jepara.
Sahibul bait, pengasuh Pesantren Hasyim Asyari, Hj. Hindun Anisah
berharap dengan kopdar tersebut bisa bermanfaat untuk warga NU Jepara
khususnya dan umumnya bangsa Indonesia. (ip)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

UNISNU Gelar Wisuda ke-26, Abbas dan Areeya asal Thailand Turut di Wisuda

17 April 2026 - 10:11 WIB

Membaca “Tanda Tangan” Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian

16 April 2026 - 17:17 WIB

ILUSTRASI Membaca "Tanda Tangan" Semesta: Seni Menjemput Kepastian di Tengah Ketidakpastian

Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan

16 April 2026 - 17:10 WIB

ILUSTRASI Mengalir Tanpa Batas: Mengubah Mentalitas Ember Menjadi Pipa Kelimpahan

“Nora Mambu Janma: Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga

16 April 2026 - 14:50 WIB

ILUSTRASI Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga

Melampaui Kerumunan: Seni Melepaskan Beban Masa Lalu

16 April 2026 - 14:42 WIB

ILUSTRASI Melampaui Kerumunan: Seni Melepaskan Beban Masa Lalu

Bahtsul Masail Jepara: Hukum Perda Miras dan Hiburan Malam, serta Kritik Matan Hadits yang Berselisih Fakta

15 April 2026 - 12:23 WIB

Trending di Bahtsul Masail