Menu

Mode Gelap
Kita Semua Ada di Sini, Dan Kita Tidak Hadir Bupati Apresiasi UNISNU International Forum, Dorong Kolaborasi Pentahelix untuk Pariwisata Berkelanjutan Manifesto Pemberontakan Batin: Membunuh Robot di Dalam Jiwa Festival Kenduri Tani, Wujud Syukur Petani Desa Telukawur Menjaga Tradisi Rau Launching Mobil Layanan Ummat, Perkuat Kepedulian Sosial

Hujjah Aswaja · 26 Sep 2023 01:15 WIB ·

Ngaji Thematik Maulid : Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW dan “Interpersonal Care”


 Ngaji Thematik Maulid : Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW dan “Interpersonal Care” Perbesar

Oleh : Kiai Hisyam Zamroni

nujepara.or.id – Agama, disamping dipahami melalui teks wahyu, juga bisa dipahami melalui prilaku sosial pemeluk-pemeluknya. sebagaimana al Qur’an menggambarkannya;

“Laqod kana lakum fi Rosulillahi uswatun hasanatun…. Ila akhirihi”

Prilaku keberagamaan seseorang menjadi penting sebagai “tanda” mencari “sisik melik” sebuah “definisi” agama bahkan menjadi “tanda” apakah agama tersebut mampu menjawab tantangan dan problematika sosial, hukum, ekonomi, politik dan lain lain yang perkembangannya sangat pesat.

Sejarah telah membuktikan bahwa “agama” di satu sisi bisa menjadi “pengekang” kemajuan, di sisi lain “agama” mampu mendorong menjadi sebuah kekuatan inovasi dan pengembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Nah, sekarang bisa dilihat, banyaknya orang memahami agama justru “mundur” jauh ke belakang yaitu mundur ke masa “pra-agama” yang “gelap-gulita” sehingga kembali menjadi manusia manusia “primitif” yang kemudian seakan akan itu adalah sebagai “ajaran agama” yaitu menafikan relasi sosial yang santun, lembut dan menafikan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Olehnya, konsep “uswatun hasanah” yang menjadi ciri “interpersonal care” Kanjeng Nabi Muhammad Rosulillah SAW menjadi penting dalam rangka melihat secara utuh bahwa “pribadi” yang mempunyai keteladanan baik berupa prilaku sosial yang baik, prestasi, inovasi dan kreatifitas yang didalam al Qur’an disebut “amal sholih”, “ahsanu amala” dan “ahsanu taqwim” menjadi salah satu nilai dan gambaran bahwa “agama” tidak menjadikan manusia stagnan, jumud atau “mabni” melainkan menjadikan manusia berkembang dan berubah, responsif dan maju atau “mu’rob”.

Hal yang penting dipahami sekarang ini bahwa orang menilai dan mendefinisikan “agama” boleh jadi salah satu yang menjadi sampel dan tolok ukurnya adalah pada pola pikir dan prilaku orang orang beragama dalam kehidupannya sehari hari.

Semoga Gusti Allah SWT menganugrahkan kepada diri kita prilaku prilaku yang baik dan terbaik untuk kemanfaatan bagi sesama. Aamiin Aamiin Aamiin.

Artikel ini telah dibaca 65 kali

Baca Lainnya

I’tikaf: Puncak Isolasi Suci dan Seni Memeluk Tuhan di Bulan Ramadhan

14 Maret 2026 - 07:00 WIB

Iktikaf

Iedul Fitri dan Manifesto Perdamaian Global: Transformasi Kasih Sayang Menjadi Aksi Universal

12 Maret 2026 - 12:22 WIB

Ilustrasi idulfitri

Iedul Fitri Sebagai Moment Untuk Mendorong Terwujudnya Perdamaian Global

12 Maret 2026 - 09:36 WIB

Ilustrasi khutbah Idulfitri

Menjemput Cahaya di Penghujung Ramadan: Lelaku Spiritual Sepuluh Hari Terakhir (Maleman)

10 Maret 2026 - 07:39 WIB

Ilustrasi Lailatul Qodar

Menjadi Bait Al-Qur’an yang Tak Pernah Usai – Sebuah Refleksi Puisi Hati

9 Maret 2026 - 10:00 WIB

Al Qur'an

Ngaji Tematik Ramadhan, Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma: Menguji Autentisitas Spiritual Gen Z

27 Februari 2026 - 04:02 WIB

Ramadhan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma: Menguji Autentisitas Spiritual Gen Z
Trending di Hujjah Aswaja