Menu

Mode Gelap
Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”? YAPTINU Jepara Serahkan Enam Mobil Baru untuk Mendukung Operasional UNISNU UNISNU Jepara Resmikan Gedung Pascasarjana Kampus 2, Perkuat Infrastruktur Pendidikan Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I

Hujjah Aswaja · 15 Jul 2022 02:06 WIB ·

Haji dan Perjumpaan Manusia se-Jagad 


 Haji dan Perjumpaan Manusia se-Jagad  Perbesar

Oleh : Ustadz Hisyam Zamroni*

nujepara.or.id – Makkah adalah fenemona. Makkah menjadi ikon dunia lantaran manusia se-jagad berkumpul dengan satu rasa yaitu sebagai “hamba” yang  terlepas dari identitas suku, bangsa, negara dan beragam latar belakang lainnya. 

Saya bertemu dengan beberapa intelektual dunia di pelataran harom seperti Doktor Ibrohim (ahli hukum islam dari Iran, Doktor Muhammad dan lainnya). Kami berdiskusi banyak tentang hukum Islam dan multikultural.

Selain perjumpaan itu, saya sebenarnya juga diundang menjadi pembicara tentang toleransi beragama oleh para intelektual dunia. Namun karena saat kegiatan itu dihelat itu ada  jamaah haji asal Jepara yang meninggal dunia yakni Rois Syuriah NU Ranting Bulungan Jepara KH Mohammad Rodli Tamim Al Hafidz maka saya izin dan urung menghadiri undangan tersebut.

Terlepas dari itu, berkumpulnya banyak orang se-jagad menjadikan “ibroh” bahwa Makkah dengan ritual hajinya merupakan moment agung perjumpaan beragam suku, bangsa, negara dan beragam latar belakang lainnya yang terikat dalam satu spiritualitas  yaitu “penghambaan paripurna”. 

Manusia yang awalnya satu, lalu berkembang. Terdiri dari jenis laki laki dan perempuan yang berinteraksi satu sama lain hingga akhirnya menjadi bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan bernegara tanpa sekat. Sehingga mestinya tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi satu dari lainnya, kecuali sama-sama melaksanakan “penghambaan paripurna” sebagai makhluq yang tunduk patuh kepada Sang Kholiq. 

Prosesi “penghambaan paripurna” ini disimbolkan oleh berpakaian dua helai kain putih  yang sama. Apakah ia pejabat tinggi, buruh, maupun rakyat jelata berpakaian sama. Hubungan lintas sosial dan budaya yang sedemikian dasyatnya dalam ritual haji ini memberikan “semangat baru” bahwa seharusnya di mana pun dan kapan pun manusia berada,  harus mampu memanusiakan manusia. 

Proses memanusiakan manusia inilah inti dari tujuan ritual haji sehingga mendapatkan predikat haji mabrur. Kemabruran haji seseorang ditentukan oleh kesadaran seseorang dalam memahami dan mempraktikkan sifat altruisme atawa peduli  kepada orang lain. Jadi tidak semata-mata hanya sekadar melaksanakan rukun, wajib atau sunnah haji saja.

Semoga para jamaah haji pada tahun 2022 ini diberikan predikat oleh Gusti Allah SWT menjadi haji mabrur… Aamiin Aamiin Aamiin.

* Wakil Ketua PCNU Jepara

Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Menilik Gapura Mantingan, Jejak Akulturasi Budaya Islam dan Jawa Kuno

18 September 2026 - 11:38 WIB

PPG Tambah Program, FTIK UNISNU Jepara Submit Proposal Bidang Studi PGSD

18 September 2026 - 11:00 WIB

Mau Sampai Kapan Ikut “Zaman Edan”?

18 September 2026 - 10:45 WIB

YAPTINU Jepara Serahkan Enam Mobil Baru untuk Mendukung Operasional UNISNU

18 September 2026 - 10:23 WIB

UNISNU Jepara Resmikan Gedung Pascasarjana Kampus 2, Perkuat Infrastruktur Pendidikan

18 September 2026 - 10:15 WIB

Panggung Sandiwara Kehidupan: Di Mana Akhir Perburuan Kita?

15 September 2026 - 21:34 WIB

Trending di Kabar