Menu

Mode Gelap
R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya Bahtsul Masail Tingkat Jateng Segera Digelar, Ini Materi Asilah yang akan Dibahas

Hujjah Aswaja · 11 Jul 2022 15:56 WIB ·

Lestarikan Tradisi, Warga Desa Bandungrejo Sambut Hari Raya dengan Festival Oncor


 Lestarikan Tradisi, Warga Desa Bandungrejo Sambut Hari Raya dengan Festival Oncor Perbesar

nujepara.or.id – Masyarakat Desa Bandungrejo, Kalinyamatan Jepara menyambut malam Idul Adha dengan menggelar Festival Oncor.

Kegiatan yang diikuti oleh warga desa Bandungrejo dari berbagai umur ini sebagai sarana merawat kearifan lokal dengan budaya yang ada di Jepara.

Ketua Panitia acara, Roikhatul Hiramah mengatakan mengatakan setidaknya sudah dua tahun kegiatan takbir keliling ini tidak digelar karena pandemi Covid-19. Kegiatan yang diinisiasi oleh IPNU IPPNU Desa Bandungrejo ini mengusung tema Festival Oncor Kalinyamatan (FOKA).

Festival Oncor kali ini diikuti kurang lebih 500 peserta dari 17 Dukuh di Desa Bandungrejo. Dengan berbagai model dan kreativitas yang dibuat oleh anak muda di sana, festival oncor berhasil menarik perhatian ribuan masyarakat sekitar.

“Festival Oncor ini untuk menyambut Hari Raya Idul Adha, sekaligus sebagai cara kami untuk mensyiarkan agama Islam ke masyarakat dengan kumandang takbir,” katanya pada Sabtu (9/7/2022).

Lebih lanjut Roikhatul menjelaskan, para peserta festival oncor akan melakukan takbir keliling dengan mengelilingi desa Bandungrejo. Dulunya, festival ini hanya diikuti oleh anak sekolah dan pemuda IPNU IPPNU Bandungrejo sejak tahun 1980-an secara sederhana dengan membawa obor.

“Kalau sekarang lebih ramai, karena bisa menggaet banyak anak muda di desa,” terangnya.

Festival Oncor inj juga sebagai ajang perlombaan, dengan kriteria penilaian berupa tingkat kreativitas, kekompakan dan semangat mengumandangkan takbir dapat memenangkan perlombaan.

“Tak hanya itu, juga ada kategori penilaian dengan peserta terunik, terfavorit dan terheboh,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari kelompok Mushola Al-Amin, Fiki Nafilah mengaku senang dapat memeriahkan acara festival Oncor tahun ini. Dia berharap festival ini dapat dapat menambah kekompakan dan kerukunan warga desa Bandungrejo di setiap dukuh.

“Bagus si ada kegiatan seperti ini, jadi bisa merekatkan antar dukuh, kegiatan ini juga bisa jadi sarana untuk nguri-nguri budaya yang ada,” ungkap Fiki. “Selain itu juga bisa sebagai sarana melestarikan budaya lokal di desa Bandungrejo,” imbuhnya. (sim)

Artikel ini telah dibaca 124 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bahtsul Masail PWNU Jateng: Menimbang Perda Miras, Maslahah atau Mafsadah?

21 April 2026 - 17:01 WIB

R.A. Kartini dalam Perspektif Cultural Studies: Agama sebagai Spirit Emansipasi dan Kesadaran Kultural

21 April 2026 - 15:51 WIB

H. Hisyam Zamroni

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

21 April 2026 - 13:45 WIB

Debugging Nasib: Navigasi Sistemik dari Titik Nol Menuju Kedaulatan

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

21 April 2026 - 13:37 WIB

Hari Kartini, YPMNU Jepara Gelar Workshop Kurikulum Maritim

Pembukaan Bahtsul Masail PWNU Jateng, Rais Syuriah: Agendakan Rutin

20 April 2026 - 15:02 WIB

R.A. Kartini dalam Perspektif Postkolonial: Reinterpretasi Agama, Budaya, dan Emansipasi Perempuan melalui Tulisan Tulisannya

19 April 2026 - 18:37 WIB

Trending di Gayeng