Menu

Mode Gelap
KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian” Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa Fatayat Batealit Dorong UMKM Naik Kelas Guru: Antara Profesi dan Tuntunan 

Opini · 24 Jan 2020 00:54 WIB ·

Manusia Martabat, Manfaat, dan Beriktikad


 Manusia Martabat, Manfaat, dan Beriktikad Perbesar

Oleh : Muhammad Miqdad Sya’roni, Alumni Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu Jepara

Kehidupan ini ada berbagai jenis manusia yang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang suka A, suka C, suka M, dan lainnya. Melihat manusia yang beragam setidaknya kita jangan membuat sama semuanya, tapi bagaimana kita bisa menyikapi dan beradaptasi atas keberagaman tersebut.

Jaga Lisan, Jaga Perkataan
Setiap manusia bisa berbicara apa pun. Selama ia bisa berbicara, andai dia bisu mungkin bisa melalui tulisan atau isyarat. Tapi jagalah lisan anda saat berucap, karena apa yang sudah dikatakan oleh lisan takkan bisa ditarik kembali. Berhati-hatilah, lisan ini sangat tajam, bisa jadi perkataan dan lisan Anda akan menjadi bumerang baginya.

Ingat ada pepatah, “Mulutmu Harimaumu”. Ini juga berlaku berhati-hati dengan jarimu juga, karena terkadang kita sering mengumpat kebencian di media sosial hanya berbekal 2 hari jempol bisa mengakibatkan fitnah dan marabahaya lainnya, jika kita tidak bisa menggunakan dengan baik.

Jaga Sikap Sopan
Sopan santun terhadap siapa pun ini mutlak, karena ini bentuk penghormatan. Jika sopan santun ini di tempatkan, maka ini merupakan sikap hormat kepada manusia itu sendiri. Manusia itu terhormat, kadang menjadi terhina karena sikap manusia itu sendiri. Jagalah sikap sopan, jika ingin hidup Anda mapan.

Jika anda tak sopan, jangan harap hidupmu akan nyaman. Berlaku sopan terhadap siapa pun, sesama manusia, dan makhluk hidup selainnya. Yang terpenting jika kita berlaku sopan terhadap orang tua, ini mutlak. Karena orang tua adalah suatu jalan kerelaan (ridha) untuk kita hidup di dunia hingga kelak di akhirat.

Jaga Etika Pergaulan ke Sesama
Manusia merupakan makhluk sosial, pastinya ia akan mencari manusia yang lain untuk bergaul. Akan ada interaksi dan komunikasi di antaranya, dan ini yang paling penting, etika pergaulan. Di saat proses interaksi dan komunikasi antar manusia kita kedepankan etika (akhlak), jangan mengedepankan egosentris maupun sikap aku paling bisa, kamu itu apa, itu pastinya akan menghambat interaksi dan komunikasinya. Karena manusia paling tidak suka kalau diremehkan pastinya ia akan membuat cara bagaimana bisa membalas meremehkan. Lha ini lho, jangan sampai kita saling balas membalas hanya gara-gara demikian.

Jagalah sikap Anda, ber-etikalah baik kepada siapa pun, bergaulah kepada siapa pun, tapi jangan gunakan egomu demi harapanmu saja.

Selama kita bisa memberi kebaikan, kenapa harus dilempar keburukan. Selama kita bisa menghormati, kenapa harus membenci. Selama kita bisa menghargai, kenapa kita menonjolkan diri. Selama kita bisa berkata jujur, kenapa harus mengumbar kebohongan yang teratur.

Semoga kita selamat, karena manusia adalah makhluk yang bermartabat untuk manfaat di masyarakat. (*)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Hari Santri Nasional Dan Pembangunan Peradaban

24 Oktober 2022 - 04:21 WIB

Shiddiqiyah : Thoriqoh Yang Mu’tabar (otoritatif) ataukah yang “nrecel” (Keluar Jalur) ?

15 Juli 2022 - 07:58 WIB

Jepara, Investasi Agrobisnis dan Jihad Pertanian NU

30 Mei 2022 - 02:50 WIB

Santri dan Filologi Islam Nusantara

25 April 2022 - 03:21 WIB

Mengurai Kontroversi Zakat Fitrah dengan Uang

25 April 2022 - 03:14 WIB

Belajar Natas-Nitis-Netes dari Puasa

1 April 2022 - 08:35 WIB

Trending di Opini
%d blogger menyukai ini: