Menu

Mode Gelap
KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian” Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa Fatayat Batealit Dorong UMKM Naik Kelas Guru: Antara Profesi dan Tuntunan 

Kabar · 22 Agu 2022 09:46 WIB ·

Mbah Dullah, Ulama’ Pejuang Melawan Penjajah dan Penggerak NU Pancur Mayong Jepara


 Mbah Dullah, Ulama’ Pejuang Melawan Penjajah dan Penggerak NU Pancur Mayong Jepara Perbesar

Oleh: Miqdad Sya’roni*

nujepara.or.id – KH. Abdullah Abdul Ghoni begitu nama lengkapnya. Lahir sekitar tahun 1890-an di Desa Pancur Kecamatan Mayong Jepara. Mbah Dullah (sapaan akrab KH Abdullah Abdul Ghoni) merupakan salah satu ulama yang ikut berjuang dalam rangka melawan penjajah dan juga penggerak jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Desa Pancur. 

Mbah Dullah wafat pada tanggal 21 Muharram 1396 H sekitar tahun 1974 Masehi. Tahun ini haul ke 48 dihauli pada hari Jum’at Pahing 21 Muharram 1444 atau bertepatan dengan 19 Agustus 2022.
Semoga kita bisa meniru dan meneladani jejak perjuangan para ulama kita sehingga kita mendapatkan keberkahan dari beliau-beliau, berkah dunia dan akhirat. Aamin YRA.

Tulisan ini disadur dari cerita KH. Muhammad Tahrir Nawawi, salah satu cucu dari Mbah Dullah. Menurut KH. Muhammad Tahrir Nawawi, kakeknya memang aktif berjuang selama perang kemerdekaan. Saat perang melawan penjajah, Mbah Dullah bergabung ke Hizbullah dan PETA. Mbah Dullah kerap diincar antek-antek penjajah namun selalu lolos dan selamat.
Seperti apa ceritanya?

  1. “Dibantu” Ular yang Melilit Antek Penjajah

KIsah ini diceritakan oleh  putra-putra Mbah Dullah. Cerita ini juga bersumber langsung dari Mbah Dullah. Suatu waktu Mbah Dullah didatangi antek-antek penjajah dan akan ditangkap. Tapi karena Mbah Dullah sudah tahu, akhirnya beliau mengasingkan diri ke rumah Mbah Ngaripan di Dukuh Serut. Beliau singgah beberapa hari di rumah Mbah Ngaripan. Namun upaya itu terendus antek-antek penjajah. Akhirnya antek-antek penjajah menyerbu rumah Mbah Ngaripan.
Mereka sudah bersiap siaga mau menangkap Mbah Dullah, tapi saat mau ditangkap tiba-tiba para penjajah Belanda tersebut dililit ular dan akhirnya Mbah Dullah meloloskan diri dan melanjutkan perjalanan menuju ke Serni.

Serni  merupakan salah satu dukuh yang ada di Desa Bategede Kecamatan Nalumsari Jepara. Di Serni di daerah pegunungan lereng Gunung Muria, Mbah Dullah singgah beberapa hari di Makam Mbah Surgi Malik yang masih kakek buyutnya. Setelah dari Serni kemudian meneruskan perjalanannya menuju ke Kota Kudus. 
Namun baru sampai di desa Gebog, Mbah Dullah tertangkap oleh penjajah kemudian ditahan beberapa hari. Tapi ada kejadian aneh, salah satu komandan (pimpinan tentara) yang baru datang dari perjalanan dinasnya malah memerintahkan anak buahnya supaya Mbah Dullah dibebaskan.

Setelah dibebaskan Mbah Dullah meneruskan perjalanan ke Kota Kudus, namun ketika di tengah perjalanan sudah mendekati kota Kudus, Mbah Dullah akan melaksanakan sholat di sebuah tempat, ada tentara lagi sehingga akhirnya ditangkap lagi oleh orang yang tidak dikenal.
Pada saat Mbah Dulloh akan dimasukkan ke sel penjara, atas berkat pertolongan Alloh SWT, tentara yang telah menangkap Mbah Dullah tadi didatangi oleh orang yang sangat besar (gagah dan kekar badannya) yang tidak diketahui datangnya. Tentara tadi diuncalno sak adoh-adohe (dibuang sejauh-jauhnya.red) oleh orang besar tadi sehingga akhirnya Mbah Dullah bisa lolos dan melanjutkan ke Kota Kudus.

Demi menyelamatkan diri dari kejaran tentara penjajah, Mbah Dullah rela untuk naik turun gunung seorang diri tanpa pengawalan. Beliau jalan kaki dan tanpa bekal. Padahal kondisinya saat itu masih sangat sepi, “Gung Liwang Liwung” istilah Jawanya dan belum banyak kampung.

  1. Bertemu Mbah KH. R. Asnawi dan Mbah Irsyad

Mbah Dullah singgah di Kudus kulon tepatnya di Desa Damaran hingga sekitar lima bulan lamanya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Mbah Dullah untuk menemui para ulama di Kudus, bertemu dengan KH.R.Asnawi (Pendiri dan Penggerak NU). Bertemu dengan KH.Irsyad Kudus dan sesepuh ulama lainnya, ini sekaligus dalam rangka untuk menambah ilmu agama dan ngaji kepada ulama tersebut.

  1. Mendirikan dan Menggerakkan Jam’iyyah NU di Pancur

Sekitar tahun 1934 Pengurus Ranting NU Pancur didirikan, setelah saran dari para ulama dan Kiai, khususnya atas saran dari KH. M.Fauzan Jepara yang saat itu menjadi pengurus NU Jepara, ditunjuklah waktu itu KH. Abdullah Abdul Ghoni sebagai Rois Syuriah Ranting Pancur dan KH. Ridwan sebagai Ketua Tanfidziyah. 

Ketika mendirikan Ranting NU Pancur,  KH. Abdulloh selalu berkonsultasi dengan KH. Sholeh (ayah KH.Muhtadi, KH.Yasin) yang pada waktu itu KH.Sholeh masih berdomisili di Desa Pule sampai akhirnya pindah di desa Gleget Mayong. Saat itu KH. Sholeh memegang NU Mayong.

Hingga wafat, Mbah Dullah selalu eksis di organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Putra beliau K. Ahmad Rodli dipondokkan ke Tebuireng Jombang, asuhan Hadrotussyeh KH. Hasyim Asy’ari. Sedang putranya yang lain yakni K. Ahmad Hambali dipondokkan di Bendan Kudus asuhan KH. R. Asnawi Kudus.

Apa saja pesan dari Mbah Dullah untuk putranya dan generasi setelahnya?

“Nek Awakmu Pernah Ngerasaake Kepiye Larane Lan Rekasane Dijajah Deneng Bongso Liyo (Asing), Mesti Awakmu Biso Menghargai Setiap Getih Seng Diteteske Deneng Poro Pejuang Kemerdekaan Indonesia.”
(Jika Kamu Pernah Merasakan Sakit dan Sulitnya Dijajah Oleh Bangsa Lain (Asing),  Pasti Kamu Akan Bisa Menghargai Setiap Darah Yang Diteteskan Oleh Para Penjuang Kemerdekaan Indonesia).

*Disadur dari cerita KH. Muhammad Tahrir Nawawi

Artikel ini telah dibaca 169 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

YPM NU Jepara Berhasil Borong Tropy dalam Ajang Festival Aswaja Tingkat Provinsi

5 Desember 2022 - 12:02 WIB

Peduli Cianjur, Pengurus Ranting NU Tahunan Galang Dana untuk Korban Gempa

4 Desember 2022 - 11:53 WIB

Rakernas Lesbumi NU Ke-V, Ketum PBNU: Mari Membangun Narasi sebagai Strategi

3 Desember 2022 - 03:33 WIB

KH Ma’mun Adullah Hadziq Didorong Masuk Dewan Pembina RSI Sultan Hadlirin

1 Desember 2022 - 04:27 WIB

Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta (baju putih) berbincang dengan salah seorang pasien yang berobat di RSI Sultan Hadlirin, Rabu (30/11/2022).

Wisuda UNISNU, Pesan Rais Aam PBNU : “Masa Depan NU Ada Di tangan Kalian”

30 November 2022 - 03:08 WIB

Riwayat Pesisir Utara, Pusat Penyebaran Islam di Pulau Jawa

29 November 2022 - 00:16 WIB

Kota Pelabuhan Jepara tahun 1600-an (Sumber KITLV)
Trending di Islam Nusantara
%d blogger menyukai ini: