Menu

Mode Gelap
UNISNU Jepara 35 Tahun: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global 35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu? Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

Kabar · 15 Sep 2019 14:55 WIB ·

Mengapa Nabi Muhammad Tidak Mengajarkan Bersalaman Usai Shalat? Ini Penjelasan Gus Nadhif


 Mengapa Nabi Muhammad Tidak Mengajarkan Bersalaman Usai Shalat? Ini Penjelasan Gus Nadhif Perbesar

Gus Nadhif beri ceramah jamaah Pengajian Rolasan Desa Bangsri. (Foto: Sirojul Akwan Family)

nujepara.or.id – Rasulullah saw hingga wafat belum pernah mengajarkan kepada para sahabat untuk melanggengkan bersalaman usai shalat. Pernyataan itu diuraikan KH Ahmad Nadhif Abdul Mudjib dalam Pengajian Rolasan Desa/ Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara yang berlangsung di RW.06 Desa Bangsri, Kamis (12/9/2019) kemarin.

Namun kata Gus Nadhif begitu kiai itu akrab disapa, bagi umat Islam di Indonesia tradisi bersalaman setelah shalat masih lestari hingga kini.

Menurut kiai muda asal Pati, Jawa Tengah itu mengungkapkan alasan Nabi tidak menganjurkan bersalaman karena para sahabat adalah manusia-manusia yang cerdas.

“Bukti kalau sahabat cerdas al-qur’an yang tidak ada titik, harakat, dan tasdidnya saat itu bisa dibaca mereka. Itu bukti sahabat kecerdasan sahabat,” terangnya kepada ratusan jamaah pengajian.

Semakin ke sini (zaman sekarang, red.) jika orang membaca al-qur’an tanpa titik, harakat, dan tasdid niscaya banyak orang yang tak sanggup membacanya. Makanya, lanjut Pengasuh Pesantren Nahdlatut Thalibin Tayu, Pati itu seorang sahabat yang bernama Abul Aswad Adduali ialah yang kali pertama memberikan harakat pada al-qur’an.

“Makanya Anda yang mondok harus berbangga. Sepandai-pandainya orang masih pandai adalah anak pesantren yang bisa baca kitab tanpa harakat bukan ustad medsos,” tegas Gus Nadhif.

Kepada jamaah pengajian yang dari santri pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri ia mengajak mereka agar semangat mondok. “Semangat mondok ya! Sampai tua ya!” seloroh Gus Nadhif.

Alasan kedua, lanjut Instruktur Nasional PP GP Ansor itu menambahkan mereka (sahabat, red.) tidak perlu bersalaman sudah rukun meski hanya dengan melihat akhlaknya Nabi Muhamnad saw.

Nah, kini tradisi bersalaman masih eksis sampai sekarang terang Wakil Sekretaris LBM PBNU itu agar satu sama lain tidak saling berseteru.

Di akhir ceramahnya, Gus Nadhif melantunkan penggalan shalawat Asnawiyah. “Aman aman aman Indonesia raya aman. Amin amin amin ya rabbi rabbal alamin. Amin amin amin fayamujibassairin.” (ip)

Artikel ini telah dibaca 81 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

Ketika Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Engkau Menaruh Hatimu?

23 Juli 2026 - 22:56 WIB

ILUSTRASI kecemasan manusia

Fenomena “Raan”: Apakah Kebiasaan Kita Hari Ini Sedang Menghancurkan Masa Depan yang Kita Impikan?

23 Juli 2026 - 22:48 WIB

ILUSTRASI gadget menjadi "berhala" baru manusia modern

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

15 Juli 2026 - 13:21 WIB

Berhenti Menebak, Mulai Membumi: Navigasi Jiwa di Era Post-Truth

Penghulu di Jateng Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah

15 Juli 2026 - 12:31 WIB

Didorong Jadi Penulis dan Pendokumentasi Peristiwa Nikah
Trending di Kabar