Menu

Mode Gelap
Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I Maulid Nabi Muhammad SAW: Tauhid, Islam Transformatif, dan Ilmu Sosial Profetik Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

Kabar · 16 Apr 2026 14:50 WIB ·

“Nora Mambu Janma: Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga


 ILUSTRASI Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga Perbesar

ILUSTRASI Ketika Jempol Lebih Sibuk dari Telinga

NU JEPARA- Ada sebuah “kejahatan sunyi” yang kerap kita lakukan di ruang-ruang pertemuan: kita duduk bersama, namun hati kita bertamu ke tempat lain melalui bilah layar kaca di genggaman. Kita sering merasa sedang “multitasking”, namun dalam kacamata ilmu luhung, kita sebenarnya sedang “Mingkar-mingkur ing angkara”, berkelit dari tanggung jawab menghargai sesama demi memuaskan nafsu digital kita sendiri.

Sri Susuhunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh bahkan memberikan vonis yang sangat dingin:

“Yen ana guneman nora miyarsakaken puniku, yekti nora mambu janma.” Siapa pun yang mengabaikan orang yang sedang berbicara demi layar di tangannya, sesungguhnya ia sedang kehilangan “bau” kemanusiaannya. Ia kehilangan Sasmita. Ia hadir sebagai raga, namun absen sebagai jiwa. Ia menganggap pesan di WA lebih bernyawa daripada manusia yang sedang membagi nafas pikiran di hadapannya.

Dahulu, para leluhur mengajarkan bahwa menghormati orang bicara adalah menjaga “Sasmita”. Tatapan mata adalah tali batin yang menghubungkan rasa. Saat tali itu kita putus demi sebuah notifikasi, kita sebenarnya sedang berkata bahwa manusia di depan kita tidak lebih berharga dari sekadar data digital. Kita kehilangan martabat justru saat kita merasa paling “terhubung” dengan dunia luar.

Kita sering lupa bahwa pertemuan adalah sebuah “Ritual Waringin”. Pembicara sedang menanam pohon gagasan, dan kita hadir untuk memberi keteduhan melalui perhatian. Namun, saat mata kita beralih ke layar, kita sedang menebang pohon itu sebelum ia sempat berdaun. Tatapan mata adalah tali batin yang menghubungkan rasa. Saat tali itu kita putus demi sebuah notifikasi, kita sebenarnya sedang merendahkan martabat kita sendiri.

Mari kita kembalikan kehormatan meja pertemuan. Simpanlah “kaca” itu, tegakkan kembali “Janur” (Sejatining Nur; Cahaya Sejati yang menuntun arah) kesadaran kita. Biarkan mata bertemu mata, rasa beradu rasa. Sebab, sepahit apa pun pembicaraan, ia jauh lebih mulia daripada kemanisan semu yang ditawarkan layar saat kita sedang mengabaikan sesama manusia.

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang mahir menatap layar, namun buta saat menatap jiwa.

Note:
“Sasmita Kelir” (Screen Awareness): Sebelum tangan menyentuh HP, aktifkan interupsi diri: “Apakah pesan ini lebih berharga daripada manusia yang sedang membagikan nyawanya (pikirannya) di depanku?”

@Ula | Loji Gunung Donoroso

Artikel ini telah dibaca 40 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Ditandai Pelantikan Pengurus Ranting NU Sekuro I

26 Agustus 2026 - 21:58 WIB

Menagih Janji Cinta Nabi: Membumikan Akhlak di Bulan Maulid

16 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Ula | Loji Gunung Donoroso

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi ‘Mesuh Sarira’ dalam Falsafah Jawa

16 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Menara Tinggi, Hati yang Sepi: Konsekuensi 'Mesuh Sarira' dalam Falsafah Jawa

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

11 Agustus 2026 - 06:07 WIB

Merawat Basa, Menguatkan Kader” PC IPNU IPPNU Jepara Gelar Sekolah MC Basa Jawa

35 Tahun UNISNU Jepara: Merawat Warisan Peradaban, Menjemput Masa Depan Global

3 Agustus 2026 - 21:41 WIB

Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Jepara H. Hisyam Zamroni

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara

3 Agustus 2026 - 13:50 WIB

DAFTAR Sembilan Ranting NU se-Batealit yang Dilantik, Ini Pesan Rais Syuriah PCNU Jepara
Trending di Kabar